Filosofi Kopi Terlalu ‘Mainstream’, Ini Lawan yang Setimpal: Pare!

Filosofi Kopi Terlalu ‘Mainstream’, Ini Lawan yang Setimpal: Pare!

merdeka.com

Teman-teman sekantor suka mempertanyakan kebiasaan saya yang cukup sering mengonsumsi pare. “Kenapa sih lu doyan banget makan pare?” Atau, “Apa sih enaknya pare? Kan rasanya pahit.” Atau, “Untuk apa makan makanan yang rasanya pahit?” Ya terserah saya dong… “Lebih pahit mana pare sama kehidupan cintamu?”

Jika bicara soal salah satu makanan terpahit yang pernah ada, maka sayur bernama Pare memang salah satu di antaranya. Namun, dibalik rasanya yang pahit, tanaman yang tumbuh subur di daerah tropis dan dataran rendah ini memiliki kenangan yang manis segudang manfaat.

Pare, sebagaimana sayuran lainnya, memiliki kandungan serat yang dapat melancarkan pencernaan. Serat yang terkandung juga dapat memberikan sensasi kenyang, sehingga berat badan dapat terkontrol. Manfaat serat dalam pare juga dapat membantu mengontrol kadar gula darah tubuh agar tetap stabil, serta menurunkan resiko penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2.

Belum lagi kandungan protein – walau tidak terlalu banyak – dan vitamin C yang dapat menjaga daya tahan tubuh. Sayangnya, karena rasanya yang memang terlalu pahit, menyebabkan masyarakat Indonesia belum banyak yang tertarik menjadikan pare sebagai pilihan utama dalam konsumsi sayur harian.

Jika memang permasalahannya ada pada rasa pahit, maka kenapa masyarakat dapat lebih menerima kopi dibandingkan pare? Padahal rasanya sama-sama pahit? Banyak yang bilang, “Kopi bisa di-mix dengan gula atau susu, sehingga rasa pahitnya bisa berkurang.”

Loh, sama. Pare dapat di-mix dengan bumbu rempah-rempah dan tambahan kecap, sehingga terciptalah rasa gurih dan rasa pahitnya menjadi tersamarkan. Sebagaimana apa yang pernah dikatakan dalam novel Filosofi Kopi: “Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.”

Ya, sama halnya dengan pare. Pada akhirnya, rasa pahit pada keduanya tidak akan benar-benar hilang, hanya sekadar tersamarkan. Begitu juga dengan hidup ini, sekuat apapun kita mencoba untuk menjadikan hidup kita sempurna, pasti ada kepahitan yang kita hadapi.

Contohnya, ada seseorang yang telah menginvestasikan uangnya untuk berbagai hal, seperti persiapan menikah, menyekolahkan anak, tabungan untuk ibadah, dan sebagainya. Sesempurna apapun ia berusaha untuk mengelola keuangannya, kadang ada saja hal tak terduga yang terjadi dan uangnya harus terpakai karena itu.

Mungkin tadinya ia berencana menyekolahkan anaknya keluar negeri, tapi karena satu dan lain hal, sebagian uang yang telah diinvestasikannya terpakai untuk keperluan lain, sehingga hanya cukup menyekolahkan anaknya di Indonesia. Ya tak apa-apa kan? Bisa sekalian cari-cari beasiswa sambil modusin gebetan.

Kemudian, sebagaimana yang saya katakan di awal, walaupun rasanya pahit, pare memiliki banyak manfaat bagi tubuh kita. Jadi, jika kita ingin mendapatkan manfaat-manfaat tersebut, kita harus rela menahan rasa pahit pare itu di dalam mulut kita, mengunyahnya, kemudian menelannya, barulah kita dapat merasakan manfaatnya.

Jadi, dalam penafsiran lain, mungkin kita memang harus ‘mencicipi’ rasa pahit terlebih dahulu, barulah kita bisa menjadikan hidup kita serasa sempurna, yang selama ini menjadi tujuan hidup. Contohnya, banyak orang di dunia ini yang tidak selalu memperoleh apa yang mereka inginkan, seperti halnya tidak masuk jurusan kuliah yang mereka inginkan, tidak mendapat jenis pekerjaan yang mereka idam-idamkan, dan sebagainya.

Kita berpikir, jika kita bisa mendapatkan apa yang kita mau dari awal, maka akan lebih mulus langkah kita menuju tujuan hidup yang kita idamkan. Ya, tapi kadang hidup tak semulus tubuh Yoona SNSD, sob… Kalau kata orang bijak, jika kita dapat menahan dan menerima rasa pahit, maka kita akan mendapatkan kesempurnaan hidup. Dengan kata lain, kita seolah memilih jalan memutar untuk mencapai tujuan.

Banyak di antara kita yang terkadang dan mungkin tak terkecuali saya, sulit menerima rasa pahit tersebut, sehingga enggan untuk menelannya dan akhirnya memilih jalan untuk hanya sekadar berpura-pura sempurna, tapi kemudian gagal. Sebagaimana apa yang pernah dikatakan Zen RS dalam Blog-nya: “Semua orang bisa (tampak) sempurna, sampai kemudian ketahuan”. Pahit, sob.

Kembali lagi ke perbandingan antara kopi dan pare. Membandingkan antara kopi dan pare, mungkin kita akan mendapatkan kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Namun, bagi saya, pare adalah makanan yang lebih dapat mewakili kaum subaltern, setidaknya di Indonesia.

Kopi sudah menjadi minuman yang terlalu mainstream di masyarakat Indonesia, baik sebagai minuman bagi kaum kelas atas maupun kelas bawah sekalipun. Kopi lebih sering kita temukan daripada pare. Kopi dapat kita temukan di warung kopi, warteg, restoran, hingga restoran mewah dan kafe-kafe tempat nongkrong anak muda kekinian.

Bagaimana dengan pare? Tentunya kita akan lebih sering menemukan pare di warteg-warteg. Jarang, saya menemukan pare di restoran papan atas, apalagi di kafe, tidak pernah. Hal itu menandakan bahwa pare lebih jarang dikonsumsi oleh masyarakat kelas atas. Bahkan, mungkin terlupakan. Begitu juga dengan kaum subaltern.

Jika di dunia sepak bola, mungkin kopi adalah Real Madrid CF, sedangkan pare adalah Club Atletico de Madrid, SAD. Real Madrid dikatakan sebagai tim yang mewakili horang-horang kaya atau borjuis, sedangkan Atletico adalah kebalikannya.

Tetapi, sadarkah bahwa tidak semua pendukung atau fans Real Madrid di dunia ini adalah horang kaya? Banyak juga orang-orang (berpenghasilan) biasa, bahkan juga ada di antara mereka yang memiliki kesulitan ekonomi. Sebaliknya dengan Atletico, banyak di antara mereka yang memang berasal dari kaum subaltern, walaupun ada sebagian – mungkin – yang berasal dari kalangan orang-orang berduit.

Lalu, bagaimana jika ada horang kaya yang rela datang ke warteg untuk sekadar makan siang dengan sayur pare? Atau, bagaimana jika ada seorang pemilik restoran mewah yang menyajikan pare di dalam menu utama restorannya? Saya berharap orang-orang itu adalah mereka yang tadinya terpinggirkan, lalu kemudian diangkat derajatnya oleh Tuhan, tetapi tidak lupa sama ‘kulitnya’.

Jadi bagaimana gaes… Kapan kita makan pare rame-rame? Kalau yang manis-manis sudah mainstream banget, sesekali sama yang pahit. Bukankah kehidupanmu sudah cukup pahit?