Membela Emak-emak

Membela Emak-emak

Ilustrasi (completeset.com)

Saya bukan seorang ibu, saya juga belum ingin memiliki anak, bahkan jika tidak bisa memilikinya atau memutuskan untuk tidak memiliki karena situasi dan kondisi, saya tidak masalah.

Namun, saya punya masalah ketika emak-emak atau kata majemuk untuk memanggil sekumpulan ibu dikaitkan dengan persepsi negatif. Kenapa? Karena saya perempuan.

Ibu adalah makhluk yang mulia, tapi mengapa dipandang begitu negatif oleh sekumpulan anak muda yang mengaku gaul?

Saya sebenarnya bukan anak yang baik, karena sering membangkang dan melawan ibu, kalau itu tidak sesuai nurani. Namun, saya semakin menyadari, mereka sebenarnya berusaha untuk membahagiakan kita. Mungkin dengan cara yang kita tidak mengerti.

Tapi apa yang terjadi?

Seringkali kita mendengar rangkaian ucapan yang ditujukan kepada kaum ibu a.k.a. emak-emak. Misalnya, emak-emak suka nawar, emak-emak tukang ngerumpi, emak-emak dasteran, emak-emak bau asem, emak-emak bawel, rempong, dan begitu banyak ungkapan negatif lainnya.

Tahukah kalian ungkapan tersebut sebenarnya merupakan sebuah penyakit kebencian terhadap perempuan atau yang disebut dengan misoginis?

Bayangkan, kalian mengutarakan persepsi buruk mengenai emak-emak, namun tidak tahu maksud mereka sesungguhnya apa? Baiklah, saya akan jelaskan satu-persatu…

Emak-emak suka nawar

Kita seringkali melihat emak-emak nawar di pasar dan di toko demi mendapatkan harga yang murah. Mereka sebetulnya sedang berusaha – dengan uang yang ada – untuk menyajikan variasi makanan di rumah, sehingga gizi anak bisa tercukupi.

Mereka pun menawar harga baju agar anaknya bisa memiliki pakaian yang beragam, sehingga anaknya tidak malu ketika bermain bersama temannya. Bahkan mereka tak segan menawarkan hidupnya agar kamu lahir di dunia ini.

Masih bilang kemampuan ‘tawar-menawar’ ini tidak ada dampaknya pada kehidupan kamu? Jika tidak, saya enggak yakin kamu lahir dari rahim seorang perempuan.

Emak-emak tukang ngerumpi

Hari gini siapa sih yang enggak ngerumpi? Bahkan bapak-bapak suka ngerumpi di pos ronda. Sampai pejabat pun juga ada yang ngerumpi, mau itu laki-laki atau perempuan.

Kalau pernah nonton filmnya Joshua Oppenheimer yang judulnya ‘The Act of Killing’, ada adegan bapak-bapak pejabat membicarakan soal kemampuan seorang pekerja seks melayani nafsu bejat mereka. Apa namanya itu kalau bukan ngerumpi?

Emak-emak dasteran dan bau asem

Pernah pulang sekolah dan lihat ibumu kucel dan bau asem? Ya saya pernah. Dia kemudian bercerita bahwa dia baru saja berberes rumah sambil masakin makanan untuk saya dan adik.

Lalu, ketika saya mulai pisah rumah dengan orang tua, saya melakukan perkerjaan rumah sendiri untuk diri saya sambil mengenakan daster sampai bau asem. Pasangan laki-laki saya juga begitu. Kalau habis masak apalagi kalau belum mandi dan masih pakai kaos rumah yang belel, dia juga bau asem.

Kemampuan manusia untuk mengurus diri sendiri bahkan sampai tidak memerhatikan keadaan menunjukkan kemampuan untuk bertahan hidup. So, kalau mau mendefinisikan emak-emak dengan sebutan daster dan bau asem, mikir..? Situ sanggup bertahan hidup dengan mengerjakan semuanya sendiri?

Emak-emak bawel

Ya saya juga pernah dibawelin ibu. Tapi setelah berpikir panjang, saya mendapatkan nilai-nilai yang tak bisa lepas dari saya, walau terkadang bawelannya bisa sangat tidak sehat. Namun, siapa sih hari gini yang tidak bawel?

Bos kamu yang kejar-kejar kamu untuk menemui deadline, apa namanya kalau bukan bawel? Laki-laki yang suka posesif sama pasangannya itu juga bawel bukan? Lantas, kenapa bawel jadi identik dengan emak-emak saja?

Saya memang cenderung tidak setuju dengan ibu dan ayah yang suka bawel. Namun, hal itu memicu otak untuk berpikir. Biar dikata kami beda pemahaman, mereka secara tak langsung menunjukkan bagaimana mempertahankan argumen.

