5 Film Korea Layak Tonton untuk Menghadapi Tahun Politik

5 Film Korea Layak Tonton untuk Menghadapi Tahun Politik

Courtesy of Showbox/Mediaplex

Percaturan politik elektoral menjadi semacam film distopia: kita hanya diberi pilihan untuk memilih yang buruk dari yang paling buruk, janji-janji manis yang bakal terlupakan, kawan jadi lawan, pertikaian di grup Whatsapp, hingga keretakan hubungan keluarga gara-gara beda calon pilihan.

Kita pun diperbolehkan sekali setiap beberapa tahun untuk memilih wakil yang diharapkan bisa merepresentasikan kita, meski akhirnya mereka malah merepresi kita. Terlebih, dengan pilihan politik yang terbatas di Indonesia, menjadi apatis dalam politik elektoral tak bisa disalahkan.

Membenci politik elektoral bukan berarti antipati pada politik. Salah besar mereduksi politik cuma jadi sebatas politik praktis. Sebab, seperti yang pernah disebutkan Bertolt Brecht bahwa kebutaan yang terburuk adalah buta politik.

Ia tidak mendengar, bicara, atau bahkan berpartisipasi dalam peristiwa politik. Ia tak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, ikan, tepung, biaya sewa, harga sepatu, dan obat, semuanya bergantung pada keputusan politik.

Orang-orang yang buta politik, lanjut Brecht, adalah orang yang begitu bodoh, yang dengan bangga membusungkan dadanya dan berkata kalau ia benci politik.

Si dungu ini tidak tahu kalau kebodohan politiknya melahirkan pelacuran, anak-anak terlantar, pencuri paling buruk, politikus busuk, serta korporat nasional dan multinasional yang korup dan bobrok.

Politik harus kita pahami. Setidaknya, yang perlu kita pahami adalah mekanisme politik elektoral.

Filsuf seleb Slavoj Zizek dalam The Perverts Guide to Cinema (2006) menjelaskan bahwa untuk memahami dunia saat ini, kita perlu sinema secara harfiah. Hanya lewat sinema itulah kita mendapatkan dimensi krusial yang tak siap kita hadapi dalam realitas kita.

Jika kita mencari apa yang sebenarnya lebih nyata dari realitas itu sendiri, lihatlah fiksi sinematik. Sinema, sebut Zizek, adalah seni penampilan, ia memberi tahu kita sesuatu tentang realitas itu sendiri.

Forbes pernah menulis rekomendasi 10 film Hollywood tentang kampanye dan politik elektoral, sementara Huffington Post menyajikan 5 film dokumenter untuk memahami kegaduhan politik karena pemilu Amerika Serikat yang memenangkan seorang Donald Trump.

Bahasa politik memang universal, selalu begitu, namun film-film yang direkomendasikan terasa sangat berjarak. Maka, saya mencoba memilah 5 film asal Korea Selatan, negara yang sama-sama Asia, cuma beda kemerdekaan beberapa hari, pernah dipimpin pemerintahan militer-ototarian, dan 10 tahun lebih cepat memulai era reformasi dari Indonesia.

Inilah 5 film tersebut:

1. Socialphobia (2014)

mubi.com

Film ini memang tak terkait langsung dengan politik elektoral, tapi menyoal sisi gelap media sosial. Menyoroti para seleb medsos, yang dalam film ini disebut keyboard warrior.

Jiwoong dan Yongmin kesal dengan seseorang dengan akun online Re-Na. Karena merasa nggak cukup cuma twitwar, mereka berdua mencari tahu identitas aslinya dan menemukan nama dan alamat aslinya.

Sembilan orang pergi ke apartemennya untuk meminta permohonan maaf. Namun, ketika mereka tiba di rumahnya, mereka mendapat kesialan dan akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib.

Kehadiran internet, khususnya media sosial, makin memperumit kehidupan manusia modern. Ketika komentar merendahkan di-tweet, netizen mengamuk, dan mulai ada penggalangan untuk melawan cuitan immoral tadi.

Orang cenderung sangat argumentatif, reaktif, atau sangat provokatif atas hal-hal sepele di ranah maya. Kadang, konflik yang terjadi di ranah maya bisa berlanjut di kehidupan nyata.

2. Inside Men (2015)

mubi.com

“Duit, media, dan kandidat presiden. Threesome yang mengesankan,” ungkap Lee Byunghun, si preman yang mukanya mirip Sule.

