Film Snowden: Kado Natal untuk Amerika?

Film Snowden: Kado Natal untuk Amerika?

Ia direkrut tentara pada usia 20 tahun. Ia bergabung dengan CIA pada umur 22 tahun. Ia menjadi kontraktor NSA pada usia 26 tahun. Dan, tiga tahun kemudian atau pada usia 29 tahun, ia menjadi buronan paling dicari oleh negaranya, Amerika Serikat (AS).

Dia adalah Edward Joseph Snowden, sang pembocor dokumen intelijen rahasia milik Amerika. Kini, pemuda asal Elizabeth City, North Carolina, AS, yang berusia 32 tahun itu ngumpet di Moskow, setelah mendapat suaka dari Pemerintah Rusia. Tapi, dengan catatan, Snowden tidak akan lagi bergerak untuk ‘menyakiti’ Amerika.

Meski jadi buronan nomor satu, kisah Snowden bakal diangkat ke layar lebar. Film dengan judul ‘Snowden’ ini bahkan dijadwalkan tayang perdana di bioskop-bioskop Amerika pada 25 Desember 2015. Yup, di Amerika, bertepatan dengan Natal tahun ini.

Apakah penayangan film biopik ini menjadi kado Natal untuk Pemerintah Amerika? Atau itu hanya memanfaatkan momentum liburan Natal saja untuk menjaring lebih banyak penonton dan uang? Atau, semata-mata faktor hoki, karena Desember biasanya bersalju (snow), mirip dengan nama Snowden? #cocokologi

Yang pasti, Pemerintah Amerika setidaknya belum akan melarang pemutaran film ‘Snowden’. Film ini pun dibesut oleh sutradara kondang asal Amerika, Oliver Stone dan ditulis oleh Kieran Fitzgerald.

Film ‘Snowden’ juga dibintangi oleh aktor papan atas Hollywood, Joseph Gordon-Levitt, yang berperan sebagai Snowden. Selain itu, Shailene Woodley, Scott Eastwood, dan Nicolas Cage juga main di film yang diadaptasi dari buku berjudul ‘The Snowden Files: The Inside Story of the World’s Most Wanted Man’.

Film ‘Snowden’ tentunya bercerita tentang sepak terjang Edward Snowden dalam mengungkap ribuan dokumen rahasia yang ia peroleh saat bekerja sebagai kontraktor National Security Agency (NSA).

Dokumen yang bocor mengungkap keberadaan berbagai program pengawasan global, yang bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi dan pemerintah di sejumlah negara di Eropa.

Snowden membocorkan informasi rahasia seputar program-progam NSA yang sangat rahasia seperti ‘PRISM’ pada Juni 2013. Pria berkaca mata yang ahli komputer itu juga membeberkan dokumen rahasia AS yang dikenal dengan sebutan ‘Drone Papers’, yakni serangan drone AS yang ngawur, karena tidak mengenai teroris, tapi warga sipil.

Snowden juga pernah bicara soal kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dia blak-blakan kalau Amerika sebagai biang kemunculan ISIS.

“Tidak ada ISIS sampai kita mulai membom negara-negara ini (Irak dan Timur Tengah). Ancaman terbesar yang kita hadapi di wilayah tersebut lahir dari kebijakan kami sendiri,” kata Snowden, dalam wawancaranya dengan wartawan koran Dagens Nyheter Swedia, Lena Sundstrom dan Lotta Hardelin, di sebuah hotel di Moskow.

Kisah Snowden sebenarnya pernah digarap oleh sutradara Laura Poitras dalam sebuah film dokumenter berjudul ‘Citizenfour’. Film itu bahkan berhasil memenangi Piala Oscar untuk kategori ‘Best Documentary’ dalam ajang Academy Awards tahun ini.

Namun, pada momen pemberian piala, tentu saja Edward Snowden tidak hadir dan hanya diwakili oleh tim produksi film. Snowden hanya memberikan pesan kepada media sebagai apresiasi atas penghargaan tersebut.

“Ketika Laura Poitras bertanya apakah dia bisa membuat film tentang pertemuan kami, saya sangat enggan. Saya bersyukur bahwa saya mengizinkannya untuk membujuk saya. Hasilnya adalah sebuah film yang berani dan brilian yang layak mendapatkan penghormatan dan pengakuan yang telah diterima. Harapan saya adalah bahwa penghargaan ini akan mendorong lebih banyak orang untuk melihat film dan terinspirasi oleh pesan dari warga biasa, bekerja sama, dapat mengubah dunia,” tulis Snowden.

Lalu apakah film ‘Snowden’ nanti bisa menandingi kesuksesan film ‘Citizenfour’?

Foto: japantimes.co.jp