Hanya Terjadi di NKRI: ‘Tahu Bulat Ramadhan’ dan 5 Fenomena di Sekitarnya

Hanya Terjadi di NKRI: ‘Tahu Bulat Ramadhan’ dan 5 Fenomena di Sekitarnya

kiraitomy.wordpress.com

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sakral. Saking sakralnya, ada yang berubah menjadi suci dalam sebulan. Membahas hal-hal berbau agama. Berpakaian syar’i. Kalau perlu yang ada stempel halal. Ibarat tahu bulat yang digoreng dadakan, mereka pun demikian. Tapi setelah Lebaran, ya balik lagi. Berbuat dosa, misuh sana-sini. Namanya juga manusia. Tak luput dari dosa. Halah…

Saat bulan puasa pula, ada hal-hal yang tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya. Bukan, bukan soal lontong, gorengan, atau es timun suri yang juga tersaji dadakan kayak tahu bulat. Bukan pula masjid, mushola, atau langgar yang mendadak lebih penuh dibanding biasanya, tapi kehadiran ustadz dan ustadzah musiman yang tiba-tiba menghiasi layar kaca kita.

Saya menyebut itu sebagai peristiwa “mendadak religius”. Memang salah? Lho jelas tidak. Siapalah saya ini yang bisa begitu lancang menilai bahwa perbuatan orang lain itu salah atau tidak. Saya bukan orang yang tahu bulat segalanya, yang bisa mengkafirkan orang lain atau menafsirkan buku ‘Das Kapital’ sebagai kitab suci kapitalisme. Bukan.

Saya hanya ingin berbagi hal-hal menarik di bulan puasa yang penuh rahmat dan ampunan ini. Selain fenomena ‘tahu bulat’ yang digemari umat, beberapa fenomena menarik lainnya juga merebak saat bulan puasa. Merebak seperti lontong, gorengan, dan timun suri yang menasbihkan diri sebagai takjil pemersatu umat. Tentunya ini hanya terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mari kita kunyah simak fenomena tersebut:

1. Kampanye sirup yang terstruktur, sistematis, dan masif

Media adalah penguasa opini. Media bisa menggiring opini sebegitu mudahnya. Ingat bagaimana mereka yang pro-Jokowi hanya mentelengi Metro TV. Sedangkan yang anti-Jokowi dan mendaku dirinya sebagai sahabat Prabowo, hanya ndelongop melihat TV One.

Orang Indonesia lebih menyukai duduk di depan televisi daripada membaca buku. Makanya jangan heran kalau banyak yang tahu secara utuh cerita Uttaran daripada isi dari buku ‘Das Kapital’ yang katanya buku kapitalis. Seringnya kita menonton televisi membuat berbagai produk masuk dan ngiklan di televisi. Dan, saat puasa, tak ada yang bisa menandingi iklan sirup. Iklan sirup saat puasa ibarat sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji’. Tak ada matinya.

Kalau saja iklan sirup tersebut memiliki mars khusus, plus modelnya Baim Wong sama Chelsea Islan, saya yakin, kita akan lebih hapal mars sirup Marijan daripada Mars Perindo. Mars Perindo dengan Pak Hary Tanoe dan istrinya tak bisa menandingi Mars Marijan dengan Baim Wong dan Chelsea Islan. Hidup Chelsea! Keep The Blue Flag Flying High!

2. Perdebatan warung makanan

Saat puasa, perdebatan yang paling menyita waktu dan cukup untuk ngabuburit adalah tentang boleh atau tidaknya rumah makan atau warung makanan buka pada pagi atau siang. Saya kira, saat Indonesia sedang ramai isu komunis dan PKI yang konon katanya bakal kembali bangkit, perdebatan tentang warung makan akan hilang. Heladalah, ternyata enggak.

Orang kita ini kreatif. Tapi, aktor-aktornya pun tidak jauh beda dari sebelumnya. Kelompoknya juga ya itu-itu saja. Kalau bukan JIL ya ITJ. Pendapat yang dipakai juga itu-itu saja. Yang pro membuka warung, pasti membawa quote terkenal dari Gus Dur, “Jika kita muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.”

