Filosofi Selow Ala Portugal yang Jadi Misteri

Filosofi Selow Ala Portugal yang Jadi Misteri

AFP

Selamat untuk Portugal wabil khusus para wanita yang mendaku penggila Cristiano Ronaldo, menyusul melajunya ‘Seleccao das Quinas’ – julukan timnas Portugal – ke semifinal Piala Eropa 2016 (update: Portugal akhirnya juara, setelah menundukkan Prancis 1-0). Terlepas Portugal adalah mantan, maksudnya mantan penjajah Indonesia dulu, mereka tetap layak dapat like, love, dan apa-apalah itu.

Bagaimana tidak, meski dikapteni Ronaldo yang flamboyan plus metroseksual abis itu, nyatanya Portugal hanya menempati peringkat tiga di fase grup. Beruntung, ‘Negeri Penjelajah Samudra’ tersebut menjadi peringkat tiga terbaik. Namun, setelah itu, kemenangan demi kemenangan berhasil direngkuh Portugal.

Pastinya ini bakal pahit bagi para pembenci Portugal, terutama mereka-mereka yang hobi banget nge-share meme Ronaldo pulang kampung sambil bawa tas segambreng di medsos. Apalagi, jalan Portugal menuju semi final juga penuh drama sampai Ronaldo membuang mikrofon wartawan ke danau segala.

Coba kita lihat babak perdelapan final. Portugal harus berjuang melewati babak perpanjangan waktu 2×15 menit untuk menumbangkan juara grup D Kroasia yang lebih diunggulkan di pasar taruhan. Gol Ricardo Quaresma pada menit 117 barangkali menjadi keberuntungan bagi anak asuh Fernando Santos tersebut. Ball possession Portugal hanya 41%, Kroasia 59%. Total tembakan Kroasia pun sampai 17 kali, sedangkan Portugal hanya 6 kali.

Lalu, keberuntungan kembali menjadi milik Portugal, saat laga perempat final kontra Polandia. Portugal menang melalui drama adu penalti dengan skor 5-3. Sebelumnya, kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit. Itu berarti, Portugal masuk ke semifinal dengan cara tidak normal. Maksudnya, mereka melakoni laga perdelapan dan perempat final di atas waktu normal yang 90 menit. Bukan karena bantuan paranormal.

Kalau saya pribadi berharap anak-anak Eropa barat daya itu bisa bermain dalam waktu normal saat semifinal nanti (update: Portugal kalahkan Wales 2-0 dalam pertandingan selama 90 menit). Fisiknya sudah tampak kelelahan, meski rambut Ronaldo tetep klimis, entah karena shampo atau minyak jelanta yang diimpor khusus dari Indonesia. Kecuali, semua pemain punya fisik prima seperti Pepe, yang tampil gahar di lini belakang. Pelatih Portugal Fernando Santos bahkan terang benderang memuji Pepe. Ronaldo juga deh. Kalau nggak dipuji nanti ambegan.

Pada tajuk ini, perjalanan timnas Portugal hingga babak semifinal (juara) merupakan sesuatu yang harus di-bully diapresiasi. Selain bersusah payah pada dua laga knock out, tim ini sebenarnya juga sempoyongan dan keteteran pada babak penyisihan grup. Datang dengan nama dan bintang besar, tapi posisinya malah berada di bawah Hungaria dan Islandia, dua negara yang “tak dianggap” dalam percaturan sepak bola Eropa.

Hungaria sendiri sejak Piala Eropa 1976 sampai 2012 tak pernah lolos fase kualifikasi. Lain lagi dengan Islandia yang baru pertama kali berpartisipasi dan merupakan negara terkecil yang tampil di Piala Eropa 2016. Tapi, keren atau ironis atau ajaib atau apalah, Islandia ini malah melancong jauh sampai ke perempat final.

Sampai di sini, barangkali satu kesahihan argumen layak disematkan. Bahwa ukuran kegemilangan tim dalam sebuah kompetisi bukanlah terletak pada nama besar ataupun cokolan pemain hebat di dalamnya. Yang menjadi patokan adalah seberapa jauh tim itu melangkah dan menorehkan prestasi. Tentang ini, saya justru teringat sama ujaran legenda sepak bola Jerman Franz Beckenbauer. Bahwasanya bukan yang kuat yang menang, tapi yang menang yang kuat.

