Doraemon sebagai Kritik kepada Orang Tua

Doraemon sebagai Kritik kepada Orang Tua

muudu.com

Aku ingin begini… Aku ingin begitu… Semua semua semua… Dapat dikabulkan… Minggu pagi, persis pukul 08.00 WIB, Doraemon si robot kucing berkantong ajaib menyapa anak-anak. Ia juga menyapa sebagian dari kita yang masih tak malu menonton kartun tersebut.

Doraemon adalah serial kartun lintas generasi. Dari orang berusia kepala tiga sampai anak-anak yang baru bisa baca-tulis. Sampai-sampai stasiun TV memblur pakaian renang Shizuka. Saking populernya, karakter kartun ini dibuatkan mug, aksesori, gambar di gawai, kaus, hingga pakaian dalam.

Biar saya ceritakan sedikit kisah penciptaan Doraemon. Sebelum diangkat di layar kaca, Doraemon adalah sebuah manga dan anime yang populer karya Fujiko F Fujio sejak 1969. Mungkin banyak yang belum tahu, Fujiko F Fujio bernama asli Fujimoto Hiroshi. Nama sebelumnya Fujiko Fujio, tanpa F.

Nama ini sebetulnya terdiri atas dua orang pengarang komik Doraemon. Dua pengarang itu adalah Fujimoto Hiroshi dan Motoo Abiko. Setelah mereka berpisah, Fujimoto mengganti nama penanya menjadi Fujiko F Fujio. Motoo kemudian memilih fokus kartun dewasa. Sedangkan Fujimoto tetap konsisten mempopulerkan Doraemon. Fujiko F Fujio meninggal pada 1996, tapi ciptaannya masih hidup hingga sekarang.

Serial kartun berkisah soal Nobita, anak SD kelas 4, yang nggak pernah besar dan lulus sejak saya TK hingga berusia kepala tiga. Nobita si anak pemalas dan bodoh, yang ditolong oleh robot kucing dari masa depan oleh cicit Nobita sendiri, Sewashi, dari abad ke-22.

Doraemon datang dari laci meja belajar Nobita pada 1969. Ia kemudian tinggal bersama Nobita, dan mengemban misi khusus: menggandakan uang! Eh bukan, membantu Nobita supaya nggak jadi orang gagal pada masa depan. Sungguh mulia.

Meski sudah menonton serial ini selama 27 tahun, tapi saya nggak pernah tahu tamatnya. Timbul banyak spekulasi sih. Ada yang bilang, Doraemon itu halusinasi Nobita saja. Ada pula yang bilang, Doraemon hanya mimpi Nobita yang pingsan di rumah sakit selama beberapa hari.

Terlepas dari akhir kisah Doraemon, setelah saya baca status seorang teman, saya jadi ingin menulis soal filosofi Doraemon. Pertama, soal Nobita Nobi. Anak kecil yang wajahnya identik dengan bocah pintar: berkacamata, tatanan rambut rapi, dan selalu berbaju rapi.

Namun ia bodoh dan malas. Nobita, karena prestasinya jeblok di sekolah, selalu mendapat nilai 0 dan selalu terlambat. Ia korban bully teman-temannya, Suneo dan Giant. Bukan hanya di-bully dua temannya itu, ia juga kerap dapat omelan orang tua dan gurunya. Bisa dibilang karakter paling sial di serial kartun ini.

Meski begitu, ia beruntung selalu ditemani Doraemon yang suka ngeluarin alat ajaib dari kantongnya, seperti baling-baling bambu, pintu ajaib, pistol pengubah bentuk, kulkas, televisi, mesin cuci, AC (buset itu kantong ajaib apa toko barang elektronik?).