Seorang preman kampung yang jadi antek politik berusaha membalas dendam, karena dijatuhkan oleh politikus kejam. Sementara seorang penyelidik idealis memutuskan jadi jaksa untuk memutus lingkaran setan perpolitikan di Korea Selatan.

Preman dan jaksa muda tanpa koneksi ini mencoba melawan sirkel konglomerat, politikus, dan redaktur koran nasional. Suap menyuap, praktik premanisme, skandal seks, dan pura-pura sakit, ehm, terjadi saat pemeriksaan.

Seperti judulnya, film ini memperlihatkan bagaimana koneksi orang dalam adalah koneksi paling kuat dan paling cepat. Ada lingkaran setan yang menggurita dalam kebusukan perpolitikan.

3. The Truth Beneath (2016)

mubi.com

Ceritanya menyajikan sejumlah komentar sosial mengenai kekejaman dunia remaja, korupsi dan imoralitas politik, hubungan antara orang tua dan anak-anak, serta rahasia tersembunyi yang berdampak banyak pada orang-orang. Pesan yang paling jelas adalah bahwa “semua orang berbohong”.

Yeon-hong mendukung suaminya mencalonkan diri dengan sepenuh hati, tetapi saat hari pertama kampanye, putri mereka menghilang. Ketika hari-hari berlalu dan polisi tak menemukan petunjuk apapun, Yeon-hong menjadi semakin putus asa.

Pada saat yang sama, ia marah dengan suami dan sikap tim suksesnya, yang tampak tak peduli apapun kecuali kampanye.

Yeon-hong memulai penelusuran untuk mencari putrinya dan menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang putrinya, dan juga tentang suaminya. Hal-hal yang ia temukan dan nasib putrinya membawanya menuju kemarahan, yang juga berfungsi sebagai kekuatan pendorongnya.

4. The King (2017)

mubi.com

“Lupakan harga diri, tetap berdiri di sebelah penguasa,” nasihat seorang jaksa senior pada sang jaksa muda. Sebuah wejangan bijak Machiavelian agar hidup enak, karena sandaran paling nyaman adalah kapital dan kekuasaan.

Jaksa muda itu Park Tae-soo, anak bandel dari seorang jagoan kampung. Setelah melihat ayahnya dipukuli oleh seorang pria yang jauh lebih lemah darinya, yang kebetulan seorang jaksa, ia memutuskan bahwa inilah cita-cita yang diinginkannya.

Ia berhasil masuk sekolah hukum paling bergengsi dan akhirnya menjadi jaksa. Namun, segera, dia menyadari bahwa pekerjaannya tidak begitu bergengsi, karena melibatkan jam kerja panjang dan upah sedikit.

Karena berkeras mengurus kasus yang melibatkan anggota keluarga orang penting, Tae-soo dibungkam dengan diperkenalkan ke dalam lingkaran ‘1%’ jaksa yang benar-benar punya banyak koneksi dan menghasilkan banyak uang.

Yang menarik adalah bahwa tim jaksa itu punya pengarsipan kasus hukum dan skandal yang sewaktu-waktu akan dirilis ke publik. Baik untuk mengalihkan isu atau menjatuhkan lawan politik dari pejabat publik yang didukung.

5. The Mayor (2017)

mubi.com

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, walikota Seoul yang telah menjalani dua periode berniat melaju lagi untuk ketiga kalinya. Selain harus melawan pesaingnya, walikota ini dihadang oleh ketua partainya sendiri yang khawatir bakal disaingi saat pemilu presiden nantinya karena kalah populer.

Tim sukses walikota ini merekrut seorang perempuan muda yang masih polos, namun berbakat di bidang periklanan. Perempuan itu dipaksa melihat, bahkan terlibat langsung, dalam proses kampanye hitam.

Ia juga berperan penting dalam pencitraan di lapangan, menyelidiki bahkan membuat-buat kesalahan dan skandal untuk calon lain, hingga mencuri kunci jawaban pertanyaan-pertanyaan debat publik.

Film ini mengikuti karier dan kehidupannya dari awal kampanye sang walikota hingga hari setelah pemilihan. Berkisah tentang konflik, konspirasi, dan korupsi di antara tim walikota yang melibatkan pengkhianatan, pemerasan, narkoba, pembunuhan, prostitusi, bunuh diri, dan pencurian.

Hmmm…

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN