Fadli Zon dan Inspirasi Pengorbanan Seorang Ayah Demi Anak

Fadli Zon dan Inspirasi Pengorbanan Seorang Ayah Demi Anak

shofianurun.blogspot.com

Kisah seorang ayah yang satu ini bisa jadi teladan sekaligus inspirasi bagi ayah-ayah di mana pun berada. Melakukan apa saja untuk membuat sang anak tersenyum bahagia. Namanya Mohamed El-Erian.

Ia rela melakukan apa saja demi sang buah hati tercinta. Sebuah pengorbanan yang tidak semua orang berani untuk melakukannya.

El-Erian melepas jabatan sebagai pimpinan tertinggi sebuah perusahaan investasi demi memiliki waktu lebih banyak bersama anaknya. Anda tahu berapa besar gaji yang rela ia lepas? Rp 99,2 miliar per bulan!

Mungkin bagi sebagian orang, tindakan pebisnis Amerika keturunan Mesir itu amat bodoh, karena mengorbankan uang yang begitu berlimpah hanya untuk alasan sederhana.

Namun bagi saya dan mungkin sebagian dari kita menganggap El-Erian adalah wujud ayah teladan, dimana uang bukan segalanya. Bagi El-Erian, keceriaan anaknya berada di puncak daftar prioritas hidupnya.

Pengunduran diri El-Erian bermula dari secarik kertas yang ditulis sang putri yang baru berusia 10 tahun. Surat itu berisi 22 daftar kegiatan dan acara yang sudah dilewatkannya.

Seluruh daftar berisi deretan kegiatan terpenting dalam hidup putri El-Erian. Mulai dari hari pertama masuk sekolah, parade Halloween, hingga pertandingan sepak bola pertamanya. Semua itu terjadi, karena sang ayah terlalu sibuk bekerja.

Ketika membaca daftar tersebut, El-Erian merasa tertampar amat keras. Segala yang telah diperbuatnya yang menghabiskan begitu banyak waktu selama ini ternyata hanyalah kepedihan bagi putri dan istrinya.

Ia sebelumnya merasa sudah sukses menjalankan peran sebagai ayah hanya dengan mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Namun, semua itu salah besar.

Bagi putrinya, uang Rp 99,2 miliar per bulan hanyalah angka. Yang ia butuhkan adalah waktu luang lebih banyak dari ayahnya, sehingga ia, ayah, dan ibunya bisa bersama-sama lebih lama.

El-Erian akhirnya mundur dari CEO PIMCO, lantas bekerja sebagai kepala penasihat ekonomi Allianz yang waktu kerjanya 50% lebih luang dari sebelumnya.

Lain halnya dengan apa yang dilakukan Josh Marshall, pria asal Kansas, Amerika. Ia rela men-tato kepalanya demi anak laki-lakinya. Anak laki-laki Josh yaitu Gabriel Marshall harus berkali-kali menjalani operasi pengangkatan tumor ganas di otaknya.

Operasi pengangkatan tumor di kepalanya meninggalkan bekas luka. Hal tersebut membuat Josh berinisiatif men-tato kepalanya mirip dengan bekas luka operasi anaknya sebagai bentuk dukungan agar cepat sembuh dan agar Gabriell bisa percaya diri.

Dua kisah di atas adalah contoh betapa sayangnya seorang ayah hingga rela melakukan apapun demi buah hatinya.

Nah, baru-baru ini, ada juga pria asal Indonesia yang melakukan segalanya demi anak. Anda tahu siapa pria yang saya maksud? Tak perlu phone a friend atau ask the audience untuk menjawab soal itu. Jika anda menjawab Fadli Zon, selamat anda benar!

Fadli Zon, seorang politisi dari Partai Gerindra, belum lama ini memperlihatkan bentuk kasih sayangnya kepada putri tercinta.

Beredar salinan faksimili surat berkop Sekretariat Jenderal DPR RI untuk KBRI Washington DC melalui KJRI di New York, yang berisi permohonan fasilitas dan pendamping yang ditujukan untuk Shafa Sabila Fadli, putri Fadli Zon.

Kontan saja, publik marah dan kecewa dengan itu. Sebab, fasilitas negara diduga seenak udelnya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Rakyat sudah trauma dengan pejabat negara yang memanfaatkan kekuasaannya untuk diri sendiri.

