Selamatkan Garam Indonesia dengan Sensasi Rasa Mantan

Selamatkan Garam Indonesia dengan Sensasi Rasa Mantan

Ilustrasi petani garam (hipwee)

“Garam langka dan harganya melonjak!” teriak gawai yang berada di tangan. Saya pun sigap membuka beberapa situs berita terpercaya, meski belum berlabel halal. Oh ya benar, selain harganya tinggi, ia juga langka. Selangka orang baik di negeri ini.

Banyak orang yang bingung, mengapa garam bisa langka dan harganya melonjak? Sebagian tak percaya, karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai yang mencapai 81 ribu km. Lautannya pun menghampar luas hingga 5,8 juta km² atau sekitar 70% dari luas wilayah Indonesia.

Ya memang di atas kertas seperti itu, tapi nyatanya garam tetap menjadi persoalan pelik. Ada yang bilang karena cuaca buruk, sehingga petani garam gagal panen dan berakibat pada kurangnya pasokan di pasar.

Tapi ada juga yang menduga bahwa itu ulah kartel, karena tidak suka dengan kebijakan pemerintah yang memberikan monopoli impor garam kepada PT Garam selaku perusahaan milik negara.

Terlepas dari apapun, Indonesia membutuhkan garam 4,3 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,8 juta ton di antaranya dipasok dari dalam negeri. Sisanya 2,5 juta ton terpaksa pesan ke negeri orang alias impor. Itu sih yang saya baca, hihi…

Tapi saya punya pandangan lain soal garam.

Garam memiliki dimensi yang luas, sama seperti lautan. Pada akhirnya, ia bermuara pada belanga moralitas dalam melakoni kehidupan. Ada banyak penggunaan kata garam dalam peribahasa.

Misalnya…

“Sayang garam secacah, dibusukkan kerbau seekor.”

“Memperhujankan garam sendiri.”

“Bagai bubur tak bergaram.”

“Menabur garam di lautan.”

Selain itu, dalam rahim sejarah, garam telah memberikan catatan khusus soal peradaban manusia di bumi. Pada suatu fase di Afrika, garam pernah menjadi komoditas yang sejajar dengan emas. Produksi garam yang terbatas saat itu menyebabkan harga garam begitu tinggi.

Sejarah lain mencatat garam menjadi salah satu pemicu peperangan antar kerajaan. Garam mampu menjadi magnet perdagangan yang mendongkrak perekonomian satu negara.

Pada sisi lain, dalam kajian agama, peran garam hadir menjadi simbol keillahian yang wajib dilakoni para penganutnya. Jelas garam tidak sebatas persoalan bumbu penyedap masakan. Garam memiliki nilai yang sakral pada masyarakat, meski pada tataran simbolik.

Dan, tahukah anda bahwa sejatinya garam dekat dengan urusan percintaan?

Garam adalah ritus cinta, bumbu kasih para dewa asmara. Mengapa saya menyatakan demikian? Karena cinta dan garam jelas mengandung dan melahirkan unsur kehidupan yang kita sebut dengan ‘rasa’.

Garam dan cinta kerap berjalan seiring tanpa kita sadari. Mereka mengada, tetapi tidak ada. Mereka kosong tetapi isi atau sebaliknya. Tidak percaya? Mari simak…

Siapa pasangan yang sedang mabuk asmara tidak pernah makan bersama? Anda pasti pernah mengajak seorang terkasih dan mengajaknya makan atau menikmati penganan yang sederhana, semisal seblak atau cilok di pinggir jalan?

Makanan itu harus diberi rasa agar sedap di lidah. Ada rasa asin yang tentunya berasal dari garam. Ya kalee dari cucuran keringat si abang seblak dan cilok.

Jelas rasa asin itu hasil dari penyerahan diri maha paripurna dari garam untuk lidah dan tubuh manusia. Garam membiarkan dirinya digoreng, digodok, dan direbus demi sensasi lidah agar tetap bergoyang. Kalau kurang, tinggal teriak, “Bang, kurang garam nih!”

Bayangkan, bagaimana darma garam untuk kita?

Begitu juga dengan cinta sebagai bentuk penyerahan diri secara total kepada orang-orang terkasih, meskipun statusnya sudah menjadi mantan. Yap, mantan.

Bagaimanapun pecinta sekaliber Don Juan tentu pernah merasakan patah hati dan berpisah dengan pasangannya. Apalagi, pisah saat masih sayang-sayangnya, duh…

Mantan adalah kata yang mewakili seseorang yang pernah hidup berdampingan dengan kita dalam koridor percintaan. Ia adalah perbandingan nyata dengan rasa asin yang mengalir dari garam.

Asinnya garam di lidah adalah asinnya kehidupan cinta itu sendiri. Garam seolah mantan yang mampu mengentalkan rasa dan memberikan beragam rasa. Garam dan mantan demikian dekat pada ruang psikologis dan psikis yang menghadirkan puisi cinta tanpa koma di titik kata.

Memang kurang ajar bayangan mantan yang selalu awet di dalam pikiran kita. Mirip-mirip dengan garam, yang pada zaman dahulu kerap digunakan untuk mengawetkan sesuatu. Jadi, kalau anda selalu ingat mantan, itu wajar. Eh?

Bagi saya, mantan lebih tepat mencerminkan garam daripada gula, karena menyuguhkan kenangan indah, namun getir. Jika dilakukan survei atau riset mendalam, manusia mana yang tidak bisa lepas dari garam dan siapa pula pecinta yang tidak bisa lepas dari mantan?

Bukankah garam menawarkan sensasi rasa, sementara mantan menghadirkan imajinasi penuh rasa? Namun, tentu saja, rasa itu akan terasa nikmat ketika seseorang mampu mengatur sesuai dengan takarannya.

Ketika kurang garam, rasanya tentu akan hambar. Namun, ketika takaran garam berlebih, yang timbul bukanlah rasa nikmat, tapi tekanan darahmu naik, haha…

Mengatur takaran garam dan mantan sangatlah diperlukan. Manusia perlu bijak menyikapi rasa asin garam dan rasa asin sang mantan. Garam di laut, mantan di gunung, dalam belanga bertemu jua. Mari selamatkan garam Indonesia agar mantan tetap terasa sensasinya.

Uhukk…

  • jauhari mahardhika

    Kang agus baru turun gunung dari pertapaan ngomongin beras sama mantan haha..

  • Hermawan Susanto

    nice infonya gan

  • yayana

    Kasihan Petani Garam lokal

  • Insan Abdul Malik

    Jadi kesimpulannya kumpulkan mantan eh garam! Ntar kalo harganya mahal jual! Wkwkwkwkwk becanda!
    Dan yang ini: selain harganya tinggi, ia juga langka. Selangka orang baik di negeri ini. Jujur ane ngakak bro!

  • Hahahaha yang jadi perhatian itu Petani terutama yang Lokalnya

  • Kasihannn 🙁