Kalau Ketemu Dokter atau Perawat, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Kalau Ketemu Dokter atau Perawat, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Ilustrasi (springsadvertiser.co.za)

Pak Dokter membunuh Bu Dokter yang notabene istrinya. Ada juga dokter yang melepaskan tembakan di tempat parkir hanya gara-gara biaya parkir. Hal itu belakangan menjadi konsumsi publik.

Satu hal yang kurang adalah kalangan kepo-ers yang biasanya bisa menemukan afiliasi politik Pak Dokter, kemudian menjadikannya sebagai alasan bertindak kriminal.

Gitu aja terus, mau orang lagi kesusahan maupun orang mati sekalipun kan sekarang yang diurusi adalah pilihan politiknya.

Di sisi lain, kumpulan dokter sempat wara-wiri di berbagai rumah sakit untuk seorang pasien yang menurut Nazaruddin, sakti. Sampai-sampai begitu banyak dokter ikutan konferensi pers bareng KPK menjelang tengah malam, ketika tersangka bernama Setya Novanto diantarkan ke Kuningan.

Hey, kalau dokter-dokter pada konferensi pers, lantas siapa yang menangani pasien? Tentu saja dokter jaga.

Dokter adalah salah satu dari sekian banyak tenaga kesehatan. Sebagai pemilik gelar Apoteker yang kerjanya sekadar fotokopi berkas dan sesekali antar surat ke kantor pemerintah, saya begitu mencermati soal profesi tenaga kesehatan ini sejak lama.

Terkadang saya bersyukur nggak ikut-ikutan jadi tenaga kesehatan beneran di pelayanan. Sebab, setelah saya pikir-pikir, kok ya tenaga kesehatan lama-lama malah menjadi jenis pekerjaan yang tidak sehat.

Gambaran sepelenya saya peroleh dari istri saya yang sering melaporkan bahwa ia baru makan siang pada pukul 4 sore, karena begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai Farmasis Klinis di rumah sakit. Keadaan itu bahkan dialami kala dia hamil.

Sebagai suami milenial nan budiman, saya semula selow saja, karena itu mungkin sudah risiko dari sebuah profesi. Tapi dipikir-pikir kok ya ngenes juga. Misinya menyembuhkan pasien, tapi gaya hidup sehari-hari malah bikin tubuh sendiri menjadi sakit.

Ini belum lagi soal dokter-dokter yang praktik sampai larut malam bahkan jelang pagi, lantas paginya sudah harus on lagi. Mereka beristirahat hanya 3-4 jam dan sisanya bekerja. Boro-boro olahraga.

Maka, ketika seorang dokter yang buncit maksimal menyampaikan pesan agar saya banyak-banyak berolahraga, tetiba saya ingin balik bertanya, “Kapan terakhir kali Pak Dokter berolahraga?

Saya juga pernah bertemu dengan dokter anestesi yang bahkan lupa kapan terakhir kali dia tidur selama 8 jam. Saking tidak pernahnya.

Pak Dokter yang menembak istrinya beberapa waktu lalu, diketahui mengonsumsi obat penenang. Percayalah, ada lho dokter yang hidupnya tertekan, karena rasio pasien yang tidak terselamatkan cukup besar.

Ya, hidup sebagai dokter atau tenaga kesehatan pada umumnya itu memang butuh ‘penenang’, karena besarnya tekanan yang dihadapi.

Lain dokter, lain apoteker, lain juga perawat. Ini lebih parah lagi. Pasien-pasien itu kebanyakan masih gak enakan kalau marah sama dokter. Lantas kalau ada apa-apa, marahnya sama siapa? Perawat.

Perawat ini juga setali tiga uang. Hidup mereka dibolak-balik waktunya, karena bagaimanapun harus ada yang menjaga pasien pada tengah malam. Sebagai tenaga kesehatan mereka jelas tahu bahwa hidup dibolak-balik begitu sebenarnya juga nggak baik.

Kadang, saking sibuknya mengurus pasien, mereka juga luput untuk makan, sementara begitu sampai di ranjang pasien selalu bertanya, “Makanannya kok nggak dihabiskan?”

Itu tadi baru sekilas mengenai risiko untuk diri sendiri. Sekarang mari kita pindah ke Meikarta pola bisnis kesehatan.

Bisnis kesehatan, terutama rumah sakit, adalah bisnis yang menurut saya paling unik. Bagaimanapun orang yang sedang sakit membutuhkan tindakan, baik untuk penyembuhan penyakit, pengendalian penyakit, dan lain-lain.

