Tidak Ada Film Anak di Bioskop Hari Ini

Tidak Ada Film Anak di Bioskop Hari Ini

Ilustrasi film anak Knight Kris (Viva Fantasia Animation dan SSS Productions)

Kalau ngomong film Avengers: Infinity War yang booming, nggak ada kelarnya. Mulai dari ribut bin berantemnya netizen gara-gara spoiler, review ala-ala pengamat film profesional, hingga review ala kadarnya.

Apalagi kalau sekadar pamer meme atau promosi terselubung guna menghidupkan kembali tren batu akik ala Thanos, walah, nggak kehitung judulnya.

Makanya, nggak kaget juga sih waktu Rotten Tomatoes merilis berita bahwa Avengers: Infinity War meraih keuntungan jauh lebih besar dibanding film Marvel sebelumnya, Black Panther.

Ya gimana, ibarat sepak bola, Avengers: Infinity War bukan sekadar partai laga serie A, tapi juga big match yang pemainnya bintang semua. Bayangkan, kalau di tahun 90-an, punya tim bola yang isinya Buffon, Maldini, Cannavaro, Thuram, Matthaus, Ballack, Zidane, Del Piero, Beckham, Cantona, gimana rasanya?

Bagi kaum hawa seperti saya sih jelas mumet. Lha, lihat kecengan segambreng jadi satu di lapangan bola? Duh, ketimbang rebutan, bolehlah kubelikan bola satu-satu. Mereka cukup rebutan saya aja, haha…

Wes, jangan protes, pemain kok lawas semua? Ya karena saya pensiun nonton bola sejak babang Maldini gantung sepatu. Rasanya, big match selegit apapun, di manapun, kurang nendang tanpa tendangan kapten legendaris yang satu itu. Makanya, Forza Milan tetap yang utama!

Halah, jadi promosi hihihi…

Nah, bisa dibayangkan, kalau laga big match pemainnya kelas wahid semua, siapa yang nggak bakal kepincut untuk duduk manis mantengin jalannya pertandingan, coba? Sama halnya dengan Avengers: Infinity War.

Bersyukurlah kalian wahai jombloers, karena bully-bully-an pada kalian para penghuni kolom kesepian di bumi ini sedikit teralihkan. Sebab, banyak orang mabuk batu akik, eh Infinity War, yang bahkan efeknya begitu dahsyat hingga turut menenggelamkan berita orang mabuk miras oplosan.

Tapi sayangnya, buat emak-emak macam saya, tak ubahnya semacam disodorin rujak di siang bolong, pas sariawan di lidah lagi asoy-asoynya. Mau nggak makan kok ngiler, tapi kalau ikut makan kok sariawan cekut-cekutan, hiks.

Kok bisa?

Ya bisalah, ini bocah cilik-cilik sudah pakai jurus kedap-kedip merayu manja pengen nonton juga di bioskop. Padahal, itu film buat usia 13 tahun ke atas. Sebagai emak-emak yang sok perhatian sama anak, jelas say no to yo.

Jadi ibuk-ibuk, kalau punya anak di bawah 13 tahun, anaknya nggak boleh nonton adegan-adegan di film Avengers: Infinity War. Walau tetep aja sih, petugas loket mengiyakan dan penjaga pintunya pasti mempersilahkan masuk. Yang penting bayar kan?

Nah, ini masalahnya. Bukan cuma orangtua yang enteng membawa anak-anaknya nonton di bioskop, walau mereka belum cukup umur, tapi ranah sinema kita juga minim sekali menyuguhkan film anak-anak.

Jangankan ngomong film anak produksi negeri sendiri, film anak atau paling nggak film untuk semua umur dari luar negeri pun sangat terbatas penayangannya di bioskop-bioskop Tanah Air. Syedih…

Contohnya film A Wrinkle in Time yang diputar di bioskop kota saya. Hanya kurang dari 1 minggu. Keren kan, nggak nyampe 4 hari cyynnn… Hari biasa pula, nggak ada saat weekend.

Yang bikin ngedumel sambil ngemil rempeyek satu toples, eh kok ya nemunya film Danur lagi yang diputar di bioskop. Ya gimana bocah-bocah cilik mau nonton? Selain nggak boleh untuk bocah, film ini syerem. Yang ada nanti pulang nggak bisa tidur.

Nyesek kan? Berasa kayak jemuran lupa diangkat, hiks.

Sebetulnya, industri perfilman kita ini masih menganggap anak-anak sebagai salah satu pangsa pasar nggak sih? Kok kayaknya nggak terlalu berpihak pada kemaslahatan bocah-bocah cilik, yang juga sesekali butuh hiburan semacam nonton bioskop.

Coba cek deh, daftar film anak sepanjang tahun 2017 apa aja? Dari berpuluh-puluh film, hanya ada 2 film anak yang hasil produksi dalam negeri. Film Naura & Genk Juara dan animasi Knight Kris. Banyak banget kan? Sampai mentok kalau dihitung pakai kalkulator. Nggak bisa nambah lagi.

