Eka Kurniawan di antara Orang-orang Bengal nan Banal

Eka Kurniawan di antara Orang-orang Bengal nan Banal

floressastra.com

Memang gampang sih mendaulat Eka Kurniawan menjadi sastrawan terbaik di Indonesia saat ini. Bagaimana tidak? Eka dinominasikan dalam Man Booker Prize 2016 lewat novel ‘Lelaki Harimau’, meraih penghargaan di World Readers Award lewat ‘Cantik Itu Luka’, dan segambreng prestasi lainnya. Banyak penikmat sastra yang membayangkan Eka sebagai tonggak kesusastraan Indonesia masa kini.

Komparasi antara Eka dan Pramoedya Ananta Toer pun mengalir begitu saja tanpa henti. Padahal, sebelum Eka meraih segala prestasinya, banyak orang mengklaim bahwa era sastra di negeri ini tidak akan sebagus dan semenakjubkan era Pram. Pram adalah tonggak awal kesusastraan yang dianggap terbaik di Indonesia. Pram menginspirasi banyak penulis masa kini dan menjadikannya sebagai role model.

Tapi melejitnya Eka Kurniawan adalah satu bukti sekaligus jawaban bahwa sastra di Indonesia masih akan terus bermekaran. Sastra di Indonesia adalah salah satu kemewahan yang bisa dinikmati di tengah degradasi moral dan banalitas pemikiran para kaum-kaum bebal di negara ini.

Eka meraih prestasi di level dunia dengan karya sastranya yang asyik. Misalnya, ‘Lelaki Harimau’. Eka bercerita tentang sosok Margio yang berkepribadian ganda. Eka juga menggambarkan dengan baik sebuah ciri kebinatangan dalam manusia di cerita hidup Margio.

Secara teknis, kekuatan utama ‘Lelaki Harimau’ terletak pada kemampuan bercerita si penulis. Saya lebih suka membaca buku yang menuturkan sebuah cerita dan ditulis dengan gaya pendongeng, bukan dengan gaya ceramah atau berkhotbah. Eka menang besar di sisi itu. Ia sastrawan hebat cum pencerita yang handal.

Masalahnya muncul ketika seringkali karya Eka dijustifikasi sebagai wajah sastra Indonesia. Hal ini, menurut saya, banal betul alias tidak elok. Saat ini, orang sudah pasti membuat standar tinggi tentang karya sastra di Indonesia. Era Eka bahkan disebut-sebut bisa menjelma seperti era Pram. Sastra di era Pram adalah yang terbaik selama bertahun-tahun dan warisannya bertahan sampai saat ini.

Eka Kurniawan (bbc.com)
Eka Kurniawan (bbc.com)

Mendaulat Eka sebagai wajah sastra Indonesia tentu menjadi kabar buruk bagi dunia sastra negeri ini. Banyak penulis cerita dengan gaya narasi asyik yang mungkin selama ini belum mendapat spotlight yang pas untuk naik ke atas panggung. Saya punya nominasi nama, misalnya Sabda Armandio Alif.

Tentu saya tak kenal dekat sosok penulis yang satu itu. Cerita-ceritanya pun hanya bisa saya nikmati di blog pribadinya. Tapi, mas Dio adalah salah satu sosok penulis atau pencerita yang underrated. Ya mirip-mirip Darmanto Simaepa atau Mahfud Ikhwan, penulis sepak bola paling underrated di Indonesia.

Jadi, menempatkan Eka sebagai tonggak kesusastraan Indonesia adalah bahaya, seperti bom waktu yang kelak memukul mundur gerak laju sastra di negeri ini. Mungkin hanya orang-orang bengal yang berpikir seperti itu. Pada awal 2016, Eka baru saja merilis novel terbaru berjudul “O”. Lalu, ada novel Raden Mandasia karya pakde Yusi Avianto Pareanom, yang belakangan jadi viral di linimasa.

Di luar itu, masih banyak penulis novel cum pencerita yang belum naik ke permukaan dan belum meraih prestasi yang membanggakan seperti Eka. Namun, bukan berarti mereka tidak menghasilkan karya atau cerita yang sebagus dan semenarik punya Eka.

Eka Kurniawan adalah salah satu penulis terbaik di Republik ini. Ia hanya salah satu, bukan yang paling baik. Walau harus diakui, saya rela habiskan uang jajan tiap bulan demi mengoleksi buku-bukunya. Eka ya Eka dan Eka tidak harus menjadi wujud sastra Indonesia. Sastra di negar ini sangat luas dan dalam. Ada banyak karya sastra dan cerita menarik yang belum diulik dan diangkat ke permukaan.

Mengusung Eka sebagai representasi sastra Indonesia adalah salah satu upaya menciutkan nyali para pencerita selain Eka. Apalagi, kalau sampai menyebut Eka sebagai gambaran umum sastra Indonesia. Anda bisa membaca karya Gabriel Garcia Marquez atau Ernest Hemingway, tapi serta merta itu tidak membuat kita memahami sastra di Kolombia atau Amerika Serikat sana, bukan?

Hal itu yang seharusnya berlaku di Indonesia dan kemudian bagaimana cara kita memahami karya-karya Eka. Eka sendiri menyakini bahwa dirinya tidak akan pernah sehebat Pram atau Chairil Anwar. Sudah sepatutnya, kita percaya kalau sastra yang bagus di negeri ini tidak hanya milik Eka Kurniawan seorang.

  • tom

    Sejalan dengan tulisan eka bbrpa hari di blog nya…