Menjadi Seorang Feminis Jawa Kekinian

Menjadi Seorang Feminis Jawa Kekinian

Dokpri

Sebagai perempuan Jawa, saya pernah ditanya apakah bisa menjadi seorang feminis? Lalu, bagaimana menjadi seorang feminis Jawa kekinian?

Pertanyaan yang sebenarnya sulit, karena tidak ada patokan yang pas untuk itu. Sama halnya dengan bagaimana seharusnya menjadi seorang laki-laki pada masa kini.

Saya punya teman, sebut saja namanya Ayu. Kami sama-sama perempuan Jawa dan feminis. Dia bisa nyinden dan berbicara bahasa Jawa. Sedangkan saya bisa menari, namun tidak bisa bicara bahasa Jawa.

Ada banyak hal yang berbeda di antara kami, walaupun sama-sama mendefinisikan pengalaman hidup dan identitas sebagai feminis Jawa. Namun, dalam beberapa aspek, kami menghadapi rintangan yang sama, terutama dari keluarga dan budaya.

Padahal, kalau kita benar-benar memahami Pancasila, rintangan itu seharusnya tak ada. Mengapa? Karena Pancasila sebetulnya sudah sangat feminis. Itu mengapa sebelumnya saya perlu menulis artikel berjudul ‘Pancasila dari Kacamata Perempuan Milenial’, yang mana artikel tersebut menuai kritik.

Kritikan itu seolah ingin menyampaikan bahwa tulisan saya menyederhanakan perdamaian Pancasila dengan feminisme. “Jika Pancasila sudah feminis, lantas mengapa hal itu tidak terjadi?” Kira-kira begitu pertanyaannya.

Pertanyaan itu sebenarnya sama saja dengan pertanyaan seperti ini: “Kalau agama sudah mengajarkan kebaikan, tapi mengapa masih ada orang yang melakukan kejahatan atas nama agama?”

Lalu, apa bedanya dengan ini: “Kalau Pancasila mengajarkan kehidupan bernegara yang baik, tapi mengapa itu belum sepenuhnya terjadi?”

Memperumit proses perdamaian Pancasila dengan feminisme hanya akan membuat rintangan-rintangan semakin tinggi. Pertanyaan “apakah perempuan Jawa bisa menjadi seorang feminis” akan selalu ada dan berlipat ganda layaknya pertanyaan “kapan nikah” saat Lebaran.

Padahal, dalam konteks kekinian, yang katanya ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’, pertanyaan itu seharusnya sudah usang. Sekali lagi saya sampaikan, jika kita bernegara berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, segala hal yang ada di dalamnya sangatlah feminis, meski dalam perumusannya tidak melibatkan perempuan atau mungkin tidak ada.

Tapi, kemudian ada yang nanya, “Feminisme yang mana?”

Jadi begini. Kita perlu memahami bahwa ilmu mengenai feminisme baru berkembang dan dibukukan pada akhir abad 18. Meski begitu, kekuatan dan perjuangan yang berdasarkan semangat kebersamaan perempuan sudah ada jauh sebelum abad 18. Bahkan, banyak suku di muka bumi yang bergantung pada kepemimpinan perempuan.

Kalau mau ditelisik lagi, banyak sekali budaya Indonesia yang cukup feminin sebagai pegangan hidup. Terlebih, banyak sifat Tuhan yang sangat feminin seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim, maha pengasih, maha merawat, dan lainnya.

Dalam buku ‘Kuasa Wanita Jawa’ karya Christina S Handayani, disebutkan bahwa prinsip hidup orang Jawa yang harus lembut, halus, dan bersabar merupakan sifat feminin yang sudah lama diajarkan pada perempuan maupun laki-laki secara turun-temurun.

