“Fashionable” Adalah Hak Segala Bangsa. Lakum Salakukum, Waliya Salaky!

“Fashionable” Adalah Hak Segala Bangsa. Lakum Salakukum, Waliya Salaky!

kapanlagi.com

Bagimu gayamu, bagiku gayaku!

Singkat, padat, jelas, dan tidak memicu pertanyaan. Demikianlah pembuka ulasan ngeyel ini. Kalimat rasa quote di atas adalah gambaran bahwa gaya memuat nilai kebebasan, seni, keindahan, maupun kenyamanan. Tapi, bebas yang dimaksud bukan berarti seenak jidat bisa menabrak aturan maupun hal-hal yang bersinggungan dengan itu.

Sudah menjadi fitrah manusia bisa mengaktualisasikan diri, mendapatkan pengakuan, ingin dipandang, dan lain-lain, meski kerap kali ke-gr-an, baper berlebihan, hingga cari muka dengan mengerek kontroversi menjadi susuk pemikat. Dalam hal ini, fashion adalah salah satu opsi yang mendukung serta dianggap masuk akal bagi orang-orang untuk mengaktualisasikan dirinya.

Manusia dan fashion adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Keberadaan fashion tidak semata-mata untuk gaya-gayaan. Namun, lebih jauh dari itu, sebagai bagian dari wujud melindungi diri, eksistensi, hingga kembali ke awal: bagian dari kebutuhan primer minimal untuk menutupi atau melindungi tubuh dengan cara menggunakan pakaian. Bahkan, untuk level religi, berpakaian ialah kewajiban menutupi aurat. SubhanAllah…

Dinamika dunia fashion di Indonesia mengalami perkembangan yang gila-gilaan. Mulai dari dari kelas atas sampai level pinggiran. Faktanya, baru seminggu booming tren pakaian model A, eh sebentar sudah ngetren model Z. Salah satu fenomena dunia fashion di Indonesia yang paling mencuri perhatian adalah “demam kaos”.

Kaos model apa yang paling populer di Indonesia saat ini? Dari ratusan model atau bahkan ribuan tipe, setidaknya hanya ada 4 model kaos yang paling fenomenal. Sebutkan! Kaos National Geographic (NatGeo), My Trip My Adventure (MTMA), kaos bahasa Arab, dan Turn Back Crime. Lebih rincinya, mari kita ulas satu persatu.

1. NatGeo

Kehadirannya tidak terlepas daripada nama besar National Geographic. Merujuk Wikipedia, NatGeo adalah sebuah yayasan yang didirikan oleh 33 orang yang tertarik terhadap pengetahuan geografi. Yayasan NatGeo didirikan pada 27 Januari 1888 di Amerika Serikat.

Seiring perkembangan zaman, NatGeo tetap survive dengan tetap idealis di jalurnya. Namun, tetap mengepakkan sayap ke sektor industri, terutama media cetak maupun elektronik. Hingga kini, National Geographic telah terbit di 60 Negara dalam 30 bahasa, dengan oplah lebih dari 9,5 juta eksemplar. Dan, kita di Indonesia, puji Tuhan, NatGeo telah diresmikan beberapa tahun lalu, tepatnya pada 28 Maret 2005.

Kaos NatGeo awalnya sebagai identitas bagi orang-orang yang berkerja di NatGeo. Selain sebagai tanda pengenal dan brand identity, konon kabarnya pakaian tersebut adalah bagian dari kampanye alam dan isinya.

Lalu, datanglah sebagian dari kita, orang Indonesia, yang menduplikasi, menjiplak, memperbanyak, serta mengkomersialkan kaos dengan lambang maupun tema-tema National Geographic. Dan, kaos ini laku keras! Tak peduli KW berapa, yang penting ada tulisan NatGeo.

Saking populernya, penjualan baju ala-ala distro mungkin kalah pamor sama kaos NatGeo. Memakai baju NatGeo, sekalipun KW, seolah keren sekali. Biar bisa dibilang jadi fotografer NatGeo. Padahal, pakai kamera 360 aja masih gagap.

2. My Trip My Adventure (MTMA)

Kaos ini melejit lantaran salah satu acara yang mengusung konsep petualangan di salah satu TV swasta nasional. Acaranya dipandu oleh host-host keren bin macho plus host perempuan yang cantik nan seksi. Acara itu terbilang banyak ditonton orang, terutama anak muda. Dengan rating tontonan yang tinggi plus didukung oleh host yang macho dan cantik, memudahkan virus MTMA menyebar luas seantero negeri.

