Ekspedisi Gila ke Mussoland: Mereka yang Menolak Ingat
SERIAL FIKSI MISTERI

Ekspedisi Gila ke Mussoland: Mereka yang Menolak Ingat

Ilustrasi (youtube.com)

Orang-orang berpikir kalau serial yang saya tulis di voxpop adalah bualan semata. Alasannya, mereka tak menemukan kota Nyecete atau negeri Nouwer di peta manapun. Dan, mereka tak percaya bahwa ada manusia bermulut lima, penduduk amat pragmatis cenderung dungu, atau alien. Terutama alien.

“4Li3n tuch k4n cm 4d di fiLm2. B’4rti tlzn m4z k3m4r3n bu’ung donx!!!” tulis seseorang di inbox Facebook, tempo hari.

“Yang mengunjungi anda bukanlah alien. Itu jin yang menyamar. Dan tidaklah Tuhan menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Nya,” ujar seseorang yang lain. Kali ini lewat whatsapp.

Masih banyak komentar serupa, yang bila diketik dan dicetak semua cukup untuk menyaingi ketebalan novel ‘Laskar Pelangi’. Meskipun begitu, komentar yang paling menyakitkan bukan yang ditulis dengan gaya alay atau mengutip ayat, melainkan yang mengucapkan terima kasih atas pencerahan yang saya berikan dan menyebutnya sebagai tulisan satire paling cihuy.

Tentu saja itu bikin sakit hati. Saya bukan motivator atau juru dakwah yang pekerjaannya memberi pencerahan. Dan, tulisan saya bukanlah satire atau tepatnya tidak dimaksudkan sebagai tulisan satire. Voxpop memiliki empat gudang yang penuh diisi oleh penulis-penulis satire – Sisca Guzheng Harp, contohnya – dan saya tak ingin ikut berjejalan di gudang itu.

Oleh sebab itulah, saya cukup khawatir tulisan kali ini akan kembali dituding sebagai tulisan satire. Ini hanya cerita yang bila dipahami dari sudut pandang tertentu memang akan tampak sebagai kisah fantasi. Anggaplah begitu.

Sekarang, kawan, duduklah dengan tenang. Singkirkan sejenak apa-apa yang menjadi beban pikiran anda, dan mulailah membaca tulisan ini secara perlahan. Kali ini, izinkanlah saya bertutur soal perdebatan genosida. Sebenarnya dibilang perdebatan juga tak cocok-cocok amat. Sebab, bila dicermati, apa yang terjadi lebih pantas disebut adu monolog.

Kubu sebelah sini, yang sangat yakin bahwa semua itu akibat ulah sebuah partai besar, menulis tudingan-tudingannya dengan berapi-api, nyaris tanpa bukti. Sementara kubu sebelah sana, yang lebih percaya kalau partai tersebut hanyalah korban konspirasi, mengajukan pelbagai bukti yang tak satu pun ditanggapi.

Biasanya kedua kubu mengusung slogan yang dibubuhkan pada akhir tulisan. Kami Tidak Lupa! Slogan itu sangat optimistik dan heroik, meskipun agak membingungkan. Bagaimana caranya menolak lupa sesuatu yang tak mereka ingat?

Namun, slogan menolak lupa mengingatkan saya pada pengalaman bertahun-tahun lampau. Ketika itu, paguyuban bangsa-bangsa membutuhkan penerjemah margasatwa untuk mengusut dugaan genosida di Republik Mussoland.

Genosida di sana dinilai lebih brutal ketimbang yang terjadi di negara manapun, sehingga penduduk yang tersisa memilih bungkam dan sepakat untuk menolak ingat.

Sebagai negara berdaulat, Republik Mussoland sangat tidak dikenal ketimbang Republik Vanuatu. Sedangkan bila dianggap dongeng, ia lebih asing dibanding Atlantis. Lokasinya lebih terpencil daripada Islandia, dan menuju ke sana adalah perjalanan yang lebih nekat dibanding berlayar melintasi Segitiga Bermuda.

