Dua Sisi Ghibah Berjamaah di Media Sosial

Dua Sisi Ghibah Berjamaah di Media Sosial

lebihberiman.xyz

Selain mampu menjadi medium untuk social campaign sebagaimana dijelaskan mas Bram Sitompul dalam artikelnya berjudul “Dari Twitter ke Petisi, Gerakan Sosial sambil Ngopi-ngopi Cantik?”, internet juga bisa menjadi medium paling enak untuk berghibah.

Dua hal itu sebenarnya bukan sekarang saja terjadi. Kita tentu sudah sangat akrab dengan fenomena ghibah di dunia nyata. Padahal, mempergunjingkan dan menertawakan orang lain dengan maksud mengolok-olok itu adalah penyakit masyarakat. Lalu industri televisi kita lebih dulu memfasilitasi dan mengkomodifikasi, sehingga kemampuan orang untuk berghibah semakin mumpuni.

Dan, internet menjadi medium dua arah untuk berghibah dengan sumber berita. Lalu kita tumbuh dalam lingkungan dimana kita senang menyaksikan penderitaan orang lain. Pemahaman ini saya dapatkan dari salah satu kata dalam bahasa Jerman: schadenfreude. Internet kemudian memfasilitasi kita untuk melakukan hal ini dengan sempurna.

Berbeda dengan dulu, dimana kita sebagai kaum doyan ghibah hanya mampu berbicara dan tertawa di belakang. Tapi sekarang internet mampu memfasilitasi kita untuk lebih berani berghibah. Internet mampu membuat kita berani menertawakan siapapun yang kita mau. Tentu, ini semua dilakukan secara berjamaah.

Namun, ghibah, yang dalam agama Islam disebutkan bahwa dosanya seperti memakan bangkai saudara sendiri, tak melulu soal kesenangan di atas penderitaan orang lain.

Dalam sebuah puisi Aan Mansyur berjudul ‘Menikmati Akhir Pekan’, orang yang bersedih tahu apa yang ia inginkan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Mark Twain bahwa sumber humor berawal dari kesedihan.

Nietzsche bahkan mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya hewan yang tertawa, karena ia menderita dengan rasa kesendirian yang teramat mendalam.

Dalam sebuah artikel di Pindai berjudul ‘Melawan Melalui Humor’ juga dijelaskan bahwa ghibah – dan humor ala warung kopi – adalah sebuah wujud perlawanan, karena ketidakberdayaan masyarakat dalam mengubah keadaan.

Maka, dari sini, dapat kita simpulkan bahwa humor – dan perasaan seolah berbahagia saat berghibah – tak melulu soal bahagia. Di dalamnya mungkin ada sebuah keresahan yang enggan disalurkan secara eksplisit.

Ghibah berjamaah di internet bisa jadi wujud resistensi atau suatu upaya menyalurkan keresahan atau suatu bentuk kepedulian seseorang terhadap kehidupan sosial, yang seringkali nampak memprihatinkan.

Ia, dalam meme ataupun tagar yang tampak seperti guyonan, menyadurkan sebuah pesan yang ingin ditangkap oleh masyarakat. Ada sebuah harapan bahwa masyarakat sadar akan pesan yang berusaha dibungkus ala humor warung kopi yang penuh spontanitas. Lantas hal ini mampu mendorong untuk perubahan diri menjadi lebih baik.

Kendati demikian, itu tentunya tak selalu nampak baik-baik. Karena sebagaimana yang dikatakan Sartre, ketika menertawai seseorang, kita memperlakukan mereka seperti sebuah objek dan menghancurkan solidaritas dengan mereka. Lidah lebih tajam dari pisau, dan status yang kita tulis di media sosial bisa saja lebih tajam dari lidah.

Sementara, seperti yang dikatakan Zen RS, kita kerapkali melakukan hal yang berbahaya: lebih banyak berkomentar daripada membaca. Dan bahayanya, orang yang banyak berkomentar bisa menjadi imam di internet. Tanya saja Tere Liye kalau tak percaya.

Saat sebuah pesan mulai disebar secara viral di internet, tak jarang ada yang muncul dalam upaya menciptakan sensasi semata dan menghilangkan upaya mulia menyampaikan pesan perubahan dalam format berghibah.

Dalam upaya memberikan kesadaran, media sosial menunjukkan ghibah berjamaah sebagai suatu hal yang sungguh kejam tanpa imam yang baik. Hal ini membuat semua orang seakan berada di depan wajah sang objek dan mengikuti opinion leader untuk menertawakan dirinya tanpa tahu substansi mereka menertawakan itu buat apa.

Dalam kasus Ahok, semua yang membenci Ahok seakan ikut menumpang dalam kritik sosial mengenai reklamasi Teluk Jakarta. Tak sepenuhnya orang yang muncul dalam humor mengenai Ahok itu peduli amat dengan reklamasi Teluk Jakarta.

Karena, tak jarang muncul opini yang off-context, seperti membicarakan soal ras dan karakter Ahok, yang disambung dengan nama-nama binatang dari mereka yang terlanjur tak suka dengan gubernur Jakarta ini. Jelas itu tak ada hubungannya.

Tentu ini bukanlah suatu hal yang elok. Mereka tak lagi membicarakan hal yang berkaitan dengan substansi dengan maksud menyadarkan, tapi mereka cenderung ingin ikut dalam euforia hate speech.

Sampai disini kita disadarkan bahwa ghibah berjamaah di media sosial adalah dua sisi koin yang tak bisa dipisahkan. Di satu sisi, ia adalah wujud kepasrahan dan ketidakmampuan untuk mengubah. Sementara di sisi lain kerap diracuni oleh hasrat untuk mencari sensasi belaka.

Ya, sementara itu, adalah tugas kita, anda dan saya, para calon imam istri-istri soleha dimanapun kalian berada, selain belajar untuk menjadi imam yang baik bagi keluarga, belajar juga menjadi imam yang baik dalam urusan berghibah.

Karena sesungguhnya, ghibah yang baik adalah ghibah yang mencerdaskan. Eh, tapi tunggu dulu, emang ada ghibah semacam itu? Lupakan saja, mari kita berghibah lagi. Tentunya berjamaahhh…

Jamaahhh… Ohh jamaahhh…