Diponegoro, Kawan-Kawan Revolusi, dan Koleksi Istana yang Bikin Takjub

Diponegoro, Kawan-Kawan Revolusi, dan Koleksi Istana yang Bikin Takjub

Lukisan Kawan-Kawan Revolusi

Konon, pelukis tersohor Basoeki Abdullah mendapat petunjuk wajah Pangeran Diponegoro dari penguasa Pantai Laut Selatan, Nyi Roro Kidul, sebelum melukis Pangeran Diponegoro Memimpin Perang. Lukisan yang dibuat pada 1949 itu menggambarkan sosok Diponegoro tengah menunggang kuda dan berjubah putih. Tangannya yang kanan diacungkan, seperti memberi perintah menyerang. Sangat gagah dan kharismatik.

Sejak kecil, saya selalu terinspirasi dengan sosok Diponegoro. Beliau adalah pahlawan nasional yang terkesan garang melawan penjajahan. Selalu bikin penjajah kewalahan selama Perang Jawa 1825-1830, periode tahun yang terkenal dengan cocokologi waktu azan Magrib itu. Bahkan, penjajah harus menggelar sayembara berhadiah 50 ribu gulden bagi siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro.

Jika nanti saya menikah dan punya anak, saya akan beri nama Dipanegara kepada sang buah hati. Kelak. Itu pun kalau dapat jodoh. #Life. Jadi kapan dong kamu ngadain sayembara untuk merebut hatimu? Saya rela jadi ‘Diponegoro’ yang tertangkap dan terpenjara. Asal itu di hatimu… Halahh…

Lukisan Pangeran Diponegoro Memimpin Perang
Lukisan Pangeran Diponegoro Memimpin Perang

Tapi jujur, setiap hari, saya selalu berkhayal. Bukan, bukan mengkhayal tentang kamu, tapi bertemu Pangeran Diponegoro. Jangan GR keleus… Diponegoro itu sangat inspiratif. Alangkah senang hati ini bisa ‘bertemu’ dengan beliau. Bukan dari mimpi, bukan dari paso benggala Mak Lampir, apalagi harus menunggu petunjuk Nyi Roro Kidul. Tapi lewat pameran lukisan bertajuk ‘17|71: Goresan Juang Kemerdekaan’ di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Pameran yang dibuka sejak 1 Agustus dan berakhir pada 30 Agustus 2016 ini selalu membetot perhatian publik, apalagi pada hari libur. Pengunjungnya membludak. Secara itu lukisan-lukisan legendaris koleksi Istana Negara, yang baru pertama kali dipamerkan ke publik sejak Indonesia merdeka.

Di pameran yang memajang 28 lukisan hasil karya para maestro itu, pengunjung yang mengaku artsy maupun awam dimanjakan oleh sejumlah lukisan kualitas wahid yang selama ini disimpan di Istana Negara. Sebut aja beberapa lukisan karya Raden Saleh, Sudjono Abdullah, Trubus Sudarsono, S Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Dullah, Harijadi Sumadidjaja, Henk Ngantung, Kartono Yudhokusumo, Gambiranom Suhardi, Surono, dan Lee Man Fong.

Presiden pertama kita, Soekarno, juga ada karyanya. Ada pula karya Hendra Gunawan, Ida Bagus Made Nadera, Srihadi Soedarsono, dan Mahjuddin. Selain itu, mahakarya pelukis asing seperti Rudolf Bonnet, Diego Rivera, Miguel Covarrubias, dan Walter Spies juga dipamerkan.

Lukisan Memanah
Lukisan Memanah

Wajah-wajah pengunjung tampak melongo takjub, ketika melihat keindahan lukisan-lukisan para pelukis ternama tadi. Saya pun ikut terbawa suasana. Melongo. Setelah sekian lama mengkhayal ‘bertemu’ Pangeran Diponegoro, akhirnya kesampaian juga.

Wajah Diponegoro yang saya jumpai terdapat di lukisan karya tiga maestro Tanah Air, yakni Sudjono Abdullah, Raden Saleh, dan Basoeki Abdullah. Wajah Diponegoro paling awal yang saya lihat, ya karyanya Sudjono Abdullah. Judulnya Diponegoro. Dibuat tahun 1947. Lukisan potret ini bergaya realis. Sang Pangeran digambarkan memakai sorban, baju koko, dan jubah. Selendang ada di bahu kanan dan sebilah keris pusaka. Khas belio waktu mimpin Perang Jawa. Kharismatik.

Nggak jauh dari lukisan itu, ada wajah Diponegoro lainnya. Karya maestro Basoeki Abdullah, yang judulnya Pangeran Diponegoro Memimpin Perang (1949), yang saya singgung pada awal artikel ini. Lalu agak masuk ke dalam, saya menjumpai lukisan wajah Diponegoro karya Raden Saleh. Lukisan ini usianya paling tua, karena dibuat pada 1857.

Judul lukisannya Raden Saleh itu epik banget: Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisannya lebih rumit dan banyak wajah di dalamnya. Di lukisan ini, Sang Pangeran seperti menantang meneer-meneer Belanda yang menangkapnya. Tegas.

Saking melegendanya, Pangeran Diponegoro dijadikan background di e-money alias kartu yang jadi alat pembayaran pengganti uang tunai. Ternyata itu desain khusus Mandiri Art, unit termuda Bank Mandiri, salah satu lembaga pendukung utama pameran ini. Ada tiga desain khusus yang dibuat, yakni desain lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, desain tema pameran 17|71, dan lukisan berjudul Kawan-Kawan Revolusi.

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Lukisan Kawan-Kawan Revolusi itu karya S Sudjojono, motor penggerak kelompok Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang didirikan pada 23 Oktober 1938 di Jakarta dan organisasi Seniman Indonesia Muda (SIM) tahun 1946. Lukisan yang dibuat pada 1947 ini terinspirasi perjuangan Bung Dullah – bukan Dullah pelukis – yang menyerang tank Belanda dengan bom yang diikat di pinggangnya.

Banyak wajah digambarkan dalam lukisan Kawan-Kawan Revolusi, termasuk wajah Bung Dullah. Wajah lainnya, antara lain wajah anak pertamanya yakni Tedja Bayu, lalu Mayor Sugiri, Basuki Resobowo, Soerono, Trisno Sumardjo, Ramli, Suromo, Nindyo, Kasno, Oesman Effendi, Soedibio, Yudhokusumo, dan Kartono Yudhokusumo.

Suasana ruang pameran
Suasana ruang pameran

Selain itu, masih banyak lukisan yang dipamerkan dan bikin takjub pengunjung. Misalnya lukisan Potret RA Kartini (1946/1947) karya Trubus Sudarsono, lukisan Laskar Rakyat Mengatur Siasat 1 (1946) karya Affandi, lukisan Persiapan Gerilya (1949) karya Dullah, Memanah (1943) karya Henk Ngantung, dan lukisan Rini (1958) karya Soekarno.

Ada juga lukisan Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek (1964) karya S Sudjojono, lukisan Pertempuran di Pengok (1949) karya Kartono Yudhokusumo, serta lukisan Potret Jenderal Sudirman (1956) karya Gambiranom Suhardi.

Rencananya, setelah pameran ini, Mandiri Art yang merupakan salah satu unit Bank Mandiri yang fokus pada pengembangan seni di Tanah Air, bakal menggelar event lainnya. Misalnya, pameran rutin di Museum Bank Mandiri, seperti pameran keramik, patung, atau lukisan.