Intinya, keberadaan negara itu diragukan oleh siapapun yang berakal sehat. Hingga pada 1974, ketika seorang pilot asing, yang entah bagaimana bisa diizinkan terbang meski membawa kokain yang mampu membius seisi Mussoland, mendarat darurat di sana.

Pilot itu, singkat cerita, mampu pulang ke negaranya dengan selamat, lalu memutuskan pensiun dini dan menulis buku yang membuka keberadaan Republik Mussoland kepada dunia. Buku yang berjudul ‘One Night to Escape’ itu diterbitkan pada Maret 1980, dan masuk rekor dunia sebagai buku paling tak laku dalam sejarah manusia.

Untungnya, segelintir manusia yang membeli buku itu adalah orang-orang penting, yaitu orang-orang yang memiliki kuasa penuh untuk duduk berdekatan dengan tombol peluncur rudal balistik. Merekalah yang melakukan ekspedisi gila mencari Republik Mussoland, yang baru berhasil setelah puluhan tahun pencarian.

Alih-alih menemukan bongkahan permata sebesar tank dan emas yang berserak di jalan, seperti yang diceritakan dengan amat rinci di buku tersebut, tim ekspedisi malah menemukan bangkai manusia bertumpukan di mana-mana. Itu belum seberapa, bila dibandingkan situasi negeri yang porak poranda seperti habis dijatuhi bom atom.

Jelas kejatuhan bom atom adalah hipotesis musykil, begitu pula dengan kemungkinan Republik Mussoland diserang musuh. Bagaimana pun, syarat utama perang terjadi adalah kedua pihak yang berseteru haruslah ada, nyata, bukan isapan jempol agar bom atom tahu ia harus menuju ke mana.

Maka, setelah mengontak pasukan perdamaian dari paguyuban bangsa-bangsa, tim ekspedisi melakukan serangkaian investigasi yang tak menghasilkan apa pun. Persoalannya, mereka tak menemukan manusia yang cukup utuh dan hidup untuk ditanyai, kecuali dua cowok remaja yang memilih bungkam.

Andaikata keduanya berbicara, hasilnya sama saja: tak ada satu pun anggota tim ekspedisi yang mengerti bahasanya. Pasukan perdamaian juga merasa putus asa, semata karena tak lagi ada yang perlu didamaikan di sana.

Namun, paguyuban bangsa-bangsa adalah organisasi yang keras kepala. Setelah memulangkan pasukan perdamaian, paguyuban itu mulai mengumpulkan pelbagai ahli untuk melakukan investigasi. Misi ini melibatkan ahli nuklir berkompeten, sepasukan detektif, ahli bahasa kuno, segala macam penerjemah, dan tak ketinggalan pula beberapa cenayang.

Tak ditemukan jejak radioaktif, tetapi ahli bahasa kuno dan penerjemah termasuk cenayang melakukan tugasnya dengan amat baik. Ahli bahasa kuno menemukan catatan tertulis pada sebuah perkamen bahwa penduduk Republik Mussoland pernah mencoba menciptakan sarden kalengan. Mereka juga menemukan fakta mengenai penggunaan katana dan guillotine untuk mengeksekusi tahanan.

Hasil penyelidikan yang lebih impresif adalah penemuan bukti-bukti genosida yang amat brutal. Bukti-bukti itu dikumpulkan dari wawancara dengan pelbagai hewan yang selamat dari tragedi itu, sementara cenayang juga mengamini hal tersebut setelah mewawancarai sebanyak mungkin mereka yang tak selamat.

Dua cowok remaja tersebut akhirnya buka mulut. Itu berkat usaha tanpa lelah para detektif yang kali itu merangkap interogator bengis. Ya tak apa-apalah, toh semua demi kebaikan yang lebih besar.

Lalu tersusunlah kronologi genosida itu: September tanggal 30, penduduk yang tak puas pada kebijakan pemerintah melakukan kudeta. Penduduk yang tak puas itu jumlahnya hanya sepersepuluh dari total penduduk Republik Mussoland. Mereka tinggal di pinggiran pulau dan dianaktirikan.

