Empat Hal yang Bisa Terjadi setelah Donald Trump Menang

Empat Hal yang Bisa Terjadi setelah Donald Trump Menang

courtesy of donkeyhotey

Kecuali anda hidup di pelosok Amazon dan jauh dari hiruk-pikuk dunia yang fana, kabar tentang kemenangan Donald John Trump di pilpres Amerika Serikat sukses menggemparkan jagat dunia maya dan nyata. Tak banyak diunggulkan, kontroversial, dan terhitung ‘sangat tua’ untuk menjadi presiden, Trump membalikkan semua prediksi.

Kemenangan Trump menjadi indikasi nyata bahwa apa yang ada di dunia ini, sejatinya, tak akan pernah bisa diprediksi dan dipetakan dengan tepat. Orang boleh berencana, tapi Trump, eh Tuhan, yang menentukan.

Dari jajak pendapat yang dirilis New York Times sepekan menjelang pemilihan, misalnya, salah satu media terpercaya di Amrik itu berani memasang angka 85% untuk peluang Hillary Clinton memenangi pilpres. Dan, bayangkan, peluang Trump hanya 15%.

Kemenangan Trump yang paling fenomenal terjadi di beberapa swing state, sebutan untuk wilayah netral yang tidak menjadi basis pendukung Republikan atau Demokrat. Dan, beberapa kemenangan penting di Florida, North Carolina, dan Ohio. Fakta yang membuat para pendukung Hillary lesu memandangi peta elektoral yang didominasi warna merah, sembari membayangkan bahwa secara surealis, Presiden AS ke-45 adalah ‘The Almighty’, Lord Trump.

Ada beberapa fakta unik dan meme-meme lucu yang bertebaran di daring dalam merayakan keberhasilan Trump membalikkan hasil jajak pendapat dan mengungguli Hillary dengan selisih suara, yang konon, menurut beberapa jurnalis luar negeri, dipisahkan oleh selisih suara yang sangat ketat.

Salah satu yang menjadi keunikan adalah laporan dari bleacherreport.com yang membuat artikel bahwa bertaruh untuk Trump di pilpres setara dengan menjagokan Leicester City untuk juara Liga Inggris musim lalu, sekaligus menyakini bahwa Inggris tidak akan keluar dari Uni Eropa.

Taruhan untuk Leicester agar juara di Liga Inggris musim lalu berada pada angka taruhan 5000/1. Angka taruhan untuk Inggris perihal Brexit pada angka 3/1, sedangkan taruhan bagi Trump untuk memenangi pilpres 150/1. Menurut Bleacher, dengan bertaruh masing-masing 5 euro saja untuk tiga hal tersebut, anda bisa menggondol uang sekitar 15 juta euro. Itu berapa rupiah ya? Rp 220 miliar! Uwoww…

Nah, dalam rangka meramaikan pesta demokrasi Amerika Serikat yang dimenangi Donald Trump, saya akan menambahkan beberapa hal yang mungkin terjadi usai kemenangan Trump atas Hillary di pilpres. Berikut ini yang akan mengikuti tren kemenangan beliau:

1. Manchester United juara Liga Inggris

Setelah menjuarai Liga Inggris pada musim 2012/2013, piala bergengsi terakhir yang bisa diangkat oleh punggawa ‘Setan Merah’ hanya Piala FA pada musim 2015/2016, persembahan terakhir Louis Van Gaal sebelum ditendang manajemen United pada akhir musim.

Di bawah kendali pria asal Setubal, Portugal, bernama Jose Mourinho, nyatanya, United masih kesulitan bersaing di papan atas klasemen sementara. Bahkan saking bapuknya permainan ‘Setan Merah’ musim ini, beberapa pundit sepak bola sampai bertanya-tanya bahwa aura Alex Ferguson ibarat hantu yang kenangan dan kekuatan magisnya susah dilepaskan bahkan oleh pesona Mourinho sekalipun.

Pada musim ini, klub yang bermarkas di Old Trafford itu masih tercecer di peringkat enam klasemen sementara dan tertinggal delapan angka dari pemuncak klasemen, Liverpool. Desas-desus mulai berkembang bahwa perburuan gelar juara hanya akan mengerucut pada empat tim, yakni Liverpool, Arsenal, Manchester City, dan Chelsea. Kalaupun ada penantang dari luar, tim tersebut adalah Tottenham Hotspurs, bukan Manchester United.

Kabar ini jelas menunjukkan bahwa United, tim Manchester merah yang besar itu, kini hanya sekelas tim papan tengah yang kemampuan teknisnya tak lagi mengusik betul konstelasi papan atas Liga Inggris, bahkan hanya untuk sekadar meramaikan bursa juara sekalipun.

Tapi disinilah efek kemenangan Donald Trump akan mengambil peran. Keluarga Glazer, pemegang utama saham ‘Setan Merah’ adalah simpatisan Republikan. Atau, untuk membuatnya jelas, Glazer adalah pendukung Trump. Sama seperti pemilik Fenway Sport Group di Liverpool yang juga Republikan, serta Stan Kroenke, salah satu pemegang saham Arsenal.

Ketika anda hidup di dunia nyata dimana seorang pebisnis yang tidak punya basis karier politik cemerlang, bermulut pedas dan kontroversial, bukan negarawan dan bahkan tidak tahu apa itu kebijakan luar negeri bisa memenangi pilpres, anda harus percaya bahwa Manchester United dengan segala kebapukannya musim ini masih sanggup menjuarai Liga Inggris.

