Hakikat Mudik Adalah Rumah. Bukan Motel, Hotel, apalagi Resor

Hakikat Mudik Adalah Rumah. Bukan Motel, Hotel, apalagi Resor

mobilmo.com

Agaknya kita sudah maklum, jika semuanya mendadak religius selama bulan Ramadhan. Mulai dari pemain sinetron yang tiba-tiba bergaun syar’i, artis cengengesan yang mengumandangkan adzan maghrib begitu khusyuk, sampai iklan sirup yang seolah menjadi penegak ukhuwah Islamiyah.

Bagaimana tidak, iklan sirup itu menyuguhkan keluarga muslim bahagia yang selalu tampak rukun saat beradu di meja makan, sambil mengangkat gelas sirup tinggi-tinggi. Seandainya segelas sirup mampu menjadi juru damai dalam konflik keluarga, saya rasa hakim pengadilan agama menganggur sudah.

Tapi bukan itu yang bikin saya gemas, melainkan iklan oleh salah satu situs layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel ternama. Situs travel berlogo burung perkutut itu sebetulnya telah banyak diimani oleh para traveller, backpacker, termasuk mahasiswa minim piknik seperti saya.

Situs yang juga berwujud aplikasi tersebut bagai membimbing saya ke jalan terang. Hanya dengan beberapa sentuhan di layar, ia begitu banyak memberi tawaran. Pemesanan tiket pesawat begitu mudah, meski serba dadakan. Bisa terbang ke kota sang pacar, ketika bendungan rindu ini jebol sudah. Demi keberlangsungan Long Distance Rela dikibulinship Relationship.

See..! Segala tawaran serta kemudahan yang diusung oleh situs tersebut seolah membangun kepercayaan kepada para penggunanya. Ditambah lagi pesan-pesan pada iklan sebelumnya yang begitu menggiurkan. Menggambarkan bahwa aktivitas travelling tidaklah merepotkan, terkesan murah, mudah nan membahagiakan.

Kemudian, dengan percaya diri, saya memproklamirkan diri sebagai pengguna setia. Tak menggubris situs tandingan, selalu upgrade versi teranyar, hingga menjadikannya shortcut di smartphone. Pokoknya militansi tanpa batas. Mirip loyalitas kopites kepada Liverpool, meski sudah 26 tahun ndak pernah juara Liga Inggris. Atau, beda tipis lah sama seorang religius kepada istri-istrinya Tuhannya.

Namun sayang, iya sayang, rasa geram mulai menggerogoti kala menamati jalan cerita pada iklan yang berdurasi sekitar 30 detik itu. Di dalam iklan tersebut diceritakan suasana mudik Lebaran di kampung halaman si nenek. Pemeran pria memakai setelan spesies urban bersama anak istrinya datang tengah malam dengan membawa semangat mudik yang katanya asyik.

Mereka kemudian terkejut mendapati rumah si nenek sudah penuh dengan saudara-saudarinya yang tidur berjubel. Menyesaki segala sudut rumah, bahkan di dalam kamar mandi. #Lebay. Merasa kecewa karena tak ada ruang untuk sekadar tidur, lantas pria tersebut berinisiatif menggunakan situs layanan travel berwujud aplikasi di telepon pintarnya.

Bak maha penolong, daftar hotel dengan berbagai fasilitas dan tarif muncul seketika di layar. Mereka seolah melambai-lambai, lalu berkata, “Ayo… Pilih aku.” Supaya kita kena bujuk rayu, muncul pula gambar kamar dengan ranjang-ranjang empuk yang minta segera ditiduri. Hingga akhirnya, wajah pemeran pria tampak ‘bahagia’, tak lagi layu, kuyu, apalagi unyu-unyu. Tiba-tiba saja menjadi segar dan lega, sambil bergumam, “Aahh…”

Setting lokasi pun beralih dari yang semula di rumah joglo si nenek menjadi sebuah suite room yang mewah dan besar. Tak lupa si pria yang baik hatinya tadi memboyong manusia seisi rumah. Tak ketinggalan pula unsur jenaka disisipkan pada penghujung iklan. Si nenek ikut duduk bersolek di tepian kolam renang. Seperti hampir lupa umur, si nenek sampai-sampai melewatkan ritual sungkem dengan anak pinak, saudara, dan kerabatnya. Mereka pun hahahaha-hihihihi cekikikan bersama.

Sekali dua kali mengamati iklan tersebut sebetulnya biasa saja. Iklan dengan jalan cerita macam itu bau-baunya memang menjual kemudahan bergaya urban. Tapi tiga, empat kali menamati, agaknya bikin hati terasa janggal bahkan makin kesal. Lima, enam, tujuh kali, jadi mati rasa.

Iklan yang umumnya bersifat ajakan komersial, ternyata malah mampu menggeser kedudukan sebuah tradisi, yaitu mudik itu sendiri. Tradisi seolah diminta mengalah oleh sikap serta-merta orang yang kekota-kotaan. Sedangkan yang ke-ndeso-ndesoan disingkirkan secara lembut, layaknya tutur pinutur seorang mantan minta balikan.

Jika mengulik tradisi, kata mudik itu sendiri berasal dari bahasa Jawa Ngoko yaitu mulih dilik, yang artinya pulang sebentar. Pulang yang artinya menemui dan berkumpul bersama keluarga. Pulang yang artinya kembali meniduri dipan separuh reot, tempat paling tepat untuk ndusel-nduselan. Saya meyakini bahwa hakikat pulang adalah rumah, bukan motel, hotel apalagi resor.

Pikiran itulah yang kemudian mengganggu. Bagai sebuah pengkhianatan, kepercayaan pada situs itu pun tandas saat kemudahan mulai diselewengkan, dikawinkan dengan yang tidak-tidak. Lebih kecewa lagi ternyata pengaruh besar iklan pada masyarakat bisa saya saksikan sendiri. Ini dialami kakak saya.

Sebagai agenda rutin tiap kali datangnya lebaran, kakak saya beserta anak istri biasa mudik ke tempat mertuanya. Tapi rencananya kali ini lain. Mereka hendak menginap di hotel bintang tiga dekat rumah eyang uti, begitu saya memanggilnya. Alasannya rumah eyang uti tahun ini pasti makin ramai, karena anak cucunya beranak pinak, makin besar, subur, dan gemuk-gemuk.

Walau rumah eyang uti terbilang besar, tapi tetap saja tak akan leluasa katanya. Bagai dejavu pada siang bolong, alasannya persis sama seperti jalan cerita iklan di situs travel tersebut. Entah sang copywriter berusaha mengilhami kelakuan masyarakat terkini atau kakak saya yang berusaha meresapi atau malah terkontaminasi oleh bawaan pesan iklan tersebut? Masih misteri.

Tapi mengetahui wacana menginap di hotel itu, saya pun hanya bisa menghujaninya dengan banyak tanda tanya. “Mas ndak kangen silir-silir angin di tepian sawah?”, “Mas ndak pengen ajari dedek tangkap Prenjak pakai pulut?”, “Mas ndak kangen sedepnya bau minyak angin yang ceket di sandaran kursi jejak punggung yangti sehabis kerokan?” Ah! Dia hanya diam.

Sekarang ini, mudik memang relatif murah dan tak perlu bersusah payah. Tapi untuk benar-benar mudik ternyata tidak lah mudah. Padahal, niat mudik semestinya dibangun sedari pikiran, bukan iklan. Jadi kapan anda mudik? Menginap dimana?

  • Jongkie

    Kece tulisannya. Temanya kekinian sekali. Lanjutkan sis.