Ketika seorang penarik pajak datang ke daerah mereka sebagaimana biasa, yang ia dapatkan bukanlah upeti, melainkan sabetan katana di bagian tubuh mana pun yang terlihat mata. Ia mati, tentu saja, tetapi penduduk yang masih tak puas merangsek ke ibukota dan menciptakan huru-hara.

Pemerintah tak tinggal diam. Diterjunkanlah seluruh tentara, yang jumlahnya nyaris sama dengan para pemberontak itu, untuk menertibkan keadaan. Masalahnya, musuh yang mereka hadapi adalah orang-orang marah dan lapar. Mudah ditebak kalau semua tentara pemerintah akhirnya tumpas.

Presiden yang tak berpengawal terbunuh beserta seluruh keluarga dan menteri-menterinya. Penduduk sipil juga terbunuh, dan seluruh bangunan menjadi arang. Semuanya terbunuh, pada akhirnya begitu, termasuk para pemberontak akibat kelelahan dan euforia yang berlebihan.

Hanya dua cowok itu yang selamat. Mereka tidur amat lelap di rumahnya ketika pemberontak mulai membunuhi siapa pun, dan baru terbangun beberapa saat sebelum tim ekspedisi tiba. Mereka tak tahu apa pun, sebenarnya.

“Jangan ceritakan kepada kami apa yang kalian peroleh dari investigasi ini,” ujar salah satu dari mereka. “Kami tidak ingat, dan tidak ingin ingat. Kami menolak ingat.”

Lalu tiba-tiba semua arwah hewan dan tumbuhan yang kami investigasi juga menolak ingat. Mereka kompak tak mau ngomong, padahal masih banyak hal yang harus ditanyakan.

Misalnya, kebijakan apa yang menyebabkan para pemberontak merasa tak puas? Atau, kapan tepatnya pemberontakan itu dimulai? Bahkan kami belum tahu siapa nama presiden yang terbunuh itu dan siapa pula nama pembunuhnya?

“Sudah kukatakan, aku tak ingin mengingat apa pun,” ringkik arwah seekor kuda yang menyusup ke tubuh salah satu cenayang, yang kemudian saya terjemahkan.

“Tapi ini penting untuk keadilan dunia,” kata saya. “Masyarakat dunia bisa mengambil pelajaran dari tragedi yang terjadi di sini.”

“Jangan bikin lelucon, Nak. Masyarakat dunia bisa mengambil pelajaran dari ketidakadilan yang terjadi di mana pun. Di negaramu, misalnya. Kenapa kau tak menggelar investigasi di Papua demi keadilan? Atau, kalau kau ingin keterlibatan arwah-arwah, kenapa kau tak panggil saja mereka yang terbunuh pada tahun enam lima?”

Sumpah mati… Saya terkejut mendengarnya! Pertama, arwah kuda itu bertutur dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, meski logatnya terdengar kuno. Kedua, yah, saya tak pernah berpikir untuk menggelar investigasi di negara sendiri. Mungkin saja pemerintah mau?

Arwah itu kemudian berkata lagi kalau kronologi genosida di Republik Mussoland nyaris identik dengan apa yang terjadi di negara lain. Menyelidiki yang satu berarti membuka tabir yang lain.

“Sudah, aku ingin lupa saja. Jangan panggil aku lagi, atau siapa pun. Biarkan kami lupa,” pungkasnya dengan ringkikan.

Saya pun penasaran. “Mengapa anda menyinggung negara saya? Siapa anda sebenarnya?”

Ia meringkik begitu melengking sebelum menggeram dan berkata, “Aku kuda, Nak. Kuda yang pernah hidup di negaramu.” Ia membuat gerakan rumit dengan tangannya, dan tiba-tiba munculah sebuah buku dari ketiadaan.

“Tak akan kau dapati buku ini di negaramu, tapi kau harus baca agar kau tahu bahwa pemimpin partai yang pernah jaya di negaramu itu memiliki kuda. Yaitu, aku.”