Generasi Y-Z Naik Kereta Cepat, Taksi-Ojek Diangkut Odong-odong

Generasi Y-Z Naik Kereta Cepat, Taksi-Ojek Diangkut Odong-odong

disruptiveviews.com

Demo sopir taksi di Jakarta anarkis. Begitulah kira-kira salah satu topik terhangat yang tersaji di media massa maupun status dan kicauan teman-teman di media sosial. Tapi, tunggu dulu, sebelum saya cuap-cuap soal taksi, rasanya kok gatel ketika media-media massa tersohor masih saja salah kaprah tentang istilah anarki; anarkis; anarkisme. Apakah sudah terlanjur catchy, jadinya malas mengoreksi?

Baiklah kalau memang begitu, kalau memang ingin melestarikan kebebalan sampai mati. Tapi saya lebih memilih menggunakan istilah vandal; vandalis; vandalisme di artikel soal taksi ini. Vandal untuk menggambarkan tindakan perusakan dan penghancuran, sedangkan vandalis adalah pelaku vandal. Kalau paham atau ajarannya disebut vandalisme.

Karena yang saya tahu, anarkisme itu suatu paham yang menjunjung kebebasan individu. Kaum anarkis menolak hirarki, karena dianggap mengekang kebebasan. Mereka cenderung pada kemerdekaan dan kesetaraan. Anarkisme menentang beberapa paham, seperti fasisme, kapitalisme, rasisme, dan seksisme.

Saya nggak akan membahas paham anarkis ala Mikhail Bakunin, Max Stirner, atau Peter Kropotkin di sini, karena hanya akan bikin jidat anda berkerut. Tapi kalau saya sebut nama Leo Tolstoy mungkin anda terutama penggila karya sastra bakal melek.

Ya, Leo Tolstoy adalah sastrawan ternama yang mengedepankan anarkisme. Tapi anarkisme religius, seorang christian anarchist. Tulisan-tulisan anarkisme Leo Tolstoy bahkan mempengaruhi Mahatma Gandhi, pejuang pembebasan India yang mengedepankan anti kekerasan ketika melawan kolonialisme Inggris. Mahatma Gandhi adalah satu dari 10 tokoh dunia yang mempengaruhi pemikiran Soekarno, Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia yang mengutamakan jalur perjuangan diplomasi.

Jadi, anarki; anarkis; anarkisme tidak identik dengan kekerasan, perusakan, atau penghancuran. Mungkin karena anarkisme adalah paham turunan dari Marxisme jadinya selalu dikutuk buruk rupa. Tapi tetap saja istilah itu kurang tepat menggambarkan situasi yang terjadi di Jakarta, pada Selasa 22 Maret 2016, dimana terjadi tindakan vandal saat demonstrasi sopir taksi dan angkutan umum konvensional menentang angkutan berbasis online terutama Uber, Grab Car, maupun Gojek dan Grab Bike.

Ketika terjadi demonstrasi angkutan konvensional, saya sendiri berada di jalan. Jam 10 pagi, saat saya keluar dari Palmerah menuju Jl Gatot Subroto, jalanan sudah macet. Tidak seperti biasanya. Begitu lambat saya susuri jalan raya. Ketika melintas Jl Jend Sudirman, ratusan taksi biru parkir memenuhi jalan. Di jalan itu pula akhirnya terjadi aksi kekerasan dan perusakan oleh para vandalis.

Bahkan beredar di medsos, sopir taksi yang selama ini tampil sopan, santun, elegan, alias tidak pernah ngomong taik, anjing, bajingan kalau di jalan, tapi tiba-tiba muncul dengan parang dan melontarkan kata-kata yang kejam. Jadi begitu ya?

Demo boleh-boleh saja mas bro, tapi ya nggak begitu-begitu juga keleus. Saya tadinya ingin coba memahami tuntutan mereka. Kasihan juga penghasilan sopir taksi anjlok gara-gara beredar taksi dan ojek online. Bagaimana nasib anak dan istrinya? Memang susah kalau sudah urusan perut. Apalagi di bawah perut. Eh, kok jadi keceplosan.

Tapi ya itu, kalap (isme) sudah ada di dalam batok kepala mereka. Entah itu inisiatif murni para sopir atau dikomporin pemilik perusahaan taksi. Beda tipis sih. Pokoknya jegal kompetitor, apapun caranya. Padahal, tindakan kekerasan terhadap sopir angkutan online justru merugikan angkutan konvensional. Masyarakat jadi antipati. Muncul gerakan boikot taksi biru lah, taksi putih lah, dkk.

