Dunkirk, Al-Aqsa, dan Kita

Dunkirk, Al-Aqsa, dan Kita

scenecreek.com

Hentakan Blitzkrieg Bop-nya Ramones yang menyertai last scene “Spiderman Homecoming” – ketika bibi May sedang… ah sudah lah ya, jangan diteruskan – sempat memotivasi saya untuk bergegas menulis review manusia laba-laba versi Tom Holland tersebut.

Bagaimana tidak, perasaan campur aduk serta kenangan manis, pahit, dan getir seperti cerita kita, eh? membuncah gegara banyak kejutan yang disuguhkan sang sutradara, Jon Watts. Tak heran, IMDB mengganjar “Spiderman Homecoming” dengan rating 8.0.

Tapi niat itu sontak tertunda, setelah saya dan istri menonton “Dunkirk” yang didukung oleh paket nomat alias nonton hemat. Padahal, beberapa hari sebelum film itu tayang, saya tak terlalu peduli dengan komentar dan artikel yang berseliweran di linimasa.

Ini bukan karena saya nonton pakai paket hemat, tapi “Dunkirk” bisa dibilang salah satu film yang masuk kategori a must see movie. Tak cuma ceritanya yang legendaris, melainkan kehadiran Harry Styles, mantan personel One Direction, yang kece itu. Haha, nggak deh, tapi karena ada pesan-pesan yang bisa kita tangkap dari film tersebut.

“Alhamdulillah Gusti, di sini kami masih diberikan kedamaian, nggak mengalami perang seperti di tempat lain.” Itu adalah sekelumit ungkapan perasaan saya setelah keluar dari ruang sinema.

Ungkapan yang sebenarnya rada egois sih, mau cari aman sendiri. Padahal, setiap hari, perang berbalut kebencian terus terjadi di sini. Tuh, di media sosial…

Namun, setidaknya, kita masih bisa statuswar atau twitwar sambil ngopi-ngopi, mereguk udara bebas, tidak sampai hidup di gorong-gorong sambil menghirup bau mesiu. Nikmat statuswar atau twitwar mana lagi yang sanggup kau dustakan?

Kedamaian yang hakiki tanpa rasa benci itu harganya mahal, rakyatku. Mungkin kita di sini bisa nonton film drama perang macam “Dunkirk” dengan nyaman di pojokan baris kursi bioskop. Tapi, bagaimana dengan warga Palestina?

Selama periode penayangan film “Dunkirk”, kita pun turut menyaksikan bagaimana warga di sana juga hidup di bawah tekanan dan ancaman moncong senjata. Bahkan, untuk sekadar beribadah saja sulit.

Adalah insiden kekerasan oleh tentara Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa, yang dikecam oleh dunia internasional, termasuk Indonesia. Di sana, kedamaian sangat mahal sekali. Bahkan, saking mahalnya nyaris mustahil untuk mendapatkannya.

Kedamaian juga barang langka bagi mereka yang menjadi korban dari sebuah konflik bersenjata di beberapa negara lain di Timur Tengah. Kedamaian juga jelas tidak terlintas di benak seorang teman saya, saat peluru dari kelompok separatis nyasar ke dinding apartemennya di Lagos, Nigeria. Atau, coba lihat saudara-saudara kita di Papua.

Siapa yang suka perang? Rasanya tidak ada. Kalau yang suka kamu, banyak. Dan, kalau perang betul-betul meletus seperti Perang Dunia II atau bahkan lebih hebat, misalnya nih Perang Dunia III amit-amit, apa yang bisa kita lakukan?

Mau ikutan maju ke medan pertempuran? Ya siapa tahu kamu punya rasa nasionalisme yang begitu tinggi, karena merasa sudah mengikuti program bela negara. Atau, menjadi ajang pembuktian bahwa kamu benar-benar lelaki jantan, seperti banyak pemuda saat Perang Dunia II?

Saat perang berkecamuk, tak ada seorang pun yang bisa menjamin nyawa kita dan keluarga. Bisa jadi, saat jalan-jalan santai Minggu pagi, tiba-tiba saja harus berlari saat mendengar suara letusan senapan.

Jangankan berusaha balik badan balas menembak, menoleh ke belakang dan melihat siapa si penembak pun tak sempat. Yang penting lari dulu, cari tempat persembunyian yang aman, baru kemudian dipikirkan harus berbuat apa. Ini yang dirasakan oleh Fionn Whitehead (Tommy) dalam adegan awal film “Dunkirk”.

Christopher Nolan, sang sutradara, memang jenius. Ia bisa menyajikan suasana mencekam. Kita seolah merasakan situasi dan drama yang terjadi di layar kaca. Nolan pun piawai dalam memainkan ritme, memompa imajinasi kita, sehingga betul-betul hanyut terbawa alur cerita.