Apa yang dilakukan Fadli Zon dianggap serupa dengan Rachel Maryam, anggota DPR yang juga dari Gerindra, yang diduga memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Fadli Zon sudah mengonfirmasi bahwa permintaan fasilitas tersebut merupakan inisiatif stafnya. Namun, konfirmasi tersebut agaknya terlihat kontradiksi dengan apa yang dilakukannya setelah itu. Ia menyatakan akan mengganti biaya penjemputan putrinya sebesar Rp 2 juta kepada KJRI di New York.

Hal itu setidaknya menjadi indikasi bahwa Fadli secara tidak langsung mengakui meminta fasilitas. Bahkan ia marah dan menantang publikasi permohonan fasilitas jangan hanya berhenti pada dirinya saja.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Fadli Zon wajar, jika dilihat dari kapasitasnya sebagai seorang ayah. Tentunya blio tak mau terjadi apa-apa dengan Shafa.

Fadli hanya peduli dengan putri cantiknya itu selama mengikuti kegiatan yang di selenggarakan di Kota New York. Jangan sampai begitu mendarat di bandara, Shafa kecopetan, dijambret, atau digoda pemuda-pemuda yang kagum dengan parasnya?

Permintaan fasilitas tersebut hanya bentuk kekhawatiran Fadli Zon sebagai seorang ayah. Wakil ketua DPR RI ini hanya melakukan sebagaimana ayah-ayah lainnya. Ia hanya ingin menjamin keselamatan dan kenyamanan putrinya selama di negeri ‘Paman Sam’.

Bukankah ‘wajar’ di negeri kita ini ada kebiasaan yang mengistimewakan anak pejabat negara sama dengan orang tuanya?

Anak menteri ya harus diperlakukan seistimewa orang tuanya, kalau perlu lebih. Bahkan label ‘anak menteri’ bisa menyelamatkan pemuda yang terlibat tabrakan dari jerat hukum.

Beruntung lah mereka yang lahir sebagai anak pejabat negara. Menderita lah bagi mereka yang terlahir dari orang tua biasa.

Fadli Zon rela di-bully oleh publik, karena terkuaknya dugaan penyalahgunaan fasilitas negara untuk putrinya. Demi Shafa, politisi berpipi tembem itu berlapang dada menerima hujatan yang semakin memperburuk citranya sebagai wakil rakyat.

Publik menilai Fadli Zon telah memperlakukan KJRI seperti travel agent. Fadli Zon bahkan harus menggunakan kekuasaannya untuk digunakan ‘sebaik mungkin’. Semua itu demi sang putri tersayang, Shafa.

Bagi Fadli Zon, persetan dengan ocehan, hujatan, dan nyinyiran publik yang dialamatkan kepada dirinya. Selama putri tercintanya merasa bahagia, nyaman, dan aman, hati Fadli Zon tetap tenang setenang saat ia duduk di kursi empuk di Senayan.

Memang benar apa yang dilakukan Fadli Zon adalah blunder besar. Publik merasa apa yang dilakukan ayah Shafa tersebut tak pantas dan menyakiti hati rakyat.

Ketika rakyat berteriak meminta ‘fasilitas’ kepada wakil rakyatnya di Senayan, yang mereka terima justru ulah wakil rakyat yang seenak udelnya.

Namun, publik juga jangan lupa bahwa segala upaya yang dilakukan Fadli adalah bentuk kasih sayang dan pengorbanan seorang ayah kepada anaknya. Sungguh mengharukan, bukan?

Dari kisah Fadli Zon di atas, saya menyimpulkan dua hal penting yang patut diresapi oleh kita semua. Pertama, Fadli Zon adalah ayah yang baik. Kedua, Fadli Zon adalah wakil rakyat yang jauh dari kata bijak.

Kalau Shafa diberi fasilitas negara, kira-kira kapan kami rakyat jelata ini diberi ‘fasilitas’, pak Fadli?

  • sigit arisman

    Sayang anaknya sih oke. Tp penekanannya pd penggunaan uang negara. Sy pikir bnyk juga koruptor yg membiayai anak2nya pake uang hasil korupsi..nothin’ special utk sebuah cerita pengorbanan seorang ayah utk anaknya. Mungkin tema yg tepat seorang pejabat negara yg irit dlm membiayai kebutuhan anaknya. Sampai2 harus memakai fasilitas negara.