Nah, segala kegiatan itu jelas-jelas membutuhkan biaya. Pasien dirawat di rumah sakit tentu harus tidur di ranjang yang mesti dibeli – nggak bisa rental, lu kate Play Station – terus diterangi lampu yang listriknya harus dibayar dan tarif dasarnya terus naik.

Terlebih, harus pakai alat canggih kayak yang dipakai Setya Novanto yang juga kudu dibeli dari luar negeri. Kemudian dirawat oleh tenaga kesehatan yang harus digaji, mendapat obat yang harus dibeli dari pabrik, dan sederet komponen lain.

Itu tentunya dibebankan kepada pasien maupun lewat penanggungnya, baik asuransi maupun jaminan kesehatan pemerintah.

Selain itu, bisnis rumah sakit ini juga merupakan jenis layanan yang secara psikologis berbeda dengan layanan publik lain, seperti bikin KTP atau buka rekening bank.

Kalau tembok kelurahan paling menampung pisuhan orang-orang yang dipermainkan birokrasi atau diperalat kekasih, tembok di rumah sakit adalah penampung doa paling banyak karena ada banyak suasana batin.

Mulai dari rasa bahagia seiring kelahiran anak, perasaan was-was karena kondisi orang tua atau sanak-saudara yang dirawat belum pulih, bahkan kesedihan begitu ada yang meninggal dunia.

Rasanya hanya rumah sakit yang berani memasang poster ‘Hormati Staf Kami’ dalam standar layanannya. Kita tidak akan menemukannya di pelayanan lain, seperti mengurus izin hingga SIM. Kalau SIM, kita sih sudah serta-merta ‘Hormati Pak Polisi’ tanpa disuruh.

Kondisi psikologis yang sedang buruk dan asa yang tinggi pada layanan tersebut adalah latar belakang paling pas bagi pasien, keluarga pasien, maupun LSM untuk sekadar marah-marah kepada para pekerja kesehatan tanpa pandang bulu.

Seorang perawat bernama Tova Kararo di Israel dibakar hidup-hidup sama pasien yang tidak puas. Di Jepang, Satoru Nomura memerintahkan Yoshinobu Nakata untuk membunuh seorang perawat dengan alasan kesal karena operasi plastik gagal.

Di Indonesia, persekusi terhadap tenaga kesehatan juga pelan-pelan menjadi hal yang sama biasanya dengan ngupil. Kan ngeri.

Perawat, dokter jaga, dokter spesialis, apoteker, dan sederet komponen yang bahu-membahu di rumah sakit itu ibarat bidak-bidak catur yang melawan penyakit pasien.

Dalam catur, mereka bisa menang, bisa juga kalah. Sudah menjadi konsekuensi kalau ada tenaga kesehatan yang dipersekusi oleh LSM.

Bahwa ada pasien yang gawat dan kudu dirawat, ya benar. Sebagai manusia, para tenaga kesehatan itu juga pasti berpikir. Maka, nggak perlu kita mempersekusi dengan bilang, “Ini nyawa orang, lho!”

Nyatanya, setiap kali ada nyawa yang diselamatkan, memangnya ada yang mengucapkan terima kasih kepada semua tenaga kesehatan yang terlibat?

Para tenaga kesehatan itu juga manusia, punya rasa punya hati jangan samakan dengan pisau belati, yang pasti juga paham soal kemanusiaan. Namun, pada sisi yang sama, mereka juga kudu tunduk pada prosedur di tempat mereka bekerja.

Jangan salah, para tenaga kesehatan itu juga kepikiran begitu tren pasien-pasiennya yang meninggal meningkat. Mereka juga bertanya, “Aku ini salah apa?”

Maka, sekali lagi, jangan heran kalau ada segelintir tenaga kesehatan yang mengonsumsi obat anti-depresan, semata-mata biar nggak depresi dengan pilihan hidupnya.

Jangan salah juga, dalam era BPJS saat ini, para tenaga kesehatan begitu sering berhadapan dengan dilema kemanusiaan versus aturan-aturan. Dan, masih banyak lagi dilema-dilema lainnya.

Begitulah, menjadi tenaga kesehatan nyatanya tidak sehat-sehat amat, kadang lebih banyak makan hati. Namun, bagaimanapun juga, kudu ada manusia yang jadi tenaga kesehatan.

Jangan lupa, belum lama ini kita disuguhi pemandangan tentang bapak-bapak tajir yang masuk rumah sakit dengan penyakit vertigo, pengapuran jantung, tumor, benjol segede bakpao, kemudian disembuhkan secara luar biasa.

Oleh siapa? Tenaga kesehatan, dong! Menurut ngana?!