Gosip Lain tentang Gaj Ahmada yang Terlewatkan

Gosip Lain tentang Gaj Ahmada yang Terlewatkan

Ilustrasi (well-of-souls.com)

“Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa.”

Ini bukan sekadar sumpah receh macam sumpah pacarmu yang berujar akan setia sehidup semati, namun ternyata berakhir di tengah kejamnya KKN yang baru saja berjalan seminggu-dua minggu.

Ya benar, itu adalah sumpah besar dari orang besar juga, yang namanya senantiasa hidup dalam legenda, namun masih dipertanyakan agamanya – tapi tidak untuk madzhab dan afiliasinya.

Sumpah Palapa namanya, sumpah yang diproklamasikan oleh seorang ksatria bernama Gajah Mada – beberapa orang memanggilnya Gaj Ahmada, tergantung logat lidah masing-masing – ketika ia diangkat sebagai pejabat negara Majapahit dengan tingkatan jabatan eselon: Patih Amangkubumi. Sebuah jabatan yang benar-benar gagah didengar telinga, walau saya nggak paham-paham amat arti dan maknanya.

Pria satu ini, memang tidak sedang asal mengobral bual, ia bersungguh-sungguh melancarkan agresinya hingga Majapahit menjadi negara super power yang benar-benar disegani juga ditakuti.

Mari, kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga karena memiliki sosok petinggi dan elit militer yang berjiwa patriotis nan nasionalisme tinggi, tidak mau didekte oleh antek uang dan antek asing.

Terlepas dari apa kolom agama Patih Gajah Mada, yang turut mewarnai perdebatan nyinyir di jagat media sosial, setidaknya mari kita sempatkan untuk meneladani sikap sang jenderal dalam menjadi warga negara yang baik.

Ya benar, telah tergores dalam catatan historia abal-abal dari seorang arkeolog Nico Robin ketika ia berlayar dua tahun di Pulau Raftell. Berikut adalah secarik catatan Nico Robin yang berhasil disadap oleh agen rahasia.

Patih Gajah Mada rupanya sudah sadar akan pentingnya pajak bagi keberlangsungan bangsa dan negaranya. Bagaimana tidak? Ketika ia menginjak usia remaja, ia sudah menyelesaikan buku-buku kenegaraan dari berbagai filsuf yang tiap malam dikunyahnya.

Tidak berhenti sampai di situ, ia juga tidak bosan-bosannya menemui para pakar upeti negara Majapahit kala itu. Beragam pertanyaan filosofis, teknis, dan strategis, didiskusikannya hingga tak mengenal waktu untuk sekadar memupuk rasa cintanya pada negeri. Karena ia sadar, pajak adalah salah satu pilar kedaulatan bangsa Majapahit.

Setelah menginjak usia dewasa, ia menunggang kuda sendirian menuju kantor pajak. Benar-benar mulia dan sikap seorang negarawan sejati, tak perlu menunggu pegawai pajak datang untuk menetapkannya secara jabatan.

Di sela kesibukannya dalam memajukan Majapahit, ia juga tak pernah absen menyempatkan diri untuk melaporkan pajak tahunannya tepat waktu dan tidak mepet akhir-akhir tanggal jatuh tempo.

Bahkan, inilah salah satu prestasi yang sangat dipertimbangkan ketika pundaknya hendak dipercayakan sebuah jabatan eselon setinggi Patih Amangkubumi, yakni melaporkan pajak yang tak hanya tepat waktu, tapi juga benar, lengkap, dan jelas.

Sederhana saja, bila urusan duniawi semacam harta dan kekayaan saja belio sangat transparan dan menjunjung tinggi nilai akuntabilitas, bagaimana mungkin ia akan terpikir untuk mengkhianati raja, bangsa, dan agama?

Sang arkeolog Nico Robin juga meninggalkan catatan lain terkait kepatuhan Gajah Mada di arsip kamarnya dalam gulungan perkamen yang berbeda.

Dalam perkamen tersebut tertulis bahwa sang Patih – ketika berorasi di tengah alun-alun – secara inisiatif pribadi senantiasa menyisipkan ajakan kepada rakyatnya agar patuh pajak untuk tetap tegaknya bangsa. Malahan, ia juga tak segan mengutuk orang-orang yang kerjaannya nyinyir dan memecah belah bangsa.

Namun sayang, baru sebatas itu catatan Nico Robin dalam bahasa sansekerta yang berhasil diterjemahkan. Pekerjaan historis yang mengaduk-aduk harta karun tertimbun tanah selama berabad-abad, sungguh pekerjaan yang tidak mudah dan memerlukan ketelitian serta kedisiplinan tingkat tinggi.

Sambil menunggu agen rahasia berhasil menerjemahkan perkamen-perkamen yang lain, apapun agama kita, mari bersama kita teladani sikap luhur Gajah Mada.

Dan, buat kamu yang terus memperdebatkan apakah nama belio adalah Gajah Mada atau Gaj Ahmada, jangan lupa untuk daftar NPWP serta taat pajak agar kita bisa melanjutkan perjuangan orang-orang yang lebih dulu dari kita.

Oh ya, anda boleh tidak percaya cerita ini, karena memang seharusnya begitu. Sama halnya dengan desas-desus tentang Gaj Ahmada belakangan ini.