Drama Dian Sastro: Gelas Pecah yang Tertukar

Drama Dian Sastro: Gelas Pecah yang Tertukar

soundbeat.org

Dian Sastro itu terlanjur Cinta. Lho, cinta sama siapa? Indraguna Sutowo atau Rangga? Waini, susah bedakan antara Dian Sastro dan Cinta. Maksud saya, Dian Sastro itu terlanjur identik dengan Cinta (bukan cinta), salah satu tokoh utama dalam film ‘Ada Apa dengan Cinta (AADC)?’, selain Nicholas Saputra sebagai Rangga.

Ya kalau mau jujur, sungguh sulit untuk tidak membawa-bawa film AADC dengan segala romansanya ke kehidupan nyata Dian Sastro. Dan, mbak Dian seharusnya maklum. Nama mbak bisa melambung di industri perfilman nasional sampai saat ini berkat film AADC.

Pada 2002, AADC begitu membahana ke pelosok negeri, sampai-sampai film garapan Miles Films ini dianggap sebagai tonggak kebangkitan kembali film nasional. Jumlah penonton film AADC pada 14 tahun silam menembus 2,1 juta penonton.

Tapi, bagaimana dengan film lain yang juga dibintangi Dian Sastro? Kalau mau jujur tidak secetar AADC. Sebut saja film ‘Ungu Violet’ (2005), ‘Drupadi’ (2008), dan ‘7/24’ (2014). Bahkan film ‘3 Doa 3 Cinta’ (2008) yang mempertemukan kembali akting Dian Sastro dan Nicholas Saputra tak mampu melampaui kemasyhuran AADC.

Jadi, suka atau tidak suka, memang sulit melepaskan Dian Sastro dari bayang-bayang film AADC. Bahkan, kata-kata Dian Sastro saat memerani tokoh Cinta begitu syahdu terdengar, meski lagi ngomel sekalipun. Misalnya, “Itu salah gue, salah temen-temen gue?”, “Basi! Madingnya udah siap terbit!, “Elo tuh bener-bener sakit jiwa!”

Kalau Cinta yang ngomong sih enak-enak aja dengernya, terutama di kuping kaum Adam. Mungkin sekarang pun kalian sedang senyum-senyum nggak jelas gitu kan? Baiklah… Bagaimana kalau itu saya yang ngomong, “Elo tuh bener-bener sakit jiwa!” Pastinya, kalian para lelaki pada kabur kesemsem juga kan? Hehe…

Tapi, ada satu yang ambigu pada karakter Cinta. Coba perhatikan kata-kata ini. “Bila emosi mengalahkan logika, terbukti kan banyak ruginya. Benerkan?”. Lalu bandingkan dengan yang ini. “Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh”. Satu sisi Cinta terkesan sebagai perempuan rasionalis, tapi di sisi lain terkadang sangat emosional.

Kata-kata “Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh” itu sangat berkesan sekali, sampai-sampai mas Bram Sitompul dalam artikelnya di Voxpop berjudul “Ketika Ahok Begitu Bising, Kami pun Bersandar di Pundak Dian Sastro”, berharap film AADC 2 yang bakal tayang pada 28 April 2016 bisa “pecah” di bioskop.

Katanya biar jadi keramaian baru di media sosial, karena kuping sudah pekak dengan kebisingan yang dibuat oleh para pecinta dan pembenci Ahok. Sabar ya mas Bram… Seperti yang pernah ditulis mas Jauhari Mahardika, “Cinta pasti akan kembali dalam satu purnama.”

Tapi rupanya, “gelas” itu pecah lebih cepat. Pertukaran “gelas” pecah ini terjadi pada malam minggu, 16 April 2016. Ketika itu, pernyataan Dian Sastro yang ditulis dalam pemberitaan awal kompas.com sempat bikin gaduh di media sosial. Disas, kalau mau kita panggil begitu, dianggap netizen tidak simpatik terhadap ibu-ibu asal Rembang, Jawa Tengah, yang melakukan aksi mengecor kaki dengan menggunakan semen di depan Istana Negara, Jakarta.