Yang menggelikan adalah lagi-lagi kaos MTMA dikomersialkan dengan cara meng-kw-kan, serta mencetak sebanyak-banyaknya. Ditopang pula dengan harga yang murah meriah di lapak-lapak pinggir jalan. Maka tak heran, di pasar malam maupun pedagang kaki lima, menjual kaos MTMA adalah kewajiban! Mengapa? Sebab permintaan pasar mendukung. Dari anak-anak hingga orang tua. “Aku pakai kaos MTMA, maka aku ada!”

Di samping itu, selain ikut mendukung pengembangan wisata, kampanye menjaga alam, meroketnya hobi travelling, demam kaos MTMA menjangkiti dunia per-meme-an Indonesia. Contoh: “Desa sendiri aja belum habis lo tau jalan tikusnya, apalagi kesana-kemari. Situ sehat?”

3. Kaos berbahasa Arab

Tren kaos yang satu ini datang pada saat yang sangat tepat. Bagaimana tidak, saat Indonesia sedang memperdebatkan Islam Nusantara, sempat muncul nyinyiran, “Jangan kearab-araban donk, kita kan Indonesia. Bla bla bla…” Justru kaos bertuliskan bahasa Arab ini menjadi marak di mana-mana. Bagi saya, kepopuleran kaos berbahasa Arab adalah sintesis daripada friksi antara sok anti-Arab maupun sok idealis kenusantaraan di bawah payung fashion dalam narasi sebuah kaos.

Perhatikanlah, betapa keduanya amat romantis, karena rata-rata tulisan Arabnya adalah aktualisasi dari Bahasa Indonesia itu sendiri atau bahasa daerah. Lebih spesifiknya , yang dipakai cuma font arabnya, sedangkan bahasanya tetap Indonesia atau bahasa daerah. Atau, lebih ke Arab jawi. SubhanAllah… Masak kaos yang benda mati bisa berkolaborasi antara Arab dan Nusantara, sedangkan kita yang beriman dan berakal terus saja ribut dan mencari-cari kesalahan? Istighfar…

4. Turn Back Crime (TBC)

Sebelumnya, saya mohon maaf dulu kepada pak polisi takut salah-salah ulas mengenai Turn Back Crime. Bisa dipenjara pula saya. Jangan ya pak, cukup adek itu saja yang ‘memenjarakan’ saya di hatinya. #ehm

Saat ini, dari empat kaos tersebut, kaos TBC adalah yang paling segar dan booming. Sebenarnya pakaian itu lebih kepada kaos berkerah. Namun, di pasaran, sangat banyak yang dikaoskan. Demam kaos TBC sebenarnya mulai ngetren ketika terjadi tragedi ledakan bom di Sarinah, Jakarta.

Saat musibah melanda, orang Indonesia yang terkenal sebagai salah satu bangsa dengan tingkat ‘kebahagiaan’ tertinggi di dunia, masih bisa bercanda sembari membahas hal-hal remeh temeh. Salah satunya pakaian pak polisi dengan slogan Turn Back Crime, yang dianggap macho plus pak polisi yang tampan aduhai menggoda mamah muda.

Saya sampai geleng-geleng kepala sembari campur aduk antara menikmati sambil tertawa dan pertanyaan kesal yang terus saja menghantui. Mungkin inilah kelebihan kita, dimana tertawa menjadi satu-satunya cara yang paling efektif untuk mendamaikan hati yang nggak karuan.

Sebenarnya slogan Turn Back Crime sudah ada sejak 2014 sebagai salah satu program Interpol. Namun, kebetulan saja, pak Krishna Murti cs yang ganteng-ganteng itu menjadi ‘model’ saat hari penuh drama di Sarinah. Tetapi, baru-baru ini, om yang satu itu mengimbau kepada pengusaha baju yang memakai slogan TBC agar tidak mencantumkan nama Polisi di bagian belakang baju. Jika ada, maka akan ditindak.

Semoga saja penjelasan mengenai slogan Turn Back Crime di atas menjadi amal ibadah bagi saya, karena sudah berbagi dengan bro & sist semua, terutama yang cuma pakai bajunya saja tanpa paham filosofi. Yang pasti, memakai kaos TBC tidak serta merta mampu meluluhkan hati calon mertua.

Sejatinya, demam kaos tersebut paling terasa di tataran masyarakat kelas menengah ke bawah. Di sinilah sebenarnya kaos menjadi chaos. Satu sisi menghargai orisinalitas adalah keniscayaan dengan menghormati kekayaan intelektual maupun hak cipta.

Namun, melarang penyebaran kaos KW juga bukan pilihan bijak. Mungkin sebagian dari kita ingin tampil trendy dengan harga kaki lima. Sebab, menjadi seorang yang fashionable adalah hak segala bangsa!

Lakum salakukum, waliya salaky. Bagimu gayamu, bagiku gayaku!