Ancaman Nyata yang Dihadapi Generasi Milenial

Ancaman Nyata yang Dihadapi Generasi Milenial

Ilustrasi (youthmanual.com)

Kalian yang usianya 18-35 tahun, bolehlah mendaku sebagai generasi milenial. Tapi, sadar atau tidak, generasi milenial ikut terlibat bahkan bisa jadi pelopor penurunan intelektual pada milenium ke-3 ini. Bahkan, dari sedikit anggota milenial yang menyadarinya, tak ada yang mampu mengubah arus ini.

Hasil observasi singkat dari dinamika percakapan dan opini yang berseliweran di media sosial maupun komentar-komentar di kolom media online dan wadah baru digital, menunjukkan kecenderungan tersebut.

Proyek penurunan intelektual ini – kalau boleh disebut begitu – bahkan menuduh para ahli sebagai ‘intelektual palsu’ dan menganggap ide-ide dan solusinya tidak cocok dengan ‘realita’ dan ‘budaya’ masyarakat Indonesia.

Misalnya, untuk urusan perkawinan. Sejak puluhan tahun lalu, para ahli sudah menyimpulkan bahwa perkawinan yang paling baik itu dilakukan kalau sudah dewasa secara biologis maupun psikologis. Lha ini ada anak remaja yang nikah dini, kemudian diviralkan dengan kata-kata yang penuh jemawa, misalnya, “Ini 17 tahun dah nikah, kamu umurnya 25+++ dah ngapain aja?”

Saya pikir para ilmuwan dari berbagai bidang setuju bahwa hubungan badan menjadi tidak sehat, ketika dilakukan oleh anak di bawah umur tertentu. Tak cuma itu, komitmen, tanggung jawab, dan tugas-tugas dalam pernikahan haruslah diberikan kepada mereka yang telah matang secara mental.

Kalaupun itu dianggap ibadah, ya kali nggak butuh mental. Bukankah untuk mencapai level itu butuh keikhlasan dan keikhlasan itu butuh mental yang kuat?

Ya meski pada akhirnya perkawinan anak di bawah umur tertentu dimaklumi demi ‘adat’ atau ‘tradisi’, praktiknya itu justru menimbulkan masalah-masalah yang bisa menghambat kemajuan kualitas hidup. Selain masalah kesehatan, anak-anak yang menikah dini cenderung berhenti sekolah.

Pendidikan yang rendah ini memperkecil kemungkinan mereka mendapat pekerjaan yang layak atau jenjang karir yang lebih tinggi. Lagi-lagi, mereka akan terjebak dalam jurang kemiskinan.

Ini memang bukan penemuan baru. Tapi, sampai hari ini, masalah itu masih menjadi pembahasan di komunitas internasional yang berupaya menurunkan angka pernikahan dini.

Namun, kita hidup di zaman dimana sebuah grup jurnalis milenial akan kembali mempertanyakan penelitian dan kesimpulan yang telah sah tersebut. Ya demi mempertahankan status quo itu tadi – bahkan tanpa menyadarinya. Tentu ini berbeda dengan mempertanyakan kembali penelitian dan kesimpulan ilmiah demi kemajuan peradaban. Sama sekali bertolak belakang.

Para ahli dituduh tidak memahami ‘realita’, ‘adat’, atau ‘kebudayaan’ masyarakat setempat. Bahwa meminta para orang tua untuk tidak menikahkan anak-anak di bawah umur dianggap sebagai tindakan yang ceroboh, yang mungkin bisa mengancam kesejahteraan ekonomi. Tentu saja ini telah dibantah oleh hasil penelitian yang sudah membuktikan sebaliknya.

Contoh lain adalah soal perilaku homoseks di kalangan individu lesbian, gay, biseks, dan transgender (LGBT). Ahli psikologi dunia, yang waktu itu diprakarsai oleh para ahli dari Amerika, telah mengeluarkan perilaku homoseks dari daftar gangguan jiwa pada 1960-an. Itu dilakukan setelah ada tekanan dari kelompok-kelompok pembela hak asasi LGBT. Faktanya memang hingga saat ini masalah gangguan jiwa belum bisa dibuktikan secara meyakinkan.

Setelah masa-masa kritis itu lewat, tidak pernah lagi ada upaya untuk memasukkan perilaku homoseks ke dalam kategori gangguan jiwa. Ini juga diperkuat oleh bertambahnya pengetahuan manusia tentang seksualitas dan gender.