Kata-kata Dian yang ditulis kompas.com dinilai melukai perjuangan “9 Kartini Kendeng” tersebut. Terutama kata-kata yang ini. “Ibunya lepas dong dari politik, kembali ke urusan domestik.” Semula, saya termasuk orang, yang kebetulan perempuan, kaget dan kecewa dengan pernyataan itu. Pecah banget.

Jika benar bilang begitu, saya tak habis pikir Dian Sastro, yang katanya terpelajar, lulusan Filsafat UI, masih berpikir bahwa perempuan itu urusannya cukup di sumur, dapur, dan kasur. Loha, apa kabar tokoh-tokoh feminisme macam Betty Friedan, Naomi Wolf, dan RA Kartini? Apalagi sebentar lagi menyambut Hari Kartini 21 April. Dan, Dian Sastro sendiri sempat menjadi pembicara di seminar tentang spirit Kartini di Jepara, Jawa Tengah.

Tapi rupanya, Dian Sastro tampak tenang dan tetap berpikir rasional, mungkin karena sudah jadi mamah muda. Berbeda dengan karakter Cinta dalam film AADC pada 14 tahun lalu, yang kadang emosional meledak-ledak. Ya namanya juga masih unyu-unyu.

Sadar dirinya di-bully di Twitter, Dian Sastro tak terpancing meladeni cuitan netizen, meski para fans mendorong doi untuk menggelar twitwar. Dian Sastro lebih memilih mengklarifikasi langsung pernyataannya ke kompas.com. Dia membantah itu semua. Doi kecewa atas salah kutip dalam pemberitaan tersebut.

Bagi Dian, pemberitaan sebelumnya bertentangan dengan prinsipnya, yang sangat menjunjung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Dia mengaku selalu memperjuangkan itu dari dulu, baik melalui karya seni maupun dalam sikap laku sehari-hari.

Baiklah kalau begitu, yang sabar-sabar mbak Dian. Tapi, dari “gelas” yang pecah terlalu cepat itu setidaknya kita bisa pungut belingnya hikmahnya. Dari situ, saya dan mungkin para pembaca bisa mencoba kembali memahami perjuangan para ‘Kartini Kendeng’. Syukur-syukur ikut mendukung. Mbak Dian juga pastinya begitu. Toh, semula, mbak mengaku kurang paham atas apa yang terjadi di Rembang.

Dari kegaduhan itu pula, kita juga diingatkan kembali tentang kesetaraan gender, yang saat ini masih menjadi cibiran sebagian orang. Perempuan dan laki-laki itu punya hak yang sama, entah itu di sekolah, kampus, kantor, pemerintahan, atau di mana pun di dunia ini.

Menghapus hegemoni budaya patriarki yang selama ini menghantui itu hukumnya wajib. Sebab, kemerdekaan masih menjadi barang mewah yang sulit didapat oleh kaum perempuan.

Terlepas dari itu semua, tiba-tiba kok terbesit rasa penasaran dalam hati saya tentang bagaimana nanti film AADC 2? Apakah Cinta akan menjadi perempuan yang rasional, seperti karakter Dian Sastro di dunia nyata? Lalu, berharap Cinta berkata, “14 tahun saya menunggu kamu. Jangan banyak omong kau Rangga… Kita langsung nikah aja yokk!” Yah, kalau berpikir rasional, kira-kira dialognya seperti itu. Kelamaan sudah 14 tahun.

Lagipula, perempuan secantik Cinta pasti banyak yang antre. Kalau pilihannya tetap sama Rangga, seharusnya langsung dikawinin. Seperti Dian Sastro yang dinikahi sama Indraguna Sutowo. Rangga juga begitu. Kok nggak bisa move on dari Cinta selama 14 tahun? Padahal, banyak bule-bule cantik nan semlohay di Amrik. Atau, Rangga cuma mau sama cewek yang bisa bikin puisi kayak Cinta dan saya. Halahh…

Tapi, kalau karakter Cinta di AADC 2 tetap dibikin labil nan emosional, tidak akan ada pernikahan antara Rangga dan Cinta. Tidak akan ada tuh yang namanya, “Bagaimana saksi? Sah, sahhh…” Pasti para penikmat film drama happy ending bakal gigit jari. Terus-terusan dibikin baper entah sampai kapan. Mungkin 14 tahun lagi? Ada Aqua?