Film yang pertama, Naura & Genk Juara. Selain menghibur anak-anak, film ini juga membuat orang dewasa bernostalgia sekian tahun silam pada film yang dibintangi Sherina Munaf, Petualangan Sherina.

Boleh dibilang film Naura & Genk Juara sedikit membayar kerinduan pada film anak-anak produksi negeri yang terakhir saya tonton, yaitu film Denias, Senandung di Atas Awan, pada 11 tahun lalu. Jauh banget kan jaraknya, antara Denias yang rilis 2006 dengan Naura yang tayang pada 2017?

Film Naura & Genk Juara juga lumayan memberi ’pencerahan’ pada bocah-bocah di negeri ini, bahwa ternyata masih ada yang memperhatikan anak-anak di negeri ini. Karena jujur saja, selain film anak, bocah-bocah kita juga miskin sekali sama hiburan anak.

Misalnya hiburan berupa lagu anak. Masih untung lah, era 90-an hingga awal 2000, ada yang namanya Melissa, Joshua, Trio Kwek-Kwek, dkk. Coba anak sekarang disuruh nyanyi, eh malah nyanyi Jaran Goyang, dududu…

Tapi tetap saja, yang namanya netizen Indonesia raya ini nggak mungkin kalau nggak julid. Film Naura & Genk Juara pun tak lepas dari sasaran komentar mahabenar dengan segala apriorinya.

Film yang seharusnya mendapat apresiasi tinggi ini justru jadi sasaran fitnah, dengan tuduhan tak tanggung-tanggung, yaitu penistaan agama. Hanya karena salah satu adegan menampilkan penjahat yang membaca doa sebelum melakukan aksi kejahatan.

Lain lagi dengan film animasi Knight Kris. Film garapan Viva Fantasia Animation dan SSS Productions ini malah lebih epik lagi. Kenapa? Pemutaran film animasi anak layar lebar pertama yang dibuat oleh anak negeri ini benar-benar amat sangat terbatas.

Sebel betul kalau inget pas telpon ke bioskop yang lumayan keren di kota Semarang perihal film Knight Kris.

Maaf bu, untuk film tersebut, tidak ada jadwal tayang di bioskop kami. Mungkin ibu tertarik dengan judul lainnya, kami masih memutar film X di bioskop kami. Untuk minggu depan, kami akan memutar film XX, apa ibu tertarik?”

Dan, dari segala cerita tentang susahnya bikin film animasi dengan cerita bagus tapi tak sepopuler film horor di negeri ini, saya menjura pada mas Deddy Corbuzier yang masih sempat memikirkan nasib tontonan anak-anak di negeri tercinta ini.

Mungkin sudah saatnya, para sineas dalam negeri kembali memperhatikan kebutuhan anak-anak akan hiburan sehat. Tak hanya sibuk membuat film drama percintaan ABG atau film horor yang hantunya gentayangan nggak kelar-kelar.

Lagipula, nggak usah lah dicekoki dengan segambreng film horor, wong kenyataan hidup dengan isi dompet seadanya juga sudah lebih horor dari suara tertawa Suketi, eh Suzanna, sang ratu horor Indonesia.

Penduduk di negeri ini kurang lebih sebanyak 260 juta jiwa, dengan persentase anak-anak berusia di bawah 14 tahun sebesar 27,3%. Masa iya, dengan jumlah sebanyak itu, nggak ada gitu sineas Indonesia yang tertarik menggarap tontonan yang sesuai dengan mereka?

Sementara sineas luar, terus saja secara berkala menyuguhkan tontonan-tontonan berkualitas kepada anak-anak. Sebab, mereka tak hanya sekadar menonton film, melainkan belajar tentang banyak hal.

Seperti film Coco buatan Pixar tahun 2017. Selain menyuguhkan sinematografi berkualitas, film animasi ini juga sarat dengan pelajaran berharga tentang keluarga.

Kalau sudah begini, rindu rasanya dengan sosok berkumis yang lebih terkenal dengan nama Pak Raden. Almarhum Suyadi ini, dengan segala keterbatasan media saat itu, mau dan mampu menciptakan film seri Si Unyil. Tujuannya amat mulia, yakni mendidik anak-anak negeri ini.

Ah ya, kita kembali jadi jamaah Youtube sajalah ya nduk, nonton Peppa Pig alias Peppa si Babi sajalah, ketimbang nonton Avengers: Infinity War yang cuma rebutan batu akik itu.

Yah, siapa tahu, kelak ada tontonan yang pas untuk anak-anak, ketika para elit negeri ini nggak lupa sama kalian. Bahwa kalian juga butuh hiburan, nggak kayak orang-orang dewasa yang setiap hari lihat tontonan lucu nan menghibur di Senayan.