Hari Buku Nasional yang Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya!

Hari Buku Nasional yang Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya!

library.bc.edu

Artikel Elvan De Porres di Voxpop berjudul “Keceriaan Dunia Sophie dan Muramnya Hari Buku Nasional” menggelitik saya untuk ikut nimbrung menyikapi Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei. Tapi, sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin sejenak mengajak pembaca untuk meresapi kata-kata ini:

Karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya.

Karena setiap aksara membuka jendela dunia.

Kata demi kata mengantarkan fantasi.

Habis sudah, habis sudah.

Bait demi bait pemicu anestesi.

Hangus sudah, hangus sudah.

Itu adalah sepenggal lirik lagu berjudul ‘Jangan Bakar Buku’ ciptaan Efek Rumah Kaca, grup musik indie asal Jakarta. Lagu tersebut menggambarkan situasi tragis pemusnahan terhadap aksara.

Bangsa ini mempunyai sejarah kelam tentang pemberangusan bahkan pembakaran buku. Atau, kalau meminjam istilahnya Rebbeca Knuth, seorang profesor di Universitas Hawaii, tindakan itu bisa digolongkan sebagai librisida atau pembunuhan terhadap buku.

Sekilas, mendengar kata librisida, memang agak mirip dengan genosida. Kalau librisida itu korbannya buku, kalau genosida adalah suku bangsa, etnis, ataupun kelompok tertentu. Tapi librisida dan genosida sama-sama bernarasi soal pembantaian secara massal.

Sebagian dari kita tentu tidak setuju terjadinya pemberangusan, apalagi librisida, meskipun buku-buku ilmiah tersebut dicap berbau “kiri” secara sepihak. Sebab, dalam konteks ilmu pengetahuan, seharusnya tidak menjadi persoalan apakah itu kiri, kanan, tengah, atau yang tidak belok ke mana-mana.

Tapi, mimpi buruk itu mendatangi kembali negeri ini. Justru saat kita tengah bersiap merayakan Hari Buku Nasional ke-36, yang jatuh pada 17 Mei 2016. Belakangan terjadi penyitaan buku-buku, yang belum terbukti apakah benar-benar mengajarkan Marxisme/Komunisme/Leninisme atau tidak. Beberapa toko buku besar bahkan sudah menghentikan penjualan buku-buku yang katanya “kiri” tersebut.

Buku-buku itu dianggap sebagai buku mantra yang bisa membangkitkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dari kuburnya. Selain buku, sempat terjadi juga penahanan terhadap penjual kaos grup musik luar negeri yang menampilkan logo palu arit, orang yang memakai kaos Pecinta Kopi Indonesia, serta pembubaran diskusi dan nobar film dokumenter.

Tapi kenapa yang dikejar itu penjual kaos? Penjual buku? Dan, kalau benar sudah muncul partai atau organisasi komunis yang baru, kok sejauh ini tidak pernah terdengar ada penangkapan para pemimpinnya? Atau ini, seperti biasanya, hanya pengalihan isu? Pengalihan isu apa? Yang pasti, bukan pengalihan isu kemarahan bu Veronica kepada pak Ahok, karena welfie melulu sama Dian Sastro.

Dan, parahnya, sebuah lembaga resmi milik pemerintah bernama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) ikut mendukung pemberangusan buku-buku “kiri”. “Zaman Orde Baru buku-buku itu dilarang untuk diedarkan. Untuk baca, harus ada izin kejaksaan,” ucap Plt Ketua Perpusnas, Dedi Junaedi.

Pak Dedi yang terhormat sepertinya tergolong orang yang ‘tak penting banyak kenalan, yang penting banyak kenangan’. Masih gagal move on dari mantan. Ini eranya orang bikin tempe di luar angkasa, mosok masih ributin genjer. Masih senang manja-manjaan sama (orde) babe?

Kalau lembaga sekelas Perpusnas saja begitu, maka semakin muram lah perayaan Hari Buku Nasional tahun ini. Padahal, Hari Buku Nasional itu ada, karena bertepatan dengan pendirian Perpusnas pada 17 Mei 1980.

