Fajar Baru, Bro. Bukan Senjakala…

Fajar Baru, Bro. Bukan Senjakala…

“Selaksa tentara dapat dibendung, tapi satu ide yang matang dan sudah waktunya menetas tak akan bisa dicegah.” Kata-kata itu diungkapkan oleh Victor Hugo, penulis aliran romantisme abad 19 yang diakui sebagai salah satu penyair terbesar Prancis.

Apa yang dikatakan oleh penulis novel Les Miserables dan Notre-Dame de Paris yang termasyhur itu memang relevan. Kenyataannya, dunia kita saat ini tunggang langgang diserbu entah ribuan, jutaan, atau bahkan miliaran ide.

Dalam tataran pengetahuan, kita mungkin sudah pelan-pelan memahaminya. Tapi pengalaman menunjukkan bahwa kita sering kali belum sungguh-sungguh memahami situasi yang tengah berubah.

Salah satu perubahan yang paling cepat terjadi di bidang teknologi informasi. Kemampuan kita untuk menangkap, mencerna, dan memilah informasi selalu terbata-bata, tergagap-gagap. Bukan karena kurang canggih dan pintar, tapi teknologi tengah menuliskan sejarahnya sendiri dan semua tengah mencari peran apa yang bisa dimainkan.

Ada beberapa ciri khas dunia dengan ekosistem baru tersebut, yang kini dihadapi media massa:

1. Kebiasaan baru pembaca atau pemirsa untuk mengonsumsi informasi 24 jam. Cara mengonsumsi pun tambah rakus dan ber-gaya. Tidak puas dengan sekadar teks, tapi juga harus pakai gambar, video dan infografis, ‘meme’, dan karikatur kalau perlu.

2. Kenyataan bahwa media konvensional lamban bereaksi terhadap perubahan preferensi pembaca/pemirsa.

3. Kecepatan media daring (online) terhadap perubahan di pasar membuat media konvensional terutama media cetak seperti koran dan majalah tampak basi.

Beberapa media cetak bahkan disebut-sebut menjadi korban keganasan internet. Sebut saja Newsweek. Salah satu majalah mingguan terbesar di Amerika Serikat itu harus pamit dari dunia cetak pada 24 Desember 2012.

Di Indonesia juga demikian. Harian Bola terpaksa menghentikan penerbitan edisi cetak hariannya sejak akhir Oktober 2015, dan kemudian hanya menerbitkan edisi Bola Sabtu. Kemudian koran Sinar Harapan. Koran sore itu resmi tutup sejak 1 Januari 2016. Entah nanti koran mana lagi? Inikah yang dinamakan senjakala?

Philip Meyer, penulis buku ‘The Vanishing Newspaper: Saving Journalism in the Information Age (2004)’ pernah meramalkan kalau kiamat media cetak bakal terjadi pada 2040.

Perusahaan informasi global AC Nielsen bahkan menyebutkan kalau oplah media cetak mulai turun, sedangkan media digital justru naik. Oplah koran turun 4%, majalah 24%, dan tabloid 12%.

Memang dulunya, media konvensional semacam koran menjadi salah satu sumber rujukan berita terbaik. Namun, kehadiran kanal berita 24 jam dari portal berita mengubah cara pembaca mengonsumsi berita.

Bahkan sejak lama, sudah umum diketahui bahwa orang muda cenderung tidak membaca berita. Hanya ketika mereka dewasa lah, mereka mulai membaca berita. Tapi sayangnya, saat rezim internet berkuasa saat ini, belum ada bukti sahih yang menunjukkan bahwa pengguna internet adalah pembaca berita juga.

Tidak serta merta pula media konvensional kehilangan pemirsa, koran kehilangan pembaca, dan radio kehabisan pendengar. Kendati media online tumbuh seperti jamur, media koran, radio, tetap punya tempat untuk bertumbuh. Tidak menggantikan, tetapi lebih tepatnya komplementer.

Konvergensi media memberi keleluasaan untuk menjangkau pembaca dalam situasi apapun, serta pilihan delivery berita yang mereka kehendaki. Pada zaman pra-internet, media konvensional berkuasa dan berpengaruh, mendikte kapan dan bagaimana berita akan tersaji.

Sekarang ini, dunia media beralih dari kontrol terhadap berita ke pertempuran untuk merebut perhatian pembaca. Belum lagi kita menyaksikan betapa pembaca online sekarang ini sangat bersemangat, karena pilihan berita tersedia berlimpah ruah. Mengadopsi siklus 24 jam tentu menjadi keniscayaan dan bukan lagi pilihan.

Kuncinya adalah membangun sumber daya manusia yang memiliki gen hibrida baru. Awak media harus menyesuaikan diri dengan cara bekerja lintas platform distribusi. Gaya tutur dan bercerita serta ber-berita baru. Sayangnya memang belum ada model rujukan. Karena itu, eksperimen dalam spektrum yang terukur adalah keharusan.

Belum lagi struktur-struktur baru dan cara kerja baru di media yang memungkinkan penciptaan berita yang lebih beragam dan berkualitas dengan tetap mempertahankan kontrol terhadap biaya. Harus ada perubahan struktur, serta upgrade dan pengayaan sistem.

Ujung-ujungnya adalah supaya media dapat mempertahankan relasi historis yang pernah dimiliki oleh media konvensional dengan pembaca, tetap relevan, dan bermutu.

Perlu diingat bahwa pembaca sekarang ini seperti hidup diselimuti ‘kabut berita’, karena ketersediaan sumber berita. Mereka akan mencari sumber yang mereka rasa pas dengan selera dan kebutuhan mereka.

Karena itu terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa kenyamanan terhadap berita terkadang lebih penting bagi pembaca daripada isi dan kualitas. Mengawinkan kenyamanan dan kualitas adalah salah satu bahan pertimbangan untuk mencapai titik keseimbangan baru.

Perubahan pola konsumsi media mempengaruhi bagaimana media massa merespon perubahan. Yang terpenting adalah menyajikan berita dengan lebih baik dari bentuk yang telah ada. Dengan demikian memberi alasan eksistensial bagi jurnalisme gaya baru untuk memperbaiki kualitas yang sudah ada, bukan justru menurunkannya.

Ini justru membuka secara luas pengembangan jurnalisme online yang lebih mumpuni. Jurnalisme yang diskontinyu secara historis dari generasi sebelumnya, tapi lebih bermutu. Ini adalah sebuah fajar baru!

Foto: www.spgenergy.com