Alasan Mengapa Saya Tidak Tertarik Nonton Film Dilan

Alasan Mengapa Saya Tidak Tertarik Nonton Film Dilan

Instagram/film_dilan1990

Rindu, Berat, Gak akan kuat. Lima kata itu mendadak berseliweran di gawai dalam beberapa hari terakhir.

Ya, itu karena film “Dilan 1990” sudah mulai tayang di bioskop. Pada hari pertama penayangannya saja, sudah ada 225 ribu orang yang tercatat ikut menonton film besutan sutradara Fajar Bustomi ini.

Wajar, kalau lima kata tadi berseliweran dengan beragam variasinya. Kalau kamu sudah baca novel “Dia adalah Dilanku Tahun 1990” karya Pidi Baiq, kamu pasti tahu kalimatnya yang quotable ini: “Rindu itu berat, kau gak akan kuat. Biar aku saja.”

Oleh para warganet kreatif, dan dengan didorong oleh keinginan luhur untuk modusin mantan atau gebetan, kalimat itu dipelintir lalu dipasang di IG story masing-masing: “Nonton film Dilan itu berat, kamu gak akan kuat. Nonton sama saya aja yuk?”

Dih, apaan..? Modus nanya kabar pas gempa kemarin memangnya masih gak mempan, cuy? Disemprit Airmin baru nyaho lo.

Kisah cinta Dilan dan Milea memang bikin banyak anak muda baper. Untuk kaum hawa, mungkin kisah ini bisa buat mereka bermimpi jadi Milea yang diperjuangkan dengan begitu manis oleh Dilan. Buat kaum adam, mungkin mereka berharap bisa jadi seperti Dilan yang badboy tapi tidak playboy.

Kenapa harus jadi badboy? Ya karena bosan jadi korban ucapan, “Kamu terlalu baik buat aku.”

Apapun itu, Pidi Baiq memang sukses mengangkat kisah ‘cinta monyet’ masa SMA antara Dilan dan Milea. Kisah yang berlatar tahun 1990 di kota Bandung ini, muncul pertama kali tahun 2013 melalui blog pribadi Pidi Baiq. Kisah Dilan dan Milea adalah sebuah cerita panjang di blog pribadi yang kemudian dijadikan novel.

Sejauh ini, bagi saya, tidak ada yang lebih menyenangkan dalam mengikuti kisah Dilan dibanding dulu ketika Pidi Baiq menulis cerita itu di blognya separuh-separuh. Sebagai pembaca, saya selalu menunggu dan hampir setiap hari menengok laman tersebut.

Saya selalu menanti dengan cemas dan gemas demi mengetahui apa update terbaru dari cerita ini. Eh, pas buka blognya Surayah (panggilan Pidi Baiq), ternyata belum ada update-an!

Rasanya seperti diberi harapan palsu. Rindu-rindu gimana gitu. Kamu pernah juga kan dapat harapan palsu?

Perasaan seperti itulah yang mengiringi selama mengikuti kisah Dilan dan Milea di blognya Surayah. Serba ‘kentang’ dan penasaran.

Berhari-hari, pada masa itu, pikiran jadi penuh oleh imajinasi tentang kisah Dilan dan Milea. Diam-diam, saya coba menebak ke mana lagi alur cerita yang akan disajikan Surayah.

Lalu, ketika update-annya muncul, imajinasi ini langsung ambyar. Ternyata kisah lanjutannya selalu di luar ekspektasi.

Itulah kenapa saya selalu ingat bagian saat Dilan memberikan hadiah ulang tahun kepada Milea. Sambil menunggu update-an berhari-hari, saya coba menebak hadiah apa yang akan diberikan Dilan.

Saya coba memposisikan diri jadi Dilan yang sedang mendekati Milea. Lalu berimajinasi, hadiah apa yang akan saya berikan untuk menarik perhatian Milea, kalau saya seorang Dilan.

Lalu, update-an dari Surayah pun muncul di blognya:

Dengan rasa penasaran, pelan pelan kusobek ujung dari pembungkus kado itu. Dan, baiklah, langsung kuberitahu apa isinya: buku TTS!

Kubuka-buka TTS itu barangkali ada hal lain di dalamnya yang ia sisipkan sebagai inti kado yang sesungguhnya. Dan ada, yaitu selembar kertas berisi tulisan tangan yang dibikin sebagus mungkin:

“SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA. INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS. TAPI SUDAH KUISI SEMUA. AKU SAYANG KAMU. AKU TIDAK MAU KAMU PUSING KARENA HARUS MENGISINYA. DILAN!”

Ih! Anyiiiingg… hadiah macam apa ini? Seketika saya merasa kalah dari Surayah. Tapi, ini kekalahan yang berharga, karena saya dibuat ngakak puas banget. Surayah memang jenius!