Bapak pasti tahu Library of Congress? Sebuah perpustakaan di Washington DC, Amerika? Perpustakaan yang didirikan pada tahun 1800 itu mengoleksi sebanyak 30 juta buku dari segala macam disiplin ilmu dan ideologi. Berapa banyak buku yang ada di Perpusnas? Sekitar 2,5 juta buku?

Tapi pasti ada yang nyinyir, “Terang saja lebih banyak, wong usianya lebih tua.” Baiklah kalau begitu. Ada yang tahu German National Library di Frankfurt, Jerman? Perpustakaan itu didirikan pada 1990, masih lebih dulu Perpusnas pada 1980. Sekarang berapa koleksi buku di German National Library? Sudah mencapai 18,5 juta buku.

Koleksi buku di German National Library bahkan juga lebih banyak dibanding British Library di London, Inggris, yang menyimpan sebanyak 16 juta buku. Padahal, British Library berdiri sejak 1753, jauh lebih dulu dibanding German National Library atau bahkan Library of Congress di Amerika.

Lalu kita lihat, bagaimana tingkat literasi di negara-negara tersebut. Berdasarkan hasil penelitian The World’s Most Literate Nations (WMLN), Amerika, Jerman, dan Inggris masuk dalam daftar 20 negara dengan tingkat literasi paling tinggi di dunia. Lantas, bagaimana kondisi ekonomi dan masyarakatnya? Maju ya?

Sekarang giliran kita tengok negeri sendiri. Masih dari hasil penelitian WMLN, minat baca orang Indonesia berada di peringkat 60 dari total 61 negara. Indonesia hanya satu peringkat di atas Botswana. Sementara Singapura berada di posisi 36, Malaysia di peringkat 52, sedangkan Thailand di posisi 59.

Selain WMLN, Unesco juga punya penelitian. Tahun lalu, dari 1000 penduduk Indonesia, hanya 1 orang saja yang rajin baca buku. Dan, rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia dalam setahun hanya satu buku saja! Bandingkan dengan penduduk di negara-negara Barat atau negara Asia Timur seperti Jepang yang bisa membaca 10-30 buku setahun. Lantas, bagaimana kondisi ekonomi dan masyarakat Indonesia? Maju juga kan?

Saya bukanlah seorang Marxis, Sosialis, apalagi Komunis. Tapi, sebagai warga negara Indonesia yang memiliki minat di dunia keliterasian, hati saya tercabik-cabik. Mungkin ada yang bilang, “Peduli amat sih sama buku kiri, masih banyak buku lain yang lebih bermanfaat.” Baiklah, kalau begitu, sekarang kita ganti kata “kiri” menjadi “kanan”, “tengah”, atau apa-apalah itu.

Ini bukan soal belok mana atau lurus ke depan saja. Pemberangusan buku-buku bisa menyebabkan kebodohan massal. Bodoh kok rame-rame? Nggak asyik. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Kau ini terpelajar, jadi ajaklah bangsamu untuk menjadi terpelajar sepertimu, Minke. Kalau bangsamu itu sudah terpelajar, itu artinya mereka bakal siap untuk menyikapi perubahan. Siap untuk apapun. Mereka tak akan dapat dimanfaatkan siapapun.”

Saya pun merasa terharu dengan apa yang dilakukan Ridwan Sururi, pencipta perpustakaan keliling dengan kuda atau disebut Kuda Pustaka di Purbalingga. Sebuah kegiatan yang inspiratif dan revolusioner dari seorang pejuang keliterasian di garis depan.

Pak Ridwan mencoba untuk menumbuhkan minat baca warga di sekitar tempat tinggalnya. Beliau biasa berkeliling dengan kudanya yang mengangkut buku-buku, lalu berkeliling menjemput warga yang ingin membaca. Negara sudah sepatutnya hadir bersama pak Ridwan.

Mari kita rayakan Hari Buku Nasional sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!