Semua dapat dikabulkan… Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib… Aku ingin terbang bebas di angkasa… Hei… Baling-baling bambu… La… la… la… Aku sayang sekali… Doraemon…

Ya begitulah beberapa kalimat sakti mandraguna di film itu, sehingga sebagian besar anak-anak di Indonesia bermimpi punya teman seperti Doraemon. Bahkan ada semacam keirian dengan Nobita yang jadi soulmate­-nya Doraemon.

Nobita adalah gambaran kelas menengah yang selalu beruntung. Selalu ditolong, meski terkadang sial pada awal kisah. Sosok yang jualan kelemahan dan cengeng, tapi beruntung. Ah, mirip siapa ini? Mirip kamu?

Selain Nobita, ada Shizuka Minamoto, anak perempuan yang cantik dan rajin. Ia senang bermain biola, tapi ibunya memaksanya untuk les piano. Shizuka yang sekarang selalu diblur pakaian renangnya oleh stasiun TV itu terpaksa ikut les piano. Namun, Shizuka tipe penyayang. Ia juga tak segan membantu teman-temannya yang kesusahan.

Lalu ada Suneo Honekawa. Ia adalah anak orang kaya raya. Selalu dimanja orang tuanya. Punya mainan apa saja. Ia suka mengoleksi barang-barang yang teman-temannya nggak punya. Namun, Suneo ini karakternya licik dan narsis. Ia juga oportunis.

Karakter kayak begini banyak banget kita lihat di televisi, para politisi, orang-orang kaya di Jakarta, pengusaha, atau pengacara perlente. Namun, meski dimanja orang tua, Suneo pun terkadang tak lepas dari paksaan orang tua. Orang tuanya selalu memintanya lebih unggul dari anak-anak lain. Selalu disuruh les, belajar, dan lain-lain.

Lebih lanjut Takeshi ‘Giant’ Goda. Ia adalah tokoh antagonis. Giant adalah sosok jagoan di serial kartun ini. Berbadan besar, kuat, dan mudah marah. Giant kerap mem-bully Nobita dan teman-temannya yang lemah.

Namun, ada satu orang yang ditakuti Giant, yakni ibunya sendiri. Kalau sudah muncul ibunya, ya Giant jadi bulan-bulanan. Hal yang tak disukai Giant adalah menjaga warung. Namun, ibunya selalu menyuruhnya menjaga warung dan berbelanja ke pasar.

Saya tak akan membahas Dekisugi di sini. Sebab, terlalu sempurna untuk saya jabarkan. Ia cerdas, tampan, bisa apa saja, dan yang paling penting tak pernah ada masalah dengan orang tuanya. Sebab, dalam serial kartun ini, orang tua Dekisugi seolah tak ada. Tak pernah eksis. Jadi, ya kita skip aja daripada minder nanti.

Sekarang pertanyaannya, dimanakah peran Doraemon? Doraemon adalah penghubung ketidakberdayaan pola asuh orang tua kepada anak-anaknya. Dari karakter-karakter tadi, secara umum, mereka takut terhadap orang tuanya sendiri. Di sini ada semacam kesimpulan, hubungan yang renggang antara orang tua dan anak. Nah, kondisi itu menghasilkan generasi yang penuh ketakutan.

Doraemon, si robot kucing yang takut tikus itu, rupanya bisa menjadi sahabat bagi mereka. Penolong dengan kantong ajaibnya yang mengeluarkan banyak alat aneh, tapi membantu. Doraemon adalah pelarian.

Kalau kata teman saya, Doraemon adalah kritik pola asuh yang salah dari orang tua. Mereka lari, bermain, dan belajar bersama robot, bukan manusia. Bersama orang lain, bukan orang tua sendiri. By the way, untung saja Doraemon nggak datang ke Indonesia. Kalau datang, bisa-bisa ia dijadikan guru spiritual. Tabik…

  • fauziah

    Bagus tulisannya, selain mempunyai tujuan memberitahu “doraemon sebagai kritik kpd org tua” dsni jg dijelaskan tentang karakter tokohnya .

    • Halo mbak Fauziah. Terima kasih ya.