Hingga suatu saat, tidak pernah ada lagi update Dilan dan Milea di blognya Surayah. Terdengar desas-desus bahwa kisah ini akan dibukukan dalam bentuk novel. Dan memang benar.

Saya jadi kehilangan rasa senang, karena sudah tak bisa lagi merasa harap-harap cemas menanti update cerita Dilan yang sepotong-sepotong itu. Meski akhirnya membeli juga tiga seri Novel Dilan, tapi rasanya tetap beda. Kehilangan rasa penasaran yang dulu justru jadi daya tarik tersendiri.

Lalu, Dilan dan Milea tiba-tiba jadi perbincangan banyak orang. Kalau dulu, sulit mencari orang yang bisa diajak bicara mengenai dua tokoh tersebut – rata-rata hanya orang Bandung atau yang pernah tinggal di Bandung. Tapi sekarang sudah banyak sekali orang yang bisa saya ajak bicara tentang ini.

Membicarakan Dilan sudah terasa, maaf, snob belaka. Egois sih, memang. Tapi mau bagaimana. Jika sudah tidak berdebar-debar lagi rasanya kok ya hampa. Apalagi yang masih menarik?

Dan, sekarang Dilan masuk layar lebar. Saya benar-benar tidak tertarik untuk menontonnya, walaupun banyak review yang bilang film ini bagus. Apalagi, katanya, Pidi Baiq yang awalnya sempat tidak berniat membawa Dilan ke layar lebar ikut duduk di kursi sutradara.

Pidi bertugas membangun karakter Dilan versi nyata, yang mana belum tentu sesuai dengan Dilan versi masing-masing pembaca. Dari salah satu review, karakter Dilan dikatakan benar-benar tampil ikonik. Detil-detil yang ada di tulisan tersaji dengan baik di film ini.

Bahkan, jika kita sudah hapal urutan cerita serta dialog antara Dilan dan Milea, katanya lagi, menonton film ini seperti menguji ingatan. Baru muncul sedikit adegan saja kita sudah bisa bergumam pelan atau membatin.

Ah… Dilan 1990, mungkin kamu memang bagus. Tapi, aku belum ingin menontonmu. Gak tahu kalau sore. Tunggu aja…

2 KOMENTAR

  1. jujur saja nonton film dilan itu bikin muak.. pengen muntah.. ada kids jaman now yg punya otak kayak org2 tua jmn dlu… terdampar ya? mukanya ga cocok bgt. btw. soal karakter dilan… ga cocok utk set thn 90.. apa karena anak tajir ya?. apa karena cm nonton film saja kali..?

  2. Saya dulu juga sama ikut menanti-nanti Surayah update Milea-Dilan di blognya. Tapi sejak blog Surayah berhenti update, saat itu juga saya berhenti penasaran dengan cerita yang sudah dibukukan belakangan. Bukan tanpa alasan, waktu Pidi Baiq masih menulis di blog, saya menganggap bagian cerita “tidak ada rasa hormat terhadap guru” masih aman untuk dikonsumsi khayalak terbatas YANG, MEMANG SUDAH MENGENAL PIDI BAIQ.

    Sedikit mengulas, saya SMA di sekolah homogen laki-laki yang cukup brutal (bak film GENJI) dan liberal pada pertengahan akhir dekade millenium. Di SMA model seperti itu saja, dengan jaman yg sudah berubah (reformasi), tidak pernah saya ketahui kawan/siswa pernah memperlakukan guru dengan sangat tidak pantas, walaupun hubungan murid dan guru di sekolah saya sudah seperti kawan sepermainan semenjak berdirinya sekolah tersebut.

    Meskipun saya cukup “kaget”–dalam maksud apakah mungkin di jaman otoriter dulu pernah ada seorang Dilan di daerah bernama Bandung–saat mengetahui Pidi Baiq membuat alur cerita seperti yang sudah kita ketahui, namun saya bisa memperkirakan apa maksud dari cerita Surayah kalau tidak dibilang mengenal persis siapa Surayah yang lekat dengan ocehan argumentum In Absurdum-nya.

    Maka sewaktu cerita itu sudah dibukukan, saya merasa tidak perlu lagi antusias membeli karya Pidi Baiq yang masih kalah masterpiece dengan karya-karyanya sebelumnya dan tidak perlu mengusik urusan dapur seseorang. Belakangan ketika muncul kasus pembunuhan guru oleh siswanya sendiri, dan ada juga video viral murid SMP menantang guru bergelut, saya mulai merasa gerah dan mewanti-wanti generasi micin dewasa ini takutnya menjiplak persis adegan seperti dalam cerita Dilan.

    Bersamaan dengan komentar ini atas artikel bung Hidayat, saya cukup berharap kepada masyarakat agar demam Dilan sebaiknya tidak perlu dilebih-lebihkan mengingat ketidakpatutan moral yang ada di dalamnya bersanding dengan keadaan di sekitar kita saat ini.

TINGGALKAN PESAN