2. Indonesia juara Piala AFF 2016

Usai merampungkan uji coba terakhir melawan Vietnam di Hanoi, timnas bersiap melakoni laga perdana Piala AFF 2016. Berada di grup yang berat bersama tuan rumah Filipina dan dua negara kuat Asean, Singapura dan Thailand, timnas diprediksi tidak akan melaju jauh di turnamen kali ini.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi pesimisme ini, antara lain masa persiapan yang minim dan pembatasan dua pemain per klub yang diterapkan oleh PSSI. Sebab, secara surealis, di tengah persiapan timnas jelang AFF, liga sepak bola di Tanah Air justru masih dengan santainya berjalan tanpa rasa bersalah dan tanpa urgensi guna memikirkan kepentingan timnas. Hebat betul negeri ini, Bung?

Namun, dengan alasan yang sama seperti Manchester United, berdasar pada apa yang terjadi di Amerika sana, kemenangan Trump bisa menjadi pelecut bagi timnas kita untuk berprestasi lebih di AFF tahun ini.

Mengandalkan banyak pemain debutan yang masih relatif muda, serta ditopang beberapa pemain matang seperti Boaz Salossa, Zulham Zamrun, dan Irfan Bachdim, Indonesia setidaknya mampu berebut jatah runner up dengan Singapura untuk setidaknya memelihara mimpi lolos semifinal mendampingi Thailand.

Ya anda tahu sendiri, hanya pesona Trump yang bisa membantu timnas kita mampu mengalahkan Thailand di AFF. Setidaknya Alfred Riedl bisa membakar semangat Boaz dkk dengan kalimat persuasif yang nakal seperti, “Woy, Donald Trump aja bisa jadi Presiden Amerika, masa situ ngalahin Thailand doang kagak bisa? Malu sama Bung Karno!”

3. Amerika Serikat juara Piala Dunia 2018

Pada dua edisi terakhir, prestasi sepak bola timnas Amerika Serikat memang tidak begitu menonjol, walau tak bisa dibilang buruk. Untuk ukuran negara yang sepak bola bukan menjadi olahraga nasional di negerinya, lolos dari penyisihan grup adalah pencapaian lumayan.

Kemenangan Trump bisa menjadi momentum. Skuat asuhan Jurgen Klinsmann ini tengah melakukan peremajaan skuat dan kini memiliki skuat yang tak buruk. Kalau di Piala Dunia dua tahun lalu mereka dihajar habis-habisan oleh Belgia di fase perdelapan final, bayangkan apa yang bisa terjadi dua tahun ke depan pada PD 2018 saat Trump memimpin? Ingat slogan “Make America Great Again”?

Slogan itu tentunya bersifat universal dan benar-benar bertujuan membuat Amerika berjaya di semua bidang, termasuk sepak bola. Dan kenapa sepak bola? Kita tahu sendiri, untuk memenangi hati banyak orang, sepak bola adalah alat yang paling universal.

Kalau di era fasisme merebak dahulu kala, Benito Mussolini di Italia, Jenderal Franco di Spanyol, sampai Adolf Hitler di Jerman, mampu memainkan peran politis mereka demi prestasi negara atau klub sepak bola tertentu, kenapa tidak dengan Trump dan timnas Amerika Serikat?

Dan, ini poin utamanya, apa iya Donald Trump tak tergoda menggunakan kharismanya untuk membantu Amerika Serikat memenangi Piala Dunia di negara yang menjadi tuan rumahnya adalah… Rusia!

4. Elon Musk akan mengantar manusia ke Mars

Ada lelucon klasik jelang pilpres bahwa Kanada akan menjadi tempat migrasi terbaik bagi warga AS yang kecewa andaikata Donald Trump benar-benar menjadi presiden. Tapi saya punya solusi lain selain Kanada sebagai tujuan pelarian untuk kabur dari rezim Trump.

Beberapa hari jelang pilpres dimulai, beberapa orang sudah mewanti-wanti untuk pindah ke Mars atau ke bulan, karena tak mau hidup di suatu planet dimana seorang Donald Trump menjadi presiden. Dan tiga hari jelang pilpres, akun Twitter Elon Musk, CEO SpaceX, yang memang memiliki proyek untuk menerbangkan manusia ke Mars sudah banjir mention dari berbagai rakyat AS.

Intinya sama, mereka tak ingin hidup di planet yang sama dengan Trump. Itulah mengapa opsi migrasi ke Kanada atau Selandia Baru tidak sebanding dengan apa yang ditawarkan dengan program SpaceX, migrasi ke Mars!

Dan, jangan salah, dengan Trump’s effect pasca elektoral, bisa jadi Elon Musk makin termotivasi untuk segera merampungkan programnya guna membawa beberapa warga Amerika Serikat untuk migrasi ke Mars atau ke bulan. Sebab, hidup di Bumi, di planet yang oleh Trump dianggap bahwa pemanasan global yang sedang terjadi hanyalah mitos belaka, adalah kegagalan tersendiri bagi manusia di planet ini.

Sebagai penutup, khusus bagian ini, jangan tertawa dulu atau skeptis. Jangan pesimis atau nyinyir pula. Tetap positif dan yakin, karena sekali lagi, kalau seorang pebisnis seperti Trump bisa mengalahkan Hillary yang mantan First Lady dan memiliki karier politik mengkilap, kenapa tidak bagi mas Kokok Dirgantoro untuk maju di Pilpres 2019 sekaligus memenanginya? Make Indonesia Great Again! 🙂