Emak-emak dan Kaum Minoritas
CEPIKA-CEPIKI

Emak-emak dan Kaum Minoritas

Ilustrasi (wegeekgirls.com)

Menjadi kaum minoritas memang tidak enak, apalagi kalau masih pakai ditindas. Bayangkan, anda berdiri sendiri di tengah cibiran orang banyak, protes, dan maki-maki. Padahal yang minoritas cuma ingin aturan ditegakkan sama untuk semua orang.

Di tempat lain, dia malah dipaksa untuk memakai pakaian yang berbeda. Kalau ada yang mencoba mengenakan pakaiannya, segala protes, cibiran, dan makian langsung berhamburan.

Celakanya, kadang-kadang yang minoritas ini cuma korban dari perseteruan yang mayoritas. Yang satu bilang boleh, satunya bilang gak boleh. Yang satu bilang bisa, satunya bilang gak bisa. Yang tetap cuma korbannya: minoritas.

Kalau gak percaya, coba tanya sama Fu Ming, wasit semifinal leg 2 Piala AFF 2016 – Vietnam lawan Indonesia. Apa rasanya berada di tengah perseteruan dua kelompok mayoritas?

Fu Ming itu kan minoritas. Bukan, bukan karena asalnya dari Tiongkok, tapi beliau sendirian pakai baju hitam di tengah dua tim yang masing-masing jumlahnya sebelas orang. Belum pemain cadangan, pelatih, tim ofisial, dan suporternya.

Fu Ming dihujat karena memberi kartu merah ke kiper Vietnam, lalu dimusuhi akibat membatalkan penalti untuk Indonesia. Selain Vietnam dan Indonesia, Thailand juga pernah merasa dirugikan oleh keputusan wasit Fu Ming.

Praktis beliau jadi musuh bersama suporter bola se-Asia Tenggara. Kalau semua penggila bola ini menggelar protes, ibukota negara mana coba yang mampu menampung limpahan jutaan massanya?

Dengar-dengar FIFA juga mau ngasih sanksi ke Fu Ming. Kurang sengsara apa coba Fu Ming? Penderitaan yang punya Sari Roti sih gak ada seujung kukunya sama yang dialami beliau kemarin.

Padahal, kita sebenarnya sebel sama komentator pertandingannya. Tapi kan komentator itu teman kita juga, pol mentok cuma dibecandain, dijadikan meme. Kita semua sudah tidak adil sejak dalam pikiran!

Jadi, sebagai bagian dari suporter timnas Indonesia, saya merasa malu dengan kelakuan sodara-sodara saya sebangsa dan se-tanah air yang sudah mencaci-maki Fu Ming. Izinkanlah saya, dari lubuk hati yang paling dalam, meminta maaf kepada beliau dan keluarganya.

Perkara mayoritas dan minoritas ini tidak melulu soal sepak bola dan wasitnya. Yang jomblo juga minoritas. Jumlahnya memang banyak, tapi mereka selalu sendirian. Yang minoritas itu biasanya jumlahnya sedikit, terus apa yang lebih sedikit daripada sendirian?

Sendirian berdiri di pojokan, lalu pura-pura ngemil rendang setiap kali ada kumpul-kumpul keluarga. Rendang yang biasanya habis dalam 2-3 kali gigitan, bisa di-emut-emut sampai sepuluh menit.

Gak ada yang peduli bahkan ketika salah ambil sekalipun. Dikira rendang ternyata lengkuas. Kalau pun ada yang sok peduli, ngajak ngobrol, paling-paling ujungnya nanya, “Kapan kawin?”

Apa yang nanya itu gak tahu kalau mereka rela melakukan apa saja supaya gak jomblo lagi? Bahkan kalau ada yang nyuruh bawa bom panci supaya mereka bisa disebut pengantin, mereka pasti mau!

Indonesia, tidak bisa tidak, darurat jomblo!

Kayak mbak Dian dari Bekasi, dijadikan pengantin dengan mas kawin seperangkat bom panci. Aduh, mbak Dian, sudahlah, menjomblo memang pedih, tapi yang mbak lakukan itu sama sekali bukan jalan keluar.

Percaya saja bahwa jodoh ada di tangan Tuhan dan mantan ada di tangan setan…

Lagipula, bawa bom panci dari Bekasi? Bekasi? Yang katanya kalau kita lagi jalan-jalan, lalu tiba-tiba jalanannya rusak berarti kita sudah ada di Bekasi? Bawa bom dari Bekasi ke Istana Negara di Jakarta, apa ya gak takut bomnya meledak di jalan karena terguncang-guncang?

Dimarahin Ahmad Dhani baru tahu rasa mbak Dian…

Etapi katanya mbak Dian sudah gak jomblo lagi lo. Di KTP memang katanya masih lajang, tapi itu KTP tahun 2013. Di surat wasiatnya, mbak Dian pamitan sama si Aa, suaminya. Kok gak matching gitu ya?

Jadi mirip emak-emak yang kalau naik motor matic lampu seinnya nyala ke kiri, tapi beloknya ke kanan. Emak-emak yang kalau dandan ngakunya lima menit lagi selesai, tapi sampai lebaran kuda masih belum selesai.

Ngomong lebaran kuda jadi ingat Pak Beye ya? Eh, jangan-jangan beliau dulu juga disuruh nunggu lima menit sama Ibu Ani yang lagi dandan lalu menggunakan waktu ‘lima-menit-lagi’ itu buat bikin 40 lagu dan 5 album.

Kembali ke mbak Dian. Kalau teroris cowok dijanjikan bidadari di surga, terus teroris cewek dijanjiin apa ya? Saya sih gak tau. Tapi saya mau kasih tau sama yang bilang gitu: “Jangan remehin emak-emak dasteran, kalau sudah dandan dan bawa bom panci… kelar hidup, lu!”

Saya penasaran sama kumendan terorisnya, orang yang nyuruh mbak Dian meledakkan diri di Istana Negara. Tapi, kalau kata saya, gak usah dicari ini kumendannya. Pasti dia sudah ditembak sama temen-temennya sendiri.

Lha, gimana nggak? Pengantinnya emak-emak, yang kalau dandan, lama pakai banget. Yang kalau naik motor matic, antara belok kiri atau kanan cuma dia sama Tuhan yang tau. Berangkatnya dari Bekasi pula, yang sudah jauh, sebagian jalanannya rusak pula.

Tapi bisa jadi juga keputusan untuk merekrut emak-emak sebagai pengantin itu diambil, karena kumendan terorisnya paham betul bahwa cuma ‘the power of emak-emak’ yang bisa memaksa hal paling absurd sedunia.

Udah lihat video polantas yang gak berdaya di hadapan amukan seorang – cuma satu orang – emak-emak?

Ini sama sekali gak ada hubungannya dengan teroris. Cuma masalah tilang di jalan. Kalau kata saya, polisi itu bisa lapor ke polisi lain. Tapi gimana kalau emak-emak yang merasa dizolimi lalu lapor sama emak-emak lainnya? Apa gak baret-baret bekas cakaran muka polisi se-Indonesia Raya?

Jadi inget adegan di sebuah film, pas ada bekas cakaran di tembok terus ada perdebatan apakah pelakunya Wolverine atau Freddy Krueger. Kebayang kalau syutingnya di Indonesia, di salah satu polsek di Jakarta, terus ada bekas cakaran di temboknya. Pas ada yang tanya apakah pelakunya Wolverine atau Freddy, polisinya dengan santai njawab:

“Bukan, kemarin ada emak-emak ngambil surat tilang di sini….”