Kita dan Dwi Hartanto Bisa Jadi Sama, Hanya Beda Level

Kita dan Dwi Hartanto Bisa Jadi Sama, Hanya Beda Level

(Dokpri Dwi Hartanto)

Nama Dwi Hartanto tiba-tiba kembali mencuat. Anak muda yang sempat dijuluki ‘The Next Habibie’ itu akhirnya mengakui bahwa berbagai prestasi yang ia umbar selama ini ternyata bohong belaka.

Segala tetek-bengek tentang lulusan Tokyo Institute of Technology, posisi asisten profesor, ikut merancang Satellite Launch Vehicle, satu-satunya orang non-Eropa yang masuk ke ring satu Badan Antariksa Eropa (ESA), hingga memenangi lomba riset teknologi di Jerman, diakuinya sendiri sebagai hoax.

Kebohongan terakhirnya, yang paling menggemparkan, akhirnya ia ungkapkan juga: bahwa bukan Habibie yang memintanya bertemu dia, melainkan dia sendiri yang minta KBRI Den Haag untuk dipertemukan dengan Habibie. Jadi, lengkap sudah pengakuan Dwi Hartanto.

Banyak pihak yang sudah dibuat percaya hingga mungkin menaruh harapan tentang masa depan Indonesia di tangan anak muda ini. Lantas, fenomena apa ini? Bagaimana kita harus menyikapinya?

Kita tidak benar-benar tahu apakah Dwi Hartanto mengidap mythomania atau tidak. Mythomania adalah penyakit psikis yang diistilahkan pertama kali pada 1905 oleh Ferdinand Dupré.

Mereka yang mengidap mythomania sangat sering berbohong dan saking seringnya, antara kebohongan dan kenyataan sudah melebur sehingga mereka sendiri sangat sulit membedakan.

Pengidap mythomania berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang kenyataan yang ‘seharusnya’, bukan yang ‘sebenarnya’. Mythomania sendiri tidak ada obat serius yang benar-benar bisa mengobatinya.

Mungkin karena tidak ada obatnya, mari kita berkaca pada diri kita sejenak: Apakah pada dasarnya kita sendiri punya gejala mythomaniac, meski pada level yang berbeda-beda?

Pada tahun 2009, ada film komedi satire yang cukup menggemparkan berjudul Invention of Lying. Film yang disutradarai oleh Ricky Gervais dan Matthew Robinson tersebut bercerita tentang kehidupan sebuah kota yang tidak mengenal kebohongan.

Semua orang berkata sesuai apa yang dipikirkan, meski itu berupa kata-kata kasar, menghina, melecehkan, dan mempermalukan. Dampaknya, selain tidak ada iklan, hidup juga tidak mengenal karya seni, termasuk sastra.

Dalam kacamata kita, dalam hal ini penonton, kehidupan yang terlalu jujur justru sangat datar dan membosankan. Sebab, kita sudah ‘terbiasa dengan kebohongan’.

Pada bagian akhir film, Mark, si tokoh utama, mencoba menghibur ibunya yang sekarat dengan sebuah cerita-cerita indah setelah kematian. Mark punya tendensi berbohong, karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mati. Tapi toh, sang ibu merasa lebih lega dengan berbagai ‘kebohongan-kebohongan’ itu.

Terkait Dwi Hartanto, jangan-jangan kita sebenarnya malah senang dengan berbagai kebohongan yang diproduksi setiap hari. Fenomena Dwi Hartanto, yang belakangan kita hujat ramai-ramai, sebenarnya hanya menyuarakan sifat tribal kita yang di dalam hati berbunyi, “Akhirnya, ada yang bohongnya lebih parah dari kita.”

(rappler.com)

Kebohongan adalah sejenis harapan dan Dwi Hartanto, kalaupun tidak mengakui kebohongannya, mungkin tak ada orang yang peduli. Bisa jadi, kebohongan Dwi Hartanto tentang segala prestasinya itu jauh lebih penting daripada kejujurannya. Atau, jangan-jangan, Dwi Hartanto bohong atau tidak, sebenarnya kita sendiri malah tidak tahu.

Di sisi lain, ini juga dipengaruhi oleh cara pandang kita terhadap dunia pendidikan yang terkadang naif. Memandang dunia pendidikan sebagai sesuatu yang pasti bermartabat dan pasti keren. Hal ini mengingatkan pada sebuah kasus yang dikenal sebagai Sokal Affair.

Alan Sokal, seorang profesor fisika dari New York University dan University of College London, mengirimkan tulisan berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity”, yang dimuat di Social Text, jurnal yang membahas kajian-kajian posmodernisme.

Lalu, pada bulan yang sama setelah tulisannya tersebut diterbitkan, Sokal mengaku kepada majalah Lingua Franca bahwa artikelnya tersebut adalah hoax.

Ia sebenarnya hanya ingin menguji bagaimana dunia akademik – dalam hal ini ilmu sosial, khususnya yang mengkaji posmodernisme – , bisa begitu saja menerima suatu tulisan yang dianggap ‘keren’, tanpa harus mempertimbangkan kebenarannya.

Sokal juga mengakui bahwa tulisannya hanya dibumbui banyak istilah yang canggih-canggih agar dapat diterima sebagai sesuatu yang ilmiah. Apa artinya ‘Sokal Affair jika dikaitkan dengan kasus Dwi Hartanto?

Pada dasarnya, kita memang begitu mudah untuk menaruh harapan pada Dwi Hartanto, ketika ia menyebut macam-macam nama roket yang sebenarnya kita tidak paham. Mudah sekali bagi kita untuk percaya dan menyebutnya sebagai ‘The Next Habibie’, hanya karena ia lulusan dari universitas yang kita pun sebenarnya tidak tahu itu universitas apa.

Intinya, asal terdengar keren, maka itu berarti akademis. Jika itu akademis, berarti juga keren. Bahkan yang lebih gawat, ada semacam dogma aneh yang berbisik dalam diri kita, “Semakin kita tidak paham itu apa, berarti semakin keren dan akademislah itu.”

Jadi, sebelum kita menerima Dwi Hartanto-Dwi Hartanto yang lain, perbaiki terlebih dahulu cara pandang kita terhadap dunia akademik. Jangan sampai, yang tidak dapat dimengerti itu sudah pasti benar; yang terdengar ilmiah, juga pasti benar. Dunia akademik tidak sekeren itu, kok…

  • Fitriati Anom

    assalamualaikum, keberanian untuk mengakui semua kebohongan patut diapresiasi. dari pada menghujat cukup ucapkan naudzubillahimindzalik. karena kami dan dia juga manusia yang sama-sama mempunyai potensi benar/salah. dan cukup diambil pelajarannya saja

    • coffeetalks

      Ngehe…… dia bukan MENGAKUI. ini orang kalo ga dipaksa ngaku dan dibilangin berkali2, gak akan ngaku juga. jadi jangan belain ini orang. dia gak akan ngaku juga.