Ulah Nolan ini membuat saya teringat pada adegan di “Interstellar”, saat Cooper (Matthew McConaughey) terlambat kembali ke pesawat hanya beberapa menit saja, tapi ia musti menerima kenyataan bahwa teori relativitas khususnya soal perbedaan waktu antara dirinya dan bumi betul-betul terjadi.

Dalam “Dunkirk”, kita bisa merasakan bagaimana kegundahan si pilot Spitfire, Farrier (Tom Hardy), yang ragu apakah ia harus kembali ke base karena bahan bakarnya nyaris habis atau terus mengejar pesawat Jerman, yang mengincar ribuan tentara Inggris dan Prancis yang sedang berusaha dievakuasi dari pesisir Pantai Dunkirk?

Apa yang anda rasakan ketika melihat pesawat pembom melintas di atas kepala yang menjadi pertanda bahwa mungkin saja ajal anda sudah dekat?

Maka, saya heran dengan orang Indonesia – kalau masih boleh disebut begitu – yang pergi untuk bergabung dengan ISIS di Irak atau Suriah. Merasa bangga bisa selfie, eh foto diri pakai topeng dan nenteng senjata. Berkoar-koar ingin perang dengan kita. Entah, siapa yang dibela?

Giliran sakit-sakitan, nggak punya uang, atau kecewa karena pemimpin ISIS ternyata haus darah dan seks, mereka ingin pulang ke Indonesia. Kasih nggak ya, gaes?

Sejatinya menonton “Dunkirk” akan menguji kewarasan kita. Begitu juga dengan apa yang dialami oleh warga Palestina. Bahwa perdamaian lekat dengan kemanusiaan. Dan itu, tidak bisa dirampas seenaknya.

Di sini, kita masih bisa berangkat ke kantor, meski terus ngedumel dan stres akibat macet. Kita masih bebas mengantar anak ke sekolah, walaupun beli bensin masih botolan. Bisa makan enak di mal tanpa rasa was-was, meski limit kartu kredit hampir habis.

Tapi, kalau anda masih saja getol menyebar kebencian, apa jadinya?

  • Rahmad valen90

    mntap..

  • Dedi Kurniawan94

    Mantap gan, artikelnya sangat menginspirasi menurut saya, walaupun sedikit menyindir…

  • M Yusuf Tahmidillah

    respect deh ceritanya gan, bisa di jadiin ref nih

  • Rini Kartika

    Filmnya di cocok cocokan dengan apa yang terjadi di Palestina? Sangat lucu.
    Juga terlihat sekali si penulis berusaha sangat keras untuk membuat kata kata dalam artikel ini terdengar sarkastik, menurut imajinasinya sendiri.
    Dengan kata lain, artikel yang “maksa”.

    • 1
      Wibu adalah orang yang bisa dibilang “over-fanatik” terhadap segala yang berbau Jejepangan. Apalagi Anime dan J-Pop.

      Wibu dapat dilihat dari kelakuannya di sosial media (terutama
      facebook) yang pokoknya serba Jejepangan. Mulai dari profile picture-nya
      yang tidak pernah menggunakan foto asli dan menggunakan foto
      Jejepangan, menggunakan nama samaran yang berbau jejepangan (misalnya
      nama aslinya Sunardi kemudian di sosmed diubah jadi Yoshikawa, dll), dan
      selalu mengagung-agungkan Jepang dan membuang negeri sendiri. Gaya
      bicara seorang wibu juga khas, yakni mencampuradukkan bahasanya sendiri
      dengan kata serapan dari Bahasa Jepang seperti desu, sugoii, kawaii, dan
      lainnya.

      Intinya, wibu itu bisa dibilang orang yang terlalu fanatik dengan
      Jejepangan. Semua perilakunya berkiblat pada Jepang, Jepang, dan Jepang.

      Namun yang perlu diingat, tidak semua krang yang suka dengan Jepang adalah Wibu. Mereka bisa saja disebut Otaku.

      Otaku adalah…

      Nah kalau tadi kita ngebahas soal Wibu, sekarang ada istilah yang 11-12 sama wibu. Yakni Otaku.

      Otaku hampir setara dengan wibu. Namun Otaku lebih less-fanatic
      dibandingkan Wibu. Terkadang, orang mendefinisikan Otaku adalah Wibi,
      namun hanya untuk orang Jepang asli.

      Seperti yang mimin bilang sebelumnya, Otaku lebih less-fanatic
      dibandingkan Wibu. Otaku suka dengam jejepangan namun tidak secara
      berlebihan.

      Otaku terkadang tidak terlalu menunjukkan kesukaannya terhadap Jepang, dan masih mencintai budaya negeri sendiri.

      Kesimpulan

      Ya, definisi wibu dan otaku sendiri masih banyak diperbincangkan oleh
      banyak orang dan komunitas. Namun definisi wibu dan otaku pada
      postingan ini adalah pendapat dari mimin sendiri.

      Kalau kamu suka dengan budaya Jepang, jangan lupakan apalagi membenci budaya sendiri ya!