Sepak bola memang begitu. Dia misterius. Juga tak terselami oleh prediksi dan gagasan berkelas. Sepak bola menjadi ruang terbuka yang menyajikan ekspresi bagi setiap penikmatnya. Meski dia sendiri selalu tidak punya ekspresi pasti. Kadang dia menawan, indah, atau menyejukkan hati. Tapi, kadang pula dia paradoksal, tak masuk nalar, juga lahirkan gerutu-gerutu narasi lanjutan. Seperti anda yang barangkali mengkritik keras performa Portugal.

Kita boleh saja nyinyir, menggerutu, atau menaruh ragu pada tim berjuluk ‘Seleccao das Quinas’ ini. Sebuah tim besar, namun mainnya biasa-biasa saja. Punya deretan pemain berpengalaman, tapi tidak punya pola yang jelas. Lini serangnya pun berantakan. Tidak terorganisasi dengan baik. Padahal diisi tiga pemain hebat nan berpengalaman, seperti Cristiano Ronaldo, Nani, dan Quaresma.

Terlepas dari semua itu, hemat saya, Portugal bisa melaju sampai ke semifinal (juara) karena mereka memegang pinsip ini: menikmati segala proses yang terjadi. Mereka semacam mengusung filosofi selow.

Jadi begini. Sejak awal kompetisi, penampilan timnas Portugal terus dicemooh, karena tampil tak sesuai ekspektasi publik. Tiga hasil seri melawan tiga tim semenjana: Islandia (1-1), Austria (0-0), dan Hungaria (3-3) bukanlah pencapaian gemilang untuk negara peringkat tujuh dalam ranking FIFA tersebut. Namun, Portugal santai, selow. Mengalir apa adanya. Tak peduli mau dibilang bermain buruk, membosankan, tak punya visi, atau bermain ngalor-ngidul sekalipun.

Filosofi selow ala Portugal ini juga merujuk pada gaya bermain sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Entah harus bertahan lebih dahulu, lalu menyerang balik dengan cergas atau menyerang habis-habisan, meski tak berjuntrung pada penyelesaian akhir yang brilian. Tapi, filosowi selow yakin bahwa gol pasti akan tercipta. Kemenangan siap ditadah. Yang dibutuhkan hanyalah santai sejak dalam pikiran dan permainan.

Selow inilah yang membuat Portugal tidak kaku bermain. Dalam hal ini, mereka tahu kapan bersabar untuk ditekan nyos-nyosan, lantas menciptakan peluang manis untuk gol kemenangan, seperti saat jumpa Kroasia di perdelapan final. Mereka juga tahu kapan harus mendobrak secara bertubi-tubi setelah ketinggalan, dan akhirnya dengan mental yang selow pula sukses mengeksekusi semua tendangan penalti saat melawan Polandia di perempat final.

Filosofi selow juga mengajarkan Portugal bahwa tidak semua pemain bintangnya harus membuat gol atau menjadi sosok kunci kemenangan. Ada saatnya sang superstar harus legowo, karena tidak mencetak gol ataupun gagal mengeksekusi penalti, misalnya saat pertandingan kontra Austria. Bisa juga dia tampil dengan gol penting penentu nyawa eksistensi tim, misalnya dua gol ke gawang Hungaria saat laga pamungkas grup.

Pokoknya, semua pemain rileks-fleksibel dalam bermain dan berkreasi, meski sebenarnya yang tak kalah penting adalah jangan ada yang dipertuanagungkan di dalam tim. Tentu saja tim-tim lain tidak perlu belajar tentang perkara selow ini. Sebab, masing-masing negara punya kekhasan tersendiri. Keluar dari gaya dan pola permainan tim, lalu meniru ideologi bermain tim lain bukanlah kiat cerdas untuk mendulang sukses. Itu adalah hal instan sekelebat menyantap mie instan tapi miskin energi.

Lihat saja Italia yang sekarang lebih dinamis, toh masih tetap menggaransi cattenacio-nya. Spanyol yang sudah pulang duluan pun masih khas juga dengan tiki-taka atau Der Panzer Jerman yang erat dengan permainan disiplin, pressing keras, namun mengalir gesit. Portugal ya selow tadi. Sabar dan sabar, sambil menunggu momentum tepat. Membiarkan segala sesuatu mengalir sembari sadar kapan bertahan dan kapan menyerang.

Jadi sekarang, masihkah anda pesimis atau meremehkan timnas Portugal? (Ya nggak lah ya, wong akhirnya juara). Yang pasti, Wales kudu berhati-hati di semifinal nanti, sebuah partai dimana dua punggawa Real Madrid, Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale harus bentrok habis-habisan (Wales kalah 2-0). Sebab, jangan sampai “bukan yang menang yang kuat, tetapi malah yang selow yang kuat”. Portugal memang selow, tapi siap make you lost