Masa Depan itu Feminis: Bukan Hanya Hak Perempuan, tapi Laki-laki juga
FEMINIST FEST INDONESIA

Masa Depan itu Feminis: Bukan Hanya Hak Perempuan, tapi Laki-laki juga

Ilustrasi (jeunes-communistes.org)

“Eh, si itu kan feminis, serem geng!”

“Feminis itu yang menjunjung tinggi perempuan kan?”

OH NOOO! Mereka akan menghancurkan kita!”

“Feminis itu menindas kaum pria!”

Beberapa kutipan di atas sering kali saya dengar ketika orang mendengar kata feminis. Hal ini juga saya alami, ketika beberapa kerabat mengetahui bahwa saya feminis. Beberapa dari mereka mulai nyinyir.

Ada yang ngomong, “Uh, serem.” Ada juga yang bilang, “Kalau ngomong harus hati-hati nih, nanti kita dilaporin ke LSM.”

Saya cuma bisa ketawa miris. Mbok ya cari informasi dulu sebelum komentar. Tapi ya, kita bisa tarik kesimpulan kan bahwa pandangan masyarakat tentang feminisme masih gitu-gitu aja.

Sekarang saya mau nanya, apa yang langsung muncul di benakmu ketika membaca atau mendengar kata feminisme?

Saya pernah bertanya kepada teman laki-laki tentang itu. Lucunya, teman saya bilang bahwa feminisme adalah gerakan yang menentang laki-laki.

Banyak juga yang beranggapan bahwa feminisme adalah budaya Barat, padahal sih nggak juga. Kenapa saya bilang begitu? Sebab gerakan feminisme di Indonesia sudah ada sejak dulu.

Ketika itu, banyak tokoh feminis yang muncul di bumi nusantara, misalnya Cut Nyak Dien dan Kartini, sosok pahlawan nasional yang sering kita baca di buku-buku pelajaran sekolah. Atau, yang tidak pernah kita baca di buku sekolah? Gerwani, misalnya?

Lalu, bagaimana perkembangannya saat ini?

Karena kebetulan saya tinggal di Jakarta, gerakan feminis di ibu kota semakin menguat. Belum lama ini, komunitas feminis yaitu Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG) menjadi inisiator kegiatan Women’s March di Jakarta pada Maret lalu.

Masyarakat yang sebagian besar anak muda tampak antusias menghadiri pawai tersebut. “Kami melihat ada kebutuhan bagi mereka untuk memahami lebih lanjut apa itu feminisme,” tutur Anindya Vivi, salah satu committee.

Vivi juga bilang bahwa selama ini banyak orang melihat feminisme sebagai isu yang hanya berhubungan dengan perempuan. Padahal, feminisme merupakan paham kesetaraan gender dan banyak sekali isu-isu lintas sektor yang melekat padanya.

Ketika berbincang dengan Vivi, ada pertanyaan yang muncul mengapa feminisme itu penting? Saya dan Vivi setuju bahwa feminisme itu penting. Mengapa?

Karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, feminisme tidak melulu tentang perempuan, tidak melulu memperjuangkan hak perempuan, tetapi untuk kaum laki-laki juga.

Selama ini, yang terbentuk oleh lingkungan kita yaitu lelaki harus tangguh, tidak boleh cengeng, harus cari uang, dan seterusnya. Tapi, jika mau ditelusuri, lelaki tidak melulu harus kuat, karena lelaki ataupun perempuan sama-sama manusia yang bisa merasa lelah.

Kata-kata ‘jadi cah lanang gak bole cengeng’ sontak bikin saya kesal, sebab nangis itu kan manusiawi. Gimana, kamu udah nangis belum?

Banyak sekali isu-isu lintas sektor yang melekat pada feminisme yang membuat komunitas Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG) sepakat untuk membuat lanjutan kegiatan dari Women’s March, yaitu Feminist Fest Indonesia 2017. Acaranya berlangsung pada 26-27 Agustus 2017 di SMA 1 PSKD, Jakarta Pusat.

FemFest yang berlangsung selama 2 hari mengadakan kelas diskusi, lokakarya, juga bazaar-bazaar dari LSM dan komunitas yang bergerak dalam isu-isu feminisme.

Feminisme sendiri memberikan ruang dan kesempatan bagi siapapun untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus dibatasi oleh bentukan sosial yang telah ada.

Ya, bagi siapapun, apapun gender, orientasi seksual, kepercayaan, kemampuan ekonomi, maupun strata sosialnya.

Selama ini, budaya patriarki di Indonesia cukup kental. Bahwa lelaki itu superior, pria lebih tangguh dan kuat dibandingkan perempuan.

Tak hanya itu, tubuh perempuan dijustifikasi dan diidentifikasi dengan ketentuan-ketentuan biologis semu. “They said I’m too fat for TV,” ucap Silkina Ahluwalia, yang akrab disapa Silkina.

Kita bisa lihat ada bentukan sosial yang mengidentifikasi tubuh yang ‘ideal’ dan ‘good looking’. Kata-kata yang sebetulnya membatasi kita di ranah sosial. Hal ini tak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga dialami laki-laki.

Salah satu teman pria saya, sebut saja namanya Rifqi, menuturkan bahwa ukuran badan dia yang besar membuatnya tidak bisa mendapatkan posisi pekerjaan sebagai IT di salah satu perusahaan provider ternama.

Jadi, dari beberapa hal yang tadi saya sebutkan, isu-isu lintas feminisme ada di sekeliling kita, di kehidupan sehari-hari. Namun, hal ini masih dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa saja. Padahal, itu salah dan tidak bisa terus menurus dibiarkan.

Karena itu, Feminist Fest Indonesia 2017 memberikan kesempatan bagi LSM dan komunitas bergerak untuk memperjuangkan hak-hak kesetaraan gender.

Bahwa kamu dan aku punya hak yang sama. Mari bersama berantas tindakan diskriminasi terhadap kaum-kaun minoritas. Start it with ourselves!