Hanya Satu yang Kita Punya, yaitu Empati. Kalau Tidak Punya, Apa Harga...

Hanya Satu yang Kita Punya, yaitu Empati. Kalau Tidak Punya, Apa Harga Hidup Ini?

Hukuman cambuk (Voa Indonesia)

Iseng buka linimasa Facebook, ada seorang kenalan yang bercerita bahwa ia sedang berada di Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah umroh. Menurut penuturannya, ini merupakan kali ketiga melakukan ibadah umroh.

Kebetulan, Mekkah dekat dengan tempat tinggalnya di seputaran Madinah, sesuai dengan tempat yang disediakan perusahaan tempat suaminya bekerja.

Seperti biasa, postingan tersebut dikomentari oleh kawan yang lain. Dan, ada salah satu yang berkomentar seperti ini: “Senang ya, bisa bolak-balik datang ke situ. Kalau di sini ada yang udah nabung bertahun-tahun ingin ke situ, eh malah ditipu.”

Tahu nggak, jawaban atas komentar itu apa? ”Umroh kan nggak wajib, yang wajib itu haji. Dah nasibnya itu, kalau ditipu begitu.”

Kontan jari ini langsung ngeklik profil yang bersangkutan, lalu klik remove dari daftar pertemanan. Maap, saya memang agak sensian pake banget, kalau ada yang gagal pamer empati ke orang lain.

Kenapa begitu?

Karena banyak hal yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, dimana banyak sekali masyarakat kita yang terkena virus gagal berempati, gampang curiga bin apriori terhadap sesama, apalagi sama orang yang terlihat berbeda.

Sedih, pake banget. Karena cerita tentang masyarakat kita yang ramah tamah, gotong-royong guyub rukun, seolah hanya menjadi dongeng belaka, sebuah legenda masa lalu dan mitos di masa depan.

Sementara hal yang nggak kalah ngeselin juga dikatakan oleh salah seorang tersangka penipuan umroh First Travel di persidangan. Alih-alih mengakui kesalahan, eh malah menyalahkan Kementerian Agama.

“Saya menyesal atas kejadian ini karena tidak bisa antisipasi. Sebagai pemimpin perusahaan, saya bertanggung jawab. Tapi saya melihat ada pihak-pihak lain yang harus bertanggung jawab, salah satunya Kemenag. Polisi juga harusnya mendengarkan apa yang kami sampaikan. Dengan menahan kami, peluang jemaah untuk berangkat jadi sangat kecil.”

Ada yang kepingin lempar bakiak nggak denger omongannya Andika Surachman itu?

Kalau saya sih iya, nggak tau kalau mas Dhani.

Kayaknya, kalau ngomong masalah belajar mengakui kesalahan, budaya masyarakat kita memang nggak diajarkan untuk hal itu. Tapi kalau ngomong masalah empati, lain perkara lah.

Dulu, kalau ada apa-apa, semua urun dan turun kok, maka ada acara yang namanya kerja bakti. Terutama kalau ada tetangga yang butuh pertolongan atau kena musibah, pasti tetangga kanan-kiri gotong royong nolong dan membantu.

Tapi kayaknya sekarang yang namanya empati, apalagi budaya tolong menolong bin gotong royong, tampaknya bakal jadi mitos juga di kemudian hari…

Masih ingat nggak, peristiwa kecelakaan bus di tanjakan Emen, Jawa Barat?

Banyak cerita kalau masyarakat sekitar, entah yang memang tinggal di sekitar itu ataupun yang melintas, justru sibuk mengambil gambar untuk diaplot di media sosial. Bukannya mengulurkan tangan, cepat-cepat membantu para korban kecelakaan, eh malah sibuk merekam orang yang lagi pada kesakitan bin ketakutan di hadapan maut.

Dari beberapa korban selamat yang diwawancarai beberapa media, semua senada seirama menceritakan bagaimana mereka kesulitan menghubungi pihak emergency karena keadaan yang amat sangat tak memungkinkan. Sedangkan yang sehat wal afiat sibuk merekam. Ada pula yang sibuk mengamankan barang jarahan.

Di salah satu sesi wawancara dengan media, ada yang mengaku kehilangan tas berisi uang puluhan juta rupiah beserta ponsel dan sebagainya.

Keren tho? Mau bilang Indonesia syekaliihhh kok rasanya sedih ya, hiks…

Terus, masih ingat nggak cerita Zoya yang bawa amplifier ke masjid hasil garapannya untuk dereparasi. Niatnya untuk berhenti sejenak melepas lelah kok malah jadi petaka.

Tak tanggung-tanggung, Zoya meregang nyawa di tangan para jagal, tanpa kata, tanpa tanya, lalu meregang nyawa. Zoya dibakar hidup-hidup atas tuduhan pencurian.

Ini masyarakat macam apa coba, yang enak banget ngebakar manusia lain tanpa bertanya apa dan bagaimana. Kok enak banget sih, ngebakar orang kayak ngebakar sate ayam?

Dobel yu ti ef nggak sih, hih!!

Lalu, cerita tentang sepasang remaja yang diarak telanjang, masih ingat?