Emak-emak suka ngamuk kalau tupperw*r* hilang

Woi! Enggak cuma emak-emak aja yang ngamuk kalau barangnya hilang. Kamu saja bisa ngamuk kalau barangmu ada yang hilang. Jangan kan barang, harga diri hilang saja kamu ngamuk sama diri sendiri.

Emak-emak tukang nuntut

Kita memang enggak pernah minta dilahirkan dari mereka atau setuju 100% dengan cara mereka mendidik. Tapi tidakkah kamu sadari bahwa menuntut memang sudah haknya manusia?

Dalam kasus seorang ibu, selain menuntut pada anak untuk ini-itu, ibu menuntut hak atas nafkah dari suami agar keluarga memperoleh penghidupan yang layak.

Bagi ibu yang bekerja, melalui gerakan feminis, mereka menuntut agar pemerintah dapat memberlakukan cuti ibu dan ayah yang adil dan berbayar agar anak yang baru lahir dapat perhatian penuh dari kedua orang tua.

Menurut penelitian, orang tua yang hadir baik ayah dan ibu saat tumbuh kembang anaknya memiliki sifat-sifat yang baik. Mereka cenderung bisa berempati dengan perempuan dan laki-laki, karena melihat keberadaan orang tuanya yang membagi pekerjaan rumah dengan adil.

Bahkan gerakan feminisme juga membantu untuk menuntut lingkungan kerja agar mengakomodasi kebutuhan perempuan, seperti menyediakan tempat penitipan anak hingga ruang ASI. Dengan begitu, mereka bisa tenang mengurus anak dan bekerja.

Tapi pasti ada yang nanya, mengapa ribet-ribet kerja kalau masih mengurus balita? Untuk sekelompok elit tertentu mungkin suaminya bisa mencukupi. Namun, tidak semua laki-laki sanggup mencari nafkah sendiri, sehingga perempuan mau tidak mau ikut mencari nafkah.

Masih bilang emak-emak yang nuntut ini-itu nyusahin?

Jika ibumu menuntut kamu untuk segera menikah dan punya cucu, senyumi saja, sama ketika ibumu memberi kamu senyuman sambil pura-pura lupa bahwa kamu minta dibelikan mainan. Dijamin lama-lama dia nyerah bahkan lupa dia minta cucu.

Emak-emak kalau naik motor suka salah kasih sein

Ini basi, memangnya cuma emak-emak saja yang suka salah kasih lampu sein? Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu sudah benar memberi petunjuk jalan?

Dari semua anggapan tersebut, sadar atau tidak, kita sudah terlalu mengkerdilkan peran perempuan terutama ibu dalam kehidupan sehari-hari. Katanya menjadi ibu itu mulia, tapi kenapa masyarakat kita mengidentikkan sekumpulan emak-emak sebagai perkumpulan yang terkesan negatif?

Tahukah kamu bahwa peradaban dibangun atas kebersamaan kaum ibu? Tanpa kebersamaan mereka, peradaban kita tidak akan maju. Bahkan rezim Orde Baru pun runtuh ketika emak-emak ikut mengeluhkan susahnya membeli susu formula untuk anaknya.

Ya memang ada beberapa perkumpulan emak-emak yang bisa sangat tidak menyehatkan, karena seringkali membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain.

Tapi apakah hal ini pantas menjadi gambaran seluruh emak-emak? Apakah karena emak-emak identik dengan kucel, gaptek, dan bau, lantas semua asosiasi sifat yang buruk disandingkan kepada mereka?

Dalam tulisan ini, saya tidak memaksakan agar perempuan lebih memiliki sifat domestik atau feminin. Namun, saya ingin meluruskan bahwa sifat ini dimiliki oleh setiap manusia, bukan hanya perempuan, tapi laki-laki juga.

Lantas, apakah kita pantas menyudutkan sifat-sifat negatif kepada emak-emak yang sudah memberikan setengah hidupnya untuk mengurus dan membesarkan kita?

Kamu pasti bilang saya kebawa perasaan atau baper kan karena saya seorang perempuan? Iya saya baper, ibumu juga baperan. Kalau dia enggak baper, dia enggak akan dengan mudah memberikan kamu ketenangan sewaktu kamu menangis pada masa kecil.

Hingga kita dewasa pun, ia masih memiliki hubungan emosi yang kuat dengan kita, sehingga ia tahu anaknya sedang sedih bahkan ketika mereka berada di benua yang berbeda sekalipun atau bagaimana ia tahu makanan kesukaan kamu.

Saya memang bukan seorang ibu, namun saya perempuan yang sedang berusaha meminta maaf atas kesalahan dengan belajar memahami ibu, walaupun banyak sekali hal yang kami tak sepakati.

Dengan kamu mengaitkan segala sifat negatif kepada emak-emak, apalagi menjatuhkan lawan bicara dengan “Ah, kayak emak-emak aja ngerumpi dan nawar-nawar”, berarti kamu telah menyalahkan ibu yang sudah melahirkan dan membesarkanmu.

Situ waras, kan?