Ekonomi Lampu Disko, Kenapa Tidak?

Ekonomi Lampu Disko, Kenapa Tidak?

Ada orang yang bilang kondisi ekonomi sudah ‘lampu kuning’, tapi ada juga yang mengatakan ‘lampu oranye’. Yang menyeramkan ada yang berpendapat sudah ‘lampu merah’.

‘Lampu kuning’ artinya hati-hati, ‘lampu merah’ artinya bahaya. Sedangkan ‘lampu oranye’ bisa dibilang siaga dan waspada, karena mendekati bahaya.

Analogi lampu lalu lintas (traffic light) itu mungkin maksudnya baik agar semua pihak bisa memahami kondisi dengan mudah, meski sering juga dimanfaatkan untuk memperburuk situasi.

Tapi mau bagaimana lagi, ekonomi Indonesia memang sedang lesu. Pertumbuhan ekonomi terus melambat. Pada kuartal II-2015, pertumbuhan ekonomi turun 1% menjadi 4,67% dibandingkan kuartal I-2015. Pada kuartal I-2015 juga turun 0,18% dan kuartal IV-2014 melemah 2,1%.

Waktu kuliah ekonomi dulu, kalau terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi selama tiga kuartal berturut-turut, bisa dibilang masuk masa resesi. Tapi itu textbook, harus lihat dulu bagaimana kondisi ekonomi riil. Wah, jadi serasa masuk kelas lagi nih, hehe..

Yang paling gampang, coba lihat sektor makanan dan minuman (mamin). Jika kita ke resto atau rumah makan kecil langganan, apakah pengunjung tampak mulai berkurang. Bahkan, ada teman menulis status di medsos, “Wahai perut, bersiap ya bakal sering-sering makan mie instan nich..”

Faktanya, sektor mamin turun sekitar 10% pada semester I-2015. Selama ini, mamin menjadi salah satu andalan ekonomi domestik. Rupanya kelesuan ekonomi telah memukul daya beli masyarakat. Apalagi, harga bahan pokok merangkak naik. Bagi yang suka belanja belanji tidak penting, lebih baik tahan diri dulu.

Sekarang coba tengok industri dalam negeri. Akibat rupiah melemah sampai menembus Rp 14 ribu per dolar AS, biaya produksi terkerek naik. Industri juga akan terpukul oleh utang luar negeri yang mereka pikul.

Ujung-ujungnya, perusahaan memilih untuk efisiensi dan tidak menutup kemungkinan terjadi PHK. Apakah sudah terjadi?

Kolumnis Sidney J Harris menggambarkannya secara sederhana. “Resesi terjadi kalau tetanggamu kehilangan pekerjaan. Kalau depresi ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.”

Tidak hanya sektor riil, kelesuan ekonomi juga menghantam pasar saham dan surat utang. Indeks harga saham gabungan (IHSG) berdarah-darah. Kini, giliran masyarakat kelas menengah atas yang menjerit.

Apakah ini menandakan bahwa ekonomi di tanah air sudah ‘lampu kuning’, ‘oranye’, atau ‘merah’? Yang pasti belum ‘bendera kuning’ alias bangkrut. Apalagi ‘janur kuning’, mentang-mentang musim kawin, hehe..

Tapi coba kita cermati lampu-lampu itu. Ekonomi kita tampaknya terlalu sering melewati lampu lalu lintas, yang memang banyak tersedia di jalan raya kota-kota besar. Maklum, perputaran uang masih berpusat di kota-kota besar, terutama Jakarta.

Ada baiknya datang juga ke diskotik malam hari. Dari diskotik, kita bisa belajar soal optimisme. Di tempat itu, lampu disko penuh warna, mulai dari kuning, merah, hijau, menyala bergantian penuh sinergi seiring musik yang membangkitkan denyut nadi.

Semua orang berkumpul menjadi satu, mulai dari pejabat, politisi, aparat, pengamat, pekerja, mahasiswa, ibu rumah tangga, sampai wartawan, lho ?!

Ya, ekonomi sekarang butuh lampu disko. Optimistik, gembira, dan penuh denyut nadi. Asal tidak kebablasan, tidak ada masalah. Ekonomi juga begitu. Kalau lagi bagus, jangan kebablasan sampai euforia. Kalau lesu, jangan pesimis dan sedih, seperti tidak ada denyut nadi. Apalagi sampai bunuh diri.

  • keren tulisannya

  • Carla Putri

    Liarrr….