Setelah Hari Jomblo, Saatnya Revolusi Asmara

Setelah Hari Jomblo, Saatnya Revolusi Asmara

Ilustrasi (localfoodshift.pub)

Di Tiongkok, setiap 11 November diperingati sebagai Single’s Day atau Guanggun Jie atau sebut saja Hari Jomblo. Sebagian media bahkan mengabarkan bahwa tanggal tersebut adalah Hari Jomblo Internasional.

Dari berbagai sumber yang saya baca, empat angka ‘1’ pada 11 November belakangan juga dianggap sebagai simbol ‘tunggal’. Dan, tanggal 11-11 seolah menjadi momen aliansi para jomblo.

Hari Jomblo di Tiongkok bermula pada tahun 1993, ketika empat mahasiswa di Universitas Nanjing (semuanya jomblo) saling curhat, betapa sulit mendapatkan pacar. Curhatan itu lalu menghasilkan gagasan untuk mengorganisir beberapa kegiatan pada 11 November.

Puluhan tahun berlalu, kemudian kegiatan itu berganti menjadi festival di kalangan anak muda Tiongkok. Tapi, salah satu hal yang tidak bisa saya terima mengenai Hari Jomblo, sekalipun ini sebuah perayaan yang menghibur, jomblo justru dimanfaatkan oleh para pemilik modal.

Pada 11 November 2017, toko belanja online raksasa Alibaba berhasil mencetak rekor penjualan sebesar US$ 25,3 miliar dari Hari Jomblo. Jika dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 333 triliun!

Dengan uang sebanyak itu, kaum jomblo bisa melancarkan sebuah revolusi asmara. Bersatu dan membentuk sebuah partai juga bukan hal yang mustahil.

Namun, sebelum mewujudkan cita-cita besar nan mulia macam revolusi asmara, kesadaran atas stigma ‘diri yang merasa sepi’ harus terlebih dahulu dilakukan. Olok-olok tidak malam mingguan bersama pacar pun harus terus dilawan, jangan diam saja.

Sebagai contoh kasus, mengacu pada sebuah video yang beredar di lini masa Twitter. Video yang diunggah oleh akun @arhamrsalan pada 7 November 2017 pukul 04:59 PM itu muncul di lini masa akun saya.

Video tersebut telah dipotong dari aslinya, bukan lagi 1 menit, melainkan berdurasi 45 detik. Sebuah video yang mengundang rasa haru, karena isinya tidak lain adalah suara sumbang seorang cewek yang tidak terima diputusin.

Sampai tulisan ini saya ketik, video di akun dengan 17 ribu followers Twitter itu telah mencapai 949 retweets dan 399 likes. Saat saya telusuri sendiri dari cewek yang tidak terima diputusin itu, lewat akun instagramnya @deviianggiita, ternyata telah dilihat sebanyak 380,716 kali.

Beberapa hari lalu, saya coba konfirmasi ke Devi. Pengikutnya juga baru sekitar 3.000-an. Tapi sampai tulisan ini saya ketik, akun instagramnya sudah mempunyai 46,4 ribu followers. Devi yang jomblo lantas menjadi selebgram dadakan.

Ada beberapa video yang diunggah oleh Devi di akun instagram miliknya. Saya coba membuat transkrip video Devi yang diunggah oleh @arhamrsalan di Twitter, tapi versi utuh 1 menit:

Buat elo Dio…

Kalau misalkan elo mau putus dari gue, elo ngomong dong. “Deb, elo ternyata boros ama duit.Nah gue kan bisa mikir tuh.., bisa ubah sikap gue jadi yang lebih baik lagi atau enggak.

Deb lu sikapnye ubah dong, enggak pakaiannye enggak seronok-seronok gitu.Ya gue bisa lah make kerudung buat lo demi lo, enggak main putus-putus aje.

Elu kira gampang mutusin orang. Elu kira apa namanye, gimana ye, elu mah gampang enak mutusin gue lah guenye kalau misalkan gak terima gimane?

Karena gue udeh ngeperjuangin lo.., demi.., demi ape namanye mati-matian lah istilahnye, gak ada gue ada-adain.

Elu liat Najib yang bermotor.., ganteng, oke. Kalau misalkan namanye setia die gue salut banget, setianye die, gak ditanya deh pokoknye. Elu apaan? Motor gak punya, duit gak ada, gue kelaperan, nit.

Sebagai pengagum Young Lex, Devi sungguh maklum penggunaan kata-kata kaum barbar. Ia tetap tidak terima diputusin dan siapa yang tak suka dengannya, ia ajak ribut.

Perlawanan diputusin secara sepihak benar-benar dilakukannya setiap hari, kendatipun lewat dunia maya. Bahkan, label ‘kids jaman now’ yang sempat ramai itu sangat tidak cocok disematkan kepada Devi.

Jomblo yang mendadak jadi selebgram tersebut justru mewakili dari banyak jomblo kelas akar rumput. Devi dan sikap kejombloannya seharusnya layak diapresiasi, saya kira.

Karena itu, Indonesia tidak perlu ikut-ikutan Hari Jomblo Internasional. Dan, tidak perlu ada hari jomblo di Indonesia, sebab di sini setiap hari adalah hari jomblo.

Cara Devi memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang jomblo adalah upaya perwujudan alinea empat pembukaan UUD 1945. “Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Lagipula, perlakuan terhadap jomblo pada umumnya hanya menyenangkan mereka yang berpasangan, yang utama ya para pemilik modal.

Kalaupun perlu ada, kaum jomblo atas kehendak bebasnya berdiri di depan Istana Negara setiap Kamis, menagih janji pemerintah dalam penuntasan kasus kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM).

Dengan begitu, revolusi asmara lambat laun akan tercapai. Penegakan HAM versi anak muda kiwari, Hak Asasi Mantan, kelak juga patut diapresiasi.

Tidak akan ada lagi keributan mengembalikan barang pemberian mantan. Tidak akan ada lagi galau berkepanjangan, apalagi terus memikirkan mantan yang meminjam uang saat masih menjadi pacar dan tak tahu malu.

Dan, tidak akan ada lagi rasa malu karena sendiri di malam minggu. Tidak perlu merengek pada negara atas diskriminasi yang kerap diterima.

Karena pacar itu fana. Begitulah… Risiko jatuh cinta ya sakit, tapi tetap saja rasanya nikmat. Jangan terlena!