Misalnya Angry Blue Bird. Karena nila setitik, rusak susu se-pabrik. Makanya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat, Blue Bird memberikan layanan taksi gratis 24 jam pada Rabu 23 Maret 2016. Pencitraan? Ya iyalah. Memangnya pencitraan milik capres atau cagub saja. Bahkan pemilik bibir monyong lima senti pun butuh pencitraan masang foto selfie di medsos. Pencitraan adalah hak segala bangsa.

Operator taksi konvensional sudah sepatutnya beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Tidak lagi bergerak lamban dengan kecepatan setara odong-odong. Teknologi itu ibarat kereta cepat yang remnya blong. Siapa saja yang berada di depannya bakal terpental. Mati. Cepat atau lambat.

Kita lihat bagaimana Nokia dan Blackberry dilibas Samsung dan iPhone, bagaimana Sony digerogoti Samsung, bagaimana media digital menumbangkan media cetak, bagaimana percetakan buku tenggelam akibat buku online, bagaimana bokep online menggulung majalah porno. Ehh, kok jadi keceplosan lagi.

Jadi yang dilibas teknologi bukan hanya taksi konvensional. Banyak. Apakah karyawan Nokia dan Blackberry memukuli karyawan Samsung? Apakah wartawan media cetak men-sweeping wartawan online? Apakah bintang majalah porno bergulat dengan pemain bokep macam Mia Khalifa yang sedang naik daun? #LangsungGoogling

Selain pengusaha dan sopir angkutan, pemerintah juga jangan sampai gagap teknologi. Peraturan-peraturan yang sudah usang, tak ada salahnya direvisi atau dibuat yang baru. Apa yang terjadi saat ini karena peraturan kita tidak beradaptasi secara cepat. Atau, mungkin pejabatnya malas bikin peraturan yang baru. Akhirnya buntu. Lalu ditabrak oleh perusahaan aplikasi.

Siapa yang salah? Ya pemerintah, pengusaha taksi, dan perusahaan aplikasi. Lho, kok perusahaan aplikasi salah juga? Ya iyalah, jangan mentang-mentang high-tech tapi semaunya. Maunya meraup untung, tapi nggak mau bayar pajak. Kalau mau membela perusahaan aplikasi jangan juga membabi-buta, keleus…

Memang sudah jadi ciri khas masyarakat kelas menengah di perkotaan. Yang penting harga miring. Apalagi bisa cepat dan nyaman, ya sudah langsung jatuh cinta. Sama siapa? Sama Uber, Grab Car, Gojek, Grab Bike dkk. Karena cinta itu buta, banyak orang mengecam demo sopir angkutan konvensional. Adaptasi dong, harganya murahin dong! Ya begitulah, jeritan hati kelas menengah.

Tapi itu sih masih wajar, karena di sisi lain penyedia angkutan umum konvensional juga otoriter. Selama ini, mereka menguasai bisnis transportasi darat kelas menengah dan berkuasa pula atas biaya yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan.

Perlu diingat, saat harga BBM naik, pengusaha taksi langsung menuntut pemerintah untuk menaikkan tarif. Giliran harga BBM turun, tarif gak turun. Pura-pura blo’on. Tiba-tiba datang perusahaan aplikasi yang kasih harga miring, langsung kalang kabut. Lalu kalap.

Perkembangan teknologi juga akhirnya membelah generasi menjadi beberapa bagian. Sejak munculnya generation theory, kita diperkenalkan istilah generasi X, Y, dan Z. Gaya hidup adalah salah satu ciri dari suatu generasi. Ini penting untuk mencari jalan tengah agar antar generasi bisa saling memahami dan mengerti.

Apakah bisa terjadi benturan antar generasi? Saya pikir bisa saja. Kasus angkutan konvensional vs angkutan online sebagai contohnya. Saat ini, generasi yang mendominasi kehidupan sosial adalah mereka-mereka yang masuk kelompok Generasi Y (lahir tahun 1981-1994) dan Z (lahir tahun 1995-2010).

Generasi Y dikenal dengan sebutan generasi millenial atau milenium. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan, seperti email, SMS, instan messaging, dan media sosial. Mereka juga suka main game online.

Kalau Generasi Z disebut dengan istilah iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih.

Mereka ini biasanya sangat mendukung kehadiran angkutan berbasis online, karena hidup dalam genggaman mereka. Mungkin sopir-sopir dan pengusaha taksi konvensional yang menolak online berasal dari Generasi X (lahir tahun 1965-1980) atau bahkan Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964). Lalu, pertanyaannya, apakah konflik angkutan konvensional dengan angkutan online ini mengisyaratkan bahwa benturan antar generasi benar-benar terjadi?

  • Kereeen…! semuanya kena, asikk dan jenaka

  • Ikhsan Rizky

    mantap kang.