Google-Youtube di Antara Kerbau dan Traktor. Tolong Blokir Pikiran Saya…

Google-Youtube di Antara Kerbau dan Traktor. Tolong Blokir Pikiran Saya…

wired.com

Tulisan ini adalah bentuk keresahan saya secara pribadi, pemuda desa dari Bantul. Akhir-akhir ini, bersliweran berita di media mengenai permintaan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) kepada pemerintah untuk memblokir layanan internet Google dan Youtube. Alasannya sederhana, karena kedua platform itu lebih sering digunakan untuk mengakses situs-situs yang berbau pornografi dan penyebaran tindakan kekerasan.

Biar dari desa begini, boleh dong saya mendaku sebagai generasi milenial. Google dan Youtube sudah jadi gaya hidup kebutuhan sehari-hari. Ibarat membajak sawah, Google dan Youtube adalah traktor. Tentu membajak sawah dengan traktor lebih efisien – menghemat tenaga dan waktu – dibandingkan mengandalkan kerbau. Begitu juga dengan cara kerja Google di dunia perinternetan.

Lalu bisa dibayangkan jika pemerintah manut dan mengiyakan tuntutan dari orang-orang yang katanya cendekiawan itu. Bisa gawat dunia perinternetan di republik ini. Sepi, sunyi, dan merana. Kasihan para jomblo yang di dunia nyata panen tuna asmara. Google adalah obat penawar kesepian yang mujarab. Berselancar di Google membuat mereka mampu melupakan beban hidup kejombloan. Itu hanya sebagian kecil manfaat dari Google. Masih banyak manfaat yang lebih besar lagi.

Memblokir Google dan Youtube saya rasa bukan solusi yang bijak dari sebuah ke-ngehek-an. Jangan bicara itu sebagai win-win solution. Jauh banget. Ibarat Wiro Sableng bawa kapak, sableng pak…. Memblokir Google, Youtube, Gmail dkk sama saja menarik kembali traktor yang sudah diberikan ke petani secara cuma-cuma. Petani dipaksa kembali ke zaman kerbau. Kita pun ikut kembali ke zaman kerbau. Di situ saya kadang merasa nganu.

Tapi kalau ICMI masih berkeras meminta pemerintah untuk blokir sana blokir sini, apalah daya saya ini. Ibarat main catur, raja sudah digerakkan ke arah benteng. Lalu benteng digerakkan ke arah raja. Saling berdampingan. Blokir! Sulit rasanya menembus benteng pertahanan. Jika demikian, kita perlu memanggil pecatur bergelar grand master semisal Utut Adianto ke bantul. Lho untuk apa? Ya main catur, mosok bajak sawah.

Jadi begini bapak-bapak ICMI. Saya mau saran saja. Pastinya ini bukan ecek-ecek. Mungkin lebih baik yang diblokir bukan Google dan Youtube, tapi pikiran saya saja. Lho kok pikiran? Pasti itu pertanyaan yang muncul dibenak kalian, bukan?

Begini pak, hal-hal yang berbau pornografi itu tidak serta merta disebabkan oleh akses kita ke Google dan Youtube. Semua berawal semenjak dalam pikiran. Pikiran mesum atau ngeres itu adalah awal dari segala sumber permasalahan. Dengan dorongan dari pikiran, manusia seperti saya terus terdorong untuk mengakses situs dan video yang “tidak-tidak”. Jadi jelaslah permasalahan yang muncul mutlak dorongan dari pikiran.

Logika macam blokir-memblokir ini sama saja dengan menyalahkan perempuan yang berpakaian sedikit terbuka sebagai penyebab maraknya pemerkosaan. Ini namanya “gebyah-uyah”, menyudutkan posisi perempuan berekspresi. Kasihan betul.

Kembali lagi ke Google dan Youtube. Sebagai sebuah layanan, saya kira keduanya lebih banyak manfaat daripada mudharat-nya. Oh, saya bukannya ingin berkhotbah. Tapi mari kita lihat lagi satu-satu. Google sebagai sebuah perusahaan multinasional asal Amerika Serikat yang berkekhususan pada jasa dan produk internet di bidang “mesin pencari” ini sangat dibutuhkan di era globalisasi. Saya pikir para cendekiawan lebih paham soal itu.

Google seperti seorang kakek yang baik dan mau membagi pengetahuan apa saja kepada cucunya. Google mampu bercerita apa saja. Saya rasa, selain buku, Google juga bisa dibilang ‘jendela dunia’. Mengakses Google setidaknya memberi pencerahan terhadap ilmu pengetahuan.

Kedua, Youtube. Youtube ini menjadi salah satu alternatif yang layak untuk menonton dan berbagi video. Kita juga bisa menonton film-film atau cuplikan edukatif di sana. Soal kuota internet, biar saya tanggung sendiri, walau cuma bisa langganan paket hemat.

Tapi setidaknya, dengan adanya Youtube, kita bisa terselamatkan dari acara-acara televisi yang bapuk-bapuk itu. Acara-acara di layar kaca kita semakin kurang mendidik. Sinetron yang mengajarkan balapan di jalan raya atau berita-berita yang menyiratkan unsur-unsur SARA dan kebencian. Bapak cendekiawan berani mendesak pemerintah untuk memblokir stasiun televisi?

Maka dari itu, jika pemerintah mau menuruti keinginan dari ICMI, maka saya rela dengan senang hati diblokir semenjak dalam pikiran. Bapak-bapak cendekiawan memang sudah meralat keterangan pers institusinya soal Google dan Youtube, lalu beralasan bahwa itu baru berupa pendapat tim sekretariat yang belum secara khusus dibicarakan kepada pengurus. Redaksinya kurang rapi ya pak? Saya pun rela jadi relawan penyunting siaran pers di ICMI, meski kemampuan editing saya pas-pasan. Hehe…

Sebenarnya soal blokir-memblokir di negeri ini bukan kali ini saja. Sepertinya sudah menjadi tren kehebohan kekinian. Masih ingat ketika pemerintah ingin memblokir Tumblr, tapi akhirnya nggak jadi? Kominfo hanya minta situs milik Yahoo itu menutup akses pornografi di dalamnya. Kasihan kan, ada pejabat yang udah gagah-gagahan mengumbar rencana pemblokiran.

Tentu banyak orang tidak mau itu terjadi pada bapak-bapak cendekiawan muslim di negeri ini. Mereka sudah cukup gagah. Bahkan cenderung ingin “menggagahi” pikiran kita. Jadi kapan bapak-bapak minta ke pemerintah untuk memblokir pikiran kita semua?

  • Bantul e ngendi mas ? Aku yo mBantul iki

    • Ganang Nu R

      sewon mas, salam kenal.