Film Dokumenter Wakil Rakyat yang Mengharukan Banget

Film Dokumenter Wakil Rakyat yang Mengharukan Banget

Saya selalu ingin membuat film dokumenter tentang para wakil rakyat. Bukan tanpa sebab. Selama ini, citra anggota DPR itu terlanjur lekat dengan hal-hal negatif. Saya tentu saja tidak percaya 100%. Media suka melebih-lebihkan bukan? Maka dari itu, film dokumenter dibutuhkan.

Lewat film, publik dapat tahu kehidupan sehari-hari para wakil rakyat tersebut. Memang adegan-adegan apa yang perlu disajikan dalam film itu? Banyak.

1. Keluarga Bahagia

Adegan ini dapat dibuka dengan gambar yang menunjukkan betapa bahagianya para wakil rakyat saat kunjungan ke luar negeri. Diperlihatkan pula keluarga mereka yang turut serta. Tidak seperti yang banyak diberitakan media kalau wakil rakyat tukang selingkuh. Kalau perlu disertai komentar anak istri mereka.

“Saya senang ikut kunjungan ke luar negeri. Saya jadi tahu betapa rumitnya tugas suami saya. Ya tidak apa-apa kalau ini dianggap liburan dan dibiayai rakyat. Namanya juga wakil rakyat. Tugasnya berat sekali, sampai-sampai waktu di Amerika harus extend jadi 14 hari dari jadwal 3 hari. Jadi wajar saja anggarannya lebih dari Rp 2,5 miliar. Apalagi yang ikut jadi banyak, yang seharusnya 7 jadi 20 orang.”

2. Kerja sampai Pagi

Adegan ini dibuka dengan gambaran orang-orang yang tidur nyenyak. Di sisi lain, ditampilkan pula bagaimana para remaja gegap gempita menikmati konser musik EDM sampai pagi.

Baru adegan selanjutnya memunculkan wakil rakyat yang sedang sibuk menatap layar laptop. Kalau perlu tampilkan merek laptopnya. Ya jangan laptop bermerek buah. Carilah produsen laptop lokal dan minta mereka beriklan di adegan tersebut. Selain promosi laptop lokal, adegan ini menunjukkan betapa nasionalisnya para wakil rakyat.

Jangan lupa tampilkan berkas kerja yang menumpuk supaya terkesan bahwa pekerjaan mereka mahaberat. Cari wakil rakyat yang belum tidur berhari-hari sebagai aktor dalam adegan tersebut. Niscaya publik akan percaya betapa mata yang berkantung-kantung menjadi penanda bahwa ia menjalankan slogan kerja, kerja, kerja.

Lewat adegan ini publik bakal terharu saat menonton. Mereka akan menghargai wakil rakyat yang bekerja sampai dini hari demi rakyat. Jangan lupa, setelah selesai syuting adegan ini, wakil rakyat dengan mata berkantung-kantung yang menjadi aktor dipersilakan tidur siang. Kasihan… Lho, bukannya ada jadwal rapat?

3. Blusukan

Perlu adegan lain untuk bisa memancing derai air mata penonton lebih deras lagi. Adegan tersebut perlu bantuan figuran berupa tukang ojek. Ingat, dalam adegan ini yang dipakai tukang ojek. Bukan ojek online.

Tampilkan bagaimana para wakil rakyat menggunakan ojek saat blusukan. Adegan ini bisa menunjukkan bahwa mereka tidak berjarak dengan rakyat. Mereka turut merasakan penderitaan rakyat. Adegan ini tentu akan lengkap, apabila disertai dengan dialog khas warung kopi.

“Sejak ada ojek online, penghasilan saya berkurang pak,” begitu tukang ojek membuka pembicaraan. “Memang berkurang berapa?” tanya si wakil rakyat. “Banyak pak. Harusnya ojek online dilarang saja ya pak oleh pemerintah. Tapi ya itu, pemerintah ndak tegas. Ndak bisa melindungi rakyat kecil kayak kami,” tutur si tukang ojek.

Adegan itu tentu saja dilanjutkan dengan macam-macam keluhan rakyat yang disampaikan lewat tukang ojek. Sebagai penumpang, wakil rakyat hanya perlu mendengarkan. Sungguh adegan ini akan memperlihatkan betapa mereka mendengar suara rakyat, langsung dari rakyat.

Tampilkan pula ilustrasi musik yang menggiring penonton untuk merenung. Ambilah contoh iklan-iklan di Thailand yang kerap membuat pemirsa menangis.

4. Dermawan

Pada akhir adegan ini tampilkan pula bagaimana wakil rakyat tidak meminta uang kembalian kepada tukang ojek. Suatu adegan yang bisa membuat publik sadar betapa dermawan dan baik hatinya para wakil rakyat. Sebagai penutup, tampilkan pula raut wajah para wakil rakyat yang menyesal, karena belum bisa membahagiakan rakyat.

Setelah persoalan adegan selesai, penyajian dan format film tentu perlu dipikirkan. Untuk apa membuat film kalau tidak ditonton?

Film dokumenter wakil rakyat semacam ini tentu tidak perlu dibuat dalam format yang panjang. Penonton bisa bosan. Jangan pula ditayangkan di bioskop. Tayangkan saja di televisi swasta nasional pada jam-jam tayang utama. Jangan tampilkan sebagai berita. Selipkan di antara iklan-iklan.

Fim ini juga tidak perlu ada trailer di internet, apalagi menggunakan jasa buzzer untuk promo. Tidak perlu. Biarkan film tersebut hadir secara tiba-tiba dan menjadi bahan perbincangan publik.

Tampilkan juga film ini di Youtube. Bagian komentar jangan dinonaktifkan. Biarkan publik berkomentar apa adanya. Ini akan menjadi bukti bahwa publik juga sangat perhatian kepada para wakil rakyatnya.

Bagaimana komentar sodara-sodara? Terharu kan?

Foto: hdwallpaperbackgrounds.net