Drama Ahok Dilihat dari Asmara dan Gaya Pembalap MotoGP

Drama Ahok Dilihat dari Asmara dan Gaya Pembalap MotoGP

crash.net

Drama antara Ahok, Teman Ahok, dan partai politik menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 memang bikin baper. Kisah mereka layaknya sebuah drama percintaan. Kebaperan semakin membuncah, ketika dibumbui aksi tikung bak gaya pembalap MotoGP sekelas Valentino Rossi, Casey Stoner, atau Marc Marquez.

Ahok, Teman Ahok, dan parpol ditengarai terlibat cinta segitiga sejak tahun lalu. Hubungan mereka mulai memanas tahun ini, ketika PDI-P dan Teman Ahok seolah rebutan untuk mendapatkan hati Ahok. Saya tak ingin menilai siapa yang menjadi orang ketiga, apakah parpol atau Teman Ahok? Ah, pamali ikut campur urusan asmara orang lain.

Tapi, kalau mengacu pada fakta – bukan gosip tetangga – Basuki Tjahaja Purnama atau Zhōng Wànxué atau Hakka Ahok sudah bermesraan dengan parpol sejak lama, jauh sebelum hadirnya Teman Ahok. Pada 2004-2008, Ahok sempat singgah di Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB). Lalu, pada 2008-2012, ia pindah ke Partai Golkar. Kemudian, pada 2012-2014, Ahok masuk Partai Gerindra.

Setelah itu, Ahok keluar dari Gerindra dan memilih jomblo alias tanpa parpol. Kejombloan Ahok justru semakin memikat hati parpol yang lain, terutama PDI-P, yang ikut mengusung pasangan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI 2012. PDI-P sebenarnya sudah kasih kode akan mengusung kembali Ahok sebagai calon gubernur DKI pada Pilkada 2017.

Tapi, rupanya, Ahok itu tipe pria yang menginginkan kepastian dalam hubungan. Tak ingin jadi korban PHP, ia meminta kepastian dari PDI-P. Kalau perlu langsung lamaran, akad nikah, malam pertama, eh…

Lalu apa jawaban dari PDI-P? Partai pemenang pemilu itu tampaknya belum kebelet (atau pura-pura nggak kebelet). “Sabar Hok, jalanin aja dulu. Kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana.” Mungkin begitu ilustrasinya. Sebuah jawaban klasik nan diplomatis yang sudah bosan kita dengar ketika sedang kasmaran, bukan?

Di tengah kegalauan itu, Teman Ahok hadir dan memberi kepastian kepada Ahok. Maju sebagai calon independen. Ahok pun menerima lamaran itu dan dimulailah pengumpulan KTP sebagai mas kawin, yang kabarnya tembus satu juta copy.

Mas kawin itu bukan ecek-ecek. Anggaplah yang akan memilih Ahok segitu dan jumlah suara sah pemilih di Jakarta sebanyak 4.537.227 (Pemilu 2014). Itu kan berarti minimal Ahok sudah mengantongi 22,5% suara. Kita lihat PDI-P pada Pemilu 2014 dapat berapa persen? Ya sekitar 27% atau menempati posisi pertama. Di posisi kedua ditempati Gerindra dengan 13% suara.

Tapi, lagi-lagi, meski tampak galak, Ahok terkadang datang galaunya. Entah siapa yang melirik lebih dulu, sejumlah parpol ikut jadian sama Ahok. Teranyar adalah Golkar. Sebelumnya Nasdem dan Hanura. Dari tiga partai itu, Ahok sudah cukup untuk mendapat tiket sebagai bakal calon gubernur DKI pada 2017.

Dan, Ahok pun akhirnya memilih jalur partai ketimbang independen. Toh, ini seperti kembali ke khittah. Teman Ahok kecewa? Ngakunya sih nggak. Ah, ibarat drama percintaan, Teman Ahok ini tipikal “yang penting kau bahagia”, meski hati pedih. Mereka bahkan rela dimadu. Tetap seatap bareng Ahok, meski sudah seranjang dengan parpol. Itu Teman Ahok. Mungkin sudah cinta mati. Kalau kata Ahmad Dhani, “Aku cinta kau dan dia. Oh senangnya dalam hati…”

Lalu, bagaimana dengan warga yang sudah rela memberikan KTP-nya hingga satu juta copy agar Ahok bisa maju sebagai calon independen? Mubazir? Balikin KTP gue? Oh, tidak ada yang sia-sia. Setidaknya satu juta KTP itu bisa mendorong politikus Gerindra terjun bebas dari puncak Monas. Bagaimana pak Habiburokhman?

Ya itulah drama politik, sebuah nama sebuah cerita. Dan, kita tak perlu menjadi seorang yang lugu menyaksikannya. Politik itu bicara soal perebutan kekuasaan, meski harus saling tikung. Itu wajar-wajar saja dalam politik praktis. Jangan terlalu baper, karena etika politik hanya ada di bangku kuliah.

Anggaplah itu sebagai uji nyali dan adu ketajaman, layaknya para pembalap MotoGP. Bagi anda yang hobi menyaksikan balapan di MotoGP, tentu takjub dengan sudut kemiringan motor saat menikung yang boleh dibilang di luar nalar itu. Siku, dengkul, bahkan area paha hingga bokong para pembalap tampak seperti menggesek risiko. Begitu juga di dunia politik, penuh manuver berisiko.

Gaya menikung mereka pun tergolong ekstrem, dengan sudut kemiringan motor hingga 64 derajat. Tikung sekarang juga atau kehilangan kesempatan jadi juara. Sama seperti politik, tikung sekarang juga kalau mau berkuasa. Begitu juga dengan dunia asmara. Tikung sekarang atau diambil orang. Begitu kan maksudnya?

Di MotoGP, pembalap selalu cari celah untuk menyalip lawan di belokan. Cara menikung yang tepat – pastinya mengundang bahaya – menjadi senjata pamungkas para pembalap sekelas Valentino Rossi, Casey Stoner, dan Marc Marquez. Tapi dari tiga nama itu, Valentino Rossi lah sang raja nikung.

Tahun 2004 adalah awal bagi kejayaan Vale. Ia mampu menghabisi motor-motor pabrikan dengan tenaga besar. Pembalap sekaliber Max Biaggi, Sete Gibernau, Alex Barros, Marco Melandri, dan Nicky Hayden pernah merasakan dipecundangi oleh Vale. Mereka memang unggul di trek lurus, tapi tak berdaya di hadapan Vale saat tikungan.

Belum lama ini, meski sudah tergolong sudah gaek, Vale tetap mumpuni kalau soal nikung. Ia pernah menunjukkan sebuah aksi yang sangat memukau ketika berlaga di sirkuit Losail Qatar 2016. Di sirkuit Catalunya juga demikian. Sebelum berhasil menjadi yang terdepan, Vale harus bersaing superketat dengan Marc Marquez, pembalap juga terkenal ekstrem menikung dan rival utama Vale.

Saat menghadapi Marquez, Vale tampil galak, agresif, dan liar. Beberapa kali, Vale menyudutkan Marquez dan melakukan overtake. Marquez akhirnya harus mengakui keunggulan Vale dalam duel ketika itu. Duel keduanya menjadi salah satu duel paling seru di perhelatan MotoGP 2016.

Dan, untuk urusan nikung-menikung, tidak semata mengandalkan teknik dan teknologi motor. Pengalaman juga sangat menentukan. Itu kenapa Vale masih mampu mengungguli Marquez, yang masih muda dan cenderung nekat. Begitu juga dengan dunia politik di Tanah Air. Siapa yang berpengalaman soal ini? Parpol atau relawan?