Para orang tua, ada pak RT pula, yang harusnya mengayomi warganya kok malah asyik jadi ‘hakim’ dadakan. Kemudian, mengarak sepasang muda-mudi yang nggak ngapa-ngapain itu dengan tuduhan zina!

Apa nggak ada cara lain tho, apa pada lupa yang namanya duduk bersama, bermusyawarah gitu?

Atau, sudah pada lupa caranya ngobrol, duduk bareng, ngopi-ngopi sambil nanya, pada lagi ngapain sih berdua-duaan? Kan enak, apalagi ditambahi suguhan pisang goreng.

Lagipula, bilang baik-baik kan bisa. Jangan berduaan saja, nanti ada setan lho. Ealah, ini malah setannya segambreng, ngarak telanjang rame-rame.

Logikanyaaaa itu lho!

Nah, ngomong-ngomong masalah zina, ternyata ada yang lebih miris lagi. Ya, hukum cambuk bagi para pelaku zina di Aceh!

Wuiiiiiiii…

Gimana nggak wuiiiiii, sampai-sampai dibahas di mana-mana. Nggak cuma di media lokal, nasional, tapi juga internasional. Pokoknya terkenal wesss… Tapi terkenal karena apanya? Prestasi gitu?

Sik, ada jangkrik lewat deh kayaknya, krik… krik… krik…

Sekali lagi dan lagi, empati itu letaknya di hati ngga ksih? Atau, udah pindah tempat. Kok kayaknya susah banget dicari. Masa ada orang dihukum cambuk malah asik ditonton, malah jadi bahan tontonan.

Ada pula yang sibuk motret dan merekam pake kamera handphone. Ngerekam cuyyy…

Direkam baik-baik setiap momen si pesakitan dicambuk dan mengeluarkan jeritan. Sementara yang merekam sibuk pula bersorak-sorai saat jeritan kesakitan keluar dari mulut korban.

Masyarakat macam apa yang bersorak-sorai melihat orang lain tersakiti? Dijadikan tontonan dan dipertontonkan, lengkap dengan penonton yang antusias datang dengan formasi lengkap: anak, bapak, ibu, nenek, kakek, serta para penjual balon dan es krim di seputaran tempat hukuman.

Ini masih tahun 2018 nggak sih? Atau, Doraemon lagi salah naruh mesin waktu, kok kayak balik ke zaman baheula? Zaman para kaisar Romawi naruh budak-budaknya di kandang macan dan buaya.

Meskipun sang pesakitan ada yang ditutup wajahnya, tidak serta-merta ia tak menanggung luka hati yang lebih sakit ketimbang luka di punggungnya. Kalaupun mereka benar berzina, tapi seberapa besar kesalahan mereka itu dibanding para koruptor di negeri ini?

Lantas, apa pantas mereka dipertontonkan di hadapan khalayak yang bersorak-sorai kegirangan setiap kali mendengar bunyi lecutan serta teriakan kesakitan?

Jadi, yang sakit itu sebetulnya siapa sih?

Bagi saya, masyarakat kita lebih sakit ketimbang si pesakitan. Apalagi yang bawa anak-anaknya buat menonton!

Woiii… edukasi macam apa wahai kalian para orang tua yang kalian perlihatkan pada anak-anak kalian selain mengajarkan bahwa budaya kekerasan itu penting?!

Catatan Institute For Justice Reform menunjukkan, kasus perzinaan di Aceh, dengan qanun hukuman cambuk bagi para pelaku yang ketahuan, ternyata meningkat setiap tahun.

Pada 2013, ada 428 kasus terlapor. Pada 2014, ada 515 kasus terlapor, dan pada 2015 terdapat 548 kasus terlapor.

See, apakah hukuman cambuk yang dipertontonkan di tempat umum dan jadi tontonan itu menjamin para pelaku bakal tobat?

Tobat soto babat kali, hawong angka pelakunya bertambah gitu. Itu berarti nggak ada efek jera sedikitpun. Lha kok malah nekat masih diberlakukan, hadeh…

Lalu, efek apa coba, selain tontonan euforia masyarakat kita yang pamer nggak punya empati? Pelajaran bagaimana melakukan kekerasan gitu?

Kemana sih, yang namanya empati?

Kemana sih budaya bangsa kita yang katanya ramah-tamah gotong royong serta guyub rukun di tanah yang gemah ripah loh jinawi ini?

Apa iya, itu hanya tinggal kenangan belaka di buku usang pelajaran Bahasa Indonesia ala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan cetakan Balai Pustaka yang terkenal dengan ini Budi-nya saja?

Atau, bangsa kita memang mulai luntur moralnya, melupakan setiap kata dan kalimat di buku usang bersampul hijau yang berjudul Pendidikan Moral Pancasila? Apa nggak ada hukuman yang lebih manusiawi ketimbang dipertontonkan di khayalak umum?

Bahkan, negara pun hanya meletakkan pelaku bom Bali di sel tahanan, tanpa cambukan atau dipertontonkan seperti itu. Padahal, mereka menghilangkan hak hidup begitu banyak orang.

Lha, ini zina, siapa yang mereka lukai? Hak hidup siapa yang mereka hilangkan, sehingga mereka boleh diperlakukan serendah itu? Ada yang salah dengan hukum kita, masyarakat kita, atau negara kita?