Namun, lagi-lagi, kesimpulan tentang perilaku homoseks yang telah diteliti oleh para ahli selama puluhan tahun kembali digugat. Bukan semata-mata untuk ilmu pengetahuan, namun demi pembenaran tindakan opresi terhadap kelompok minoritas LGBT.

Gugatan milenial Indonesia – yang nggak milenial-milenial amat sih karena hanya membeo pada generasi-generasi sebelumnya – sering dilengkapi oleh argumen agama, yang sebetulnya mereka sangat kikuk jika diajak bicara soal ilmu pasti.

Setidaknya kita bisa lihat adanya perubahan besar pada agama Katolik. Ini semata karena pernyataan-pernyataan resmi Vatikan lebih mudah diakses dan dianggap mewakili arah agama tersebut secara keseluruhan.

Gereja Katolik, sebagai institusi agama yang terkenal memberlakukan hukuman kejam terhadap perilaku homoseks selama ratusan tahun, kini mencoba menemukan jalan tengah antara ketuhanan dan kemanusiaan. Untuk saat ini, perubahan tersebut dianggap cukup memuaskan.

Perilaku homoseks aktif masih dianggap menyimpang dan salah, namun Vatikan tidak lagi menutup pintu rapat-rapat bagi individu LGBT. Vatikan justru meminta para anggotanya untuk mengedepankan belas kasih dan pengertian saat berinteraksi dengan para ‘pendosa’ tersebut. Saat ini bahkan sudah banyak anggota gereja yang mengaku gay, namun berjanji untuk hidup selibat.

Gereja Katolik cukup cerdik, sebab sekalipun para ahli psikologi memutuskan untuk memasukkan kembali perilaku homoseks ke dalam daftar gangguan jiwa, mandat untuk tetap memperlakukan anggota LGBT dengan belas kasih tetap berlaku. Toh, dari pandangan gereja, perilaku itu masih dianggap salah.

Sebaliknya, jika zaman terus bergerak maju dan perilaku homoseks tetap tidak dianggap sebagai gangguan jiwa, wajah gereja tetap akan dipandang ramah, karena pintu sudah dibuka lebar-lebar untuk anggota LGBT – di bawah syarat tertentu.

Agama sebetulnya lebih mudah berkompromi dibanding sains dan ilmu pasti, yang mesti dibuktikan sebaliknya dulu baru bisa runtuh. Hal ini juga menunjukkan kebijaksanaan Gereja Katolik, yang bersedia bekerjasama dengan ilmu pengetahuan demi kemajuan umat manusia.

Kembali ke pokok kegelisahan, yaitu penurunan intelektual bangsa yang tampaknya dipimpin sendiri oleh generasi milenial Indonesia, generasi yang seharusnya modern, generasi yang paling terhubung dengan dunia luar. Pada kenyataannya, generasi milenial Indonesia adalah generasi yang kemampuan berpikirnya telah dihancurkan sejak dalam kandungan oleh Orde Baru.

Saya tidak ingin mengulang bagaimana sistem pendidikan Orba yang secara sistematis melumpuhkan kemampuan nalar. Sebab, sebagian besar dari kita sudah paham soal itu. Namun, patut digarisbawahi, hasil nyata dari sistem tersebut masih di depan mata.

Tulisan ini juga tidak ingin terjebak dalam keluhan klise tentang milenial Indonesia – keras kepala dan manja –, namun mencoba untuk memaparkan masalah-masalah nyata pada generasi ini, yang malah sebetulnya lebih pelik dari itu.

Jika dampak bom atom di Hiroshima-Nagasaki adalah cacat tubuh dan gangguan jiwa, maka dampak kejahatan Orba adalah cacat pikiran, yang mana untuk mencari obatnya, Goenawan Mohamad saja menggaruk kepala.

Indonesia, yang selalu bangga dengan ‘bonus demografi’ ternyata malah mengalami ‘defisit demografi’, dimana anak-anak mudanya tidak mau membaca, tidak mau mencipta, memiliki tingkat literasi paling rendah di dunia, dan mudah percaya doktrin ekstrem. Anak muda yang lebih senang menjadi pekerja untuk orang lain, bukan menjadi pemecah masalah.

Dari segelintir anggota milenial Indonesia yang memiliki kemampuan (dan keinginan) untuk bernalar, tidak ada yang sanggup mengubah arus yang sudah terlanjur deras ini. Sebagian dari kelompok itu justru ingin meraup keuntungan dari situasi yang ada, sebagian lagi jatuh ke dalam perangkap elitis.

Jadi, boleh-boleh saja mengaku generasi milenial, tapi kok ada yang kangen Orba?