Terlepas tatanan sosial masyarakat Jawa yang masih menjunjung hirarki, kita tidak bisa melupakan filosofi-filosofi yang masih ada dan berpengaruh hingga hari ini. Kita juga tidak bisa melupakan bahwa Jawa merupakan asimilasi dari keragaman filosofi, termasuk Animisme, Hindu, Buddha, dan Islam.

Saya tidak sedang mengglorifikasi budaya Jawa, namun inilah yang dekat dengan kehidupan saya sehari-hari. Jadi, kalau ada yang nanya “feminisme yang mana”, lagi-lagi kita beranggapan bahwa seolah-olah hanya perempuan barat saja yang bisa membebaskan diri.

Pandangan itu tidak memberikan keragaman terhadap pemahaman feminisme, sehingga terkesan bahwa orang lain selain orang barat tidak bisa berfikir untuk dirinya sendiri dan harus diselamatkan oleh orang barat yang lain.

Ini bukan berarti saya anti-intelektualisme atau anti-kepakaran atau apapun itu, yang mencoba mendelegitimasi pemikiran para filsuf feminis terdahulu. Oh tidak… Namun, kita harus menyadari bahwa feminisme bukan hanya milik sekelompok orang yang berhasil mengkapitalkan pemikiran dalam buku melalui mesin percetakan.

Dan, mempakemkan feminis eksistensialis ala Simone de Beauvoir kepada perempuan sungguh tidaklah mudah. Sebab, pengalaman perempuan sangat beragam dan tidak bisa diseragamkan. Perempuan Indonesia, terutama paska kolonialisme, mengalami penjajahan bertubi-tubi.

Karena itu, kita tidak bisa serta merta menghardik seorang perempuan untuk menjadi real feminist. Sebab, pengalaman perempuan beragam, bahkan di antara perempuan Jawa juga terdapat perbedaan pengalaman.

Jika kita terus-menerus memberi panduan manual kepada perempuan, maka feminisme tidak akan melepaskan perempuan dari belenggu. Yang ada malah menambah tekanan. Harus diakui, seringkali muncul ekspektasi berlebihan kepada perempuan Jawa, karena cenderung submisif.

Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa di balik sikap yang terlihat submisif terdapat kekuatan yang tak banyak orang mampu memahami. Pada refleksi tulisan saya atas Third Culture Kid (anak yang tumbuh dengan budaya di luar budaya orang tuanya), saya menemukan berbagai makna dalam submissiveness.

Sayangnya, makna submissiveness diartikan keliru dalam banyak tatanan masyarakat, terutama dalam masyarakat yang patriarkis. Dalam tatanan masyarakat seperti itu, submissiveness dilihat sebagai kelemahan, sehingga perempuan diwajibkan untuk berserah demi memperlihatkan ego dan kekuatan laki-laki.

Padahal, bentuk berserah diri perlu dipraktikkan oleh setiap manusia. Tak hanya perempuan, tapi juga laki-laki. Bentuk penyerahan diri yang dimaksud adalah berserah kepada pencipta, sang khalik, atau bahkan kepada diri sendiri, bukan bentuk penyerahan terhadap orang lain.

Berserah diri adalah bentuk kekuatan yang bahkan kekuatan otot tak dapat memiliki.

Yang terjadi hari ini adalah perempuan dituntut untuk berserah diri dan laki-laki dibebaskan untuk mengikuti hawa nafsu atas nama agama, yang artinya sendiri saja adalah ‘berserah diri’. Situ sehat?

Menjadi perempuan, terutama perempuan Jawa hari ini di tengah penyakit misoginisme yang merajalela, tidak ada standar atau pakem yang memastikan seseorang adalah perempuan Jawa asli atau tidak, feminis sungguhan atau bukan.

Yang ada hanyalah bagaimana kita sanggup merefleksikan apa yang terjadi dalam hidup kita melalui berserah dan tidak meladeni nafsu yang dapat merugikan orang di sekitar, serta terus ikhtiar untuk kebaikan bersama.

Saya Indonesia, saya Pancasila, saya feminis!