Merayakan dengan Diskon, Berdoa Ala Tifatul
CEPIKA-CEPIKI

Merayakan dengan Diskon, Berdoa Ala Tifatul

Ilustrasi (sumber: freepik.com)

Tujuh puluh dua tahun negara kita sudah merdeka, berarti sudah 72 tahun pula peristiwa penculikan Bung Karno dan Bung Hatta oleh para pemuda ke Rengasdengklok berlalu.

Mungkin ini adalah salah satu – kalau bukan satu-satunya – peristiwa penculikan yang tidak pernah diusut tuntas oleh kepolisian. Padahal, korbannya gak main-main lho, tokoh bangsa yang kelak menjadi presiden dan wakil presiden pertama Indonesia.

Banyak yang membicarakan peristiwa itu setiap kali mau tujuh belasan, tapi sayangnya tidak ada yang berminat mengabadikannya dalam bentuk lagu. Padahal, kalau tidak ditakut-takuti dengan hoax bahwa mau ada revolusi di ibu kota, belum tentu kedua Bung itu besoknya membacakan teks proklamasi.

Dan, padahal lagi, kalau aksi heroik anak-anak muda itu mau diabadikan ke dalam lagu kan bisa banget. Om H Mutahar, misalnya, bisa memulai lagu ciptaannya dengan kalimat: “Enam belas Agustus tahun 45… Besoknya hari kemerdekaan kitaaa…”

Jadi, kalau ada yang mengeluh kenapa proklamasinya tanggal 17, bukan tanggal 31 – supaya diskon agustusannya sebesar 31%, bukan cuma 17% – jangan salahkan Bung Karno dan Bung Hatta.

Salahkanlah pemuda-pemuda yang menculik mereka berdua sehari sebelumnya, kenapa mereka tidak melakukan itu pas tanggal 30. Salahkan juga mereka kenapa tidak berembug dulu dengan emak-emak perkara tanggal.

Eh tapi, jangan-jangan Cakrabirawa dulu menculik para jenderal pada tanggal 30 supaya – kalau berhasil – aksi mereka juga akan diganjar dengan diskon belanja 30% setiap bulan September ya?

Apapun yang sudah terjadi, terjadilah. Beruntung Bung Karno dan Bung Hatta langsung memproklamasikan kemerdekaan keesokan harinya. Bayangkan, kalau mereka menunggu tanggal muda untuk melakukan itu, sampai tanggal 1 September, misalnya. Diskonnya kan jadi kecil, masa cuma 1%?

Lagipula, itu kan tanggal muda, tahu sendiri kelas menengah kalau sudah gajian. Daya cicilnya, eh daya belinya deng, begitu tinggi sampai melampaui limit saldo rekening dan kartu kredit. Ekonomi negara ini pun bertumbuh.

Oh ya, selain diperingati dengan diskon, satu hal yang tidak pernah ketinggalan dalam peringatan tujuh belasan adalah perlombaan-perlombaan. Tepat pada tanggal 17 Agustus, final semua perlombaan di seluruh Indonesia akan digelar berbarengan.

Bahkan panitia Asian Games dan Olimpiade sekalipun tidak pernah menggelar final semua pertandingan mereka secara bersamaan. Ini adalah bukti bahwa panitia tujuh belasan kita jauh lebih berani daripada panitia acara lomba-lomba bertaraf internasional.

Bicara soal lomba agustusan, tiap tahun lomba-lomba itu semakin kreatif. Selain lomba-lomba tradisional seperti makan kerupuk, balap karung, dan panjat pinang, orang juga menambahkan pertandingan sepak bola bapak-bapak berdaster, misalnya.

Tahun ini malah lebih ramai karena – kalau melihat media sosial – kayaknya juga lagi ada lomba menganalisis doa Pak Tifatul di Sidang Tahunan MPR. Ini bukan yang pertama, karena tahun lalu doa yang dibacakan Pak RM Syafii pada acara yang sama, juga ramai diperbincangkan orang.

Mungkin ini adalah tanda bahwa rakyat di negara kita semakin religius, setelah memburamkan semua belahan dada – termasuk belahan dada Sandy si tupai di film Spongebob – dan membungkus patung Kwan Kong dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Mungkin tahun depan acara seperti itu bisa diagendakan di RT-RT di seluruh Indonesia. Jadi, anak-anak se-Indonesia Raya bisa disuruh berlomba membuat analisis doa yang dibacakan di malam tasyakuran.

Pemenang lomba tersebut bisa dikasih sepeda. Tapi rasanya gak perlu dikasih hadiah juga, bukankah kepuasan berdebat di media sosial sudah jadi hadiah itu sendiri?

Apapun itu negara kita sudah merdeka selama 72 tahun lamanya. Kalau diasumsikan seorang manusia, itu bukan usia yang muda lagi. Katanya, kalau masih muda, sekitar 20-30-an, orang masih akan bertanya, “Rumah makan yang enak di mana ya?” Tapi kalau sudah 60-an apalagi 70-an, pertanyaannya akan jadi, “Apotek yang lengkap di mana ya?”

Mudah-mudahan di usianya yang semakin tua negara kita gak sakit-sakitan.

Kalau begitu, saya pikir ada baiknya kita semua mendoakan negara yang kita cintai ini, karena toh berdoa supaya proklamasi dibacakan tanggal 31 – dan diskon agustusan bisa lebih besar – sudah tidak mungkin.

Mengutip doa Pak Tifatul, marilah kita sama-sama berdoa: “Ya Allah, bimbinglah negara kami Indonesia. Meskipun usianya sudah tergolong tua, tapi semangatnya masih membara.”

Dirgahayu!

  • Wawan Agusti

    Diskon nya besar banget gan

  • Wkwkwk… Tapi kalo gx cepet” kan bisa saja gagal^^

  • Kevin Kurnia

    Ciyeee…. jd nyindir2 yg pada ngejar diskon nih? sapa seh yg gak mau diskon, apa ya penulisnya gak pernah ngerasain diskon, ah yg benerrr…. Cobain sesekali deh, pasti nagih, palagi diskonnya gede, 17 persen mah kurang, 72 + 17 klo perlu, nah! haha…