Ini menjadi landasan mereka yang menolak warung untuk ditutup. Yang menolak warung dibuka, pasti pendapatnya karena Islam adalah agama mayoritas di Indonesia. Sudah selayaknya yang minoritas menghormati yang mayoritas. Lah, saya kok mulai bosan ya. Mbok cari argumentasi yang lain kek.

Mungkin kelean yang memperdebatkan ini perlu berguru ke bapak-bapak dan ibu-ibu di Senayan yang tukang ngeles itu. Ngeles apa? Bahasa Arab? Inggris? Bukan, ngelestarikan titik-titik. Isi sendiri ya, saya nggak mau terjerumus ghibah. Pahala puasa saya bisa berkurang. Sudah mendadak religius, dapet pahalanya sedikit lagi. Lebih baik saya jadi pancasilais dadakan. Bisa teriak-teriak seenaknya, “Anda itu sudah difoto dan direkam!”

3. Buka bersama

Salah satu kegiatan yang paling “ngeselin” menurut saya adalah buka bersama. Bukan karena tidak ada yang ngajak. Ngaco kelean. Jelek-jelek gini, ada yang ngajak buka bersama. Tapi mosok bukber datangnya tak kenal waktu. Setiap minggu gitu? Saya ini masih mahasiswa. Pemasukan hanya dari kirim naskah ke Voxpop. Buka bersama ya sewajarnya saja. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Yang ngeselin kalau ada yang berpendapat bahwa banyak atau tidaknya ikut bukber adalah tanda jumlah temanmu. Ini argumen paling absurd yang pernah saya dengar. Saya bisiki mulutmu, eh kupingmu. Tidak ada urusan antara jumlah teman atau tidak dengan diajak atau tidak bukber. Lha, kalau teman-teman saya sedang sibuk merantau semua, aku kudu piye? Nggak penting punya banyak kenalan, yang penting punya banyak kenangan. Halah…

4. Sahur on The Road

Jangan diartikan SoTR sebagai makan sahur di jalanan ya. Kalau di Gresik, kalian bisa mati ditabrak truk-truk besar yang lalu lalang dan merusak jalan serta menimbulkan keresahan warga. Sahur on The Road adalah istilah untuk berbagi kepada orang-orang yang tidak mampu agar bisa merasakan kenikmatan makan sahur. Sungguh, itu sebuah ibadah yang sangat mulia.

Saya sendiri tak tahu siapa yang mempopulerkan istilah itu. Kalau bisa kalimatnya diganti supaya Indonesia banget. Mosok pakai Bahasa Inggris yang jelas-jelas bahasa orang kafir dan liberal. Liberal = komunis (sambil bawa spanduk). Usul saya, bagaimana diganti dengan istilah Sahur Bareng atau Sahur Bersama *isi nama lembaga*. Misalnya Sahur Bersama Voxpop. Kan kece…

5. Ngabuburit

Jujur saja, awalnya saya juga tidak tahu asal kata ngabuburit darimana. Sampai akhirnya saya bertanya ke mbah Google. Ngabuburit berasal dari kata Sunda yang artinya waktu di sore hari atau menunggu datangnya waktu maghrib atau matahari terbenam. Kalau ada salah, mohon dikoreksi. Saya menemukan definisi itu di Google. Sebab, keluarga saya semuanya Jawa, jadi saya tak bisa bertanya langsung.

Istilah ngabuburit itu sebenarnya apik, gaes. Serius. Tapi, tanpa disadari, kegiatan apapun yang kalian lakukan menjelang maghrib, itu dihitung sebagai ngabuburit. Mau kerja kek, mau makan dulu di warung, ngopi, kalau itu dilakukan sambil menunggu maghrib ya namanya ngabuburit.

Yang kampret kalau ada yang tidur habis subuh dan bangun jam 9 pagi. Lalu dia mau pergi jalan-jalan. Alasannya ngabuburit. Woiii… itu maghrib masih 9 jam lagi. Mau nunggu maghrib atau nunggu ajal? Tapi ya terserah. Mau ngabuburit jam 7 pagi kek atau jam 5 subuh pun bebas. Asal tidak ngabuburit sambil makan nasi rawon, lalu balik ke rumah dan ngaku puasa.

Jadi bagaimana gaes… Mau ngabuburit sekarang?