Lama-lama Jakarta kok Lebay, Dilemesin Aja Say

Lama-lama Jakarta kok Lebay, Dilemesin Aja Say

Ilustrasi (1000warnaindonesia.blogspot.co.id)

“Aku sekarang lagi di Monas. Tadi sempat ke Pasar Kembang di Cikini, pesan bunga untuk Putri yang minggu depan mau diwisuda. Tapi tahu nggak, kata pedagang bunga di sana, ada tempat wisata baru lho di ibukota.”

“Wuihh, ibukota memang keren sekali, tiap tahun punya tempat baru supaya warganya bisa berwisata. Sekarang ada apa lagi di sana?”

“Taman Bunga Balaikota! Hahaha…”

Siang itu, saya sedang menelepon Juleha, sang pujaan hati. Hampir setahun kami menjalani LDR. Juleha di Jakarta, saya di Gorontalo.

Juleha melanjutkan ceritanya soal ‘taman bunga’ yang sedang ramai dibicarakan. Dari balik gawai, saya mendengarkan dengan cara saksama dan dalam tempo yang tidak singkat, mulai dari orang-orang yang sinis hingga cerita para pedagang bunga yang kebanjiran order.

“Tapi kalau aku mah dibawa asik aja. Mau itu karangan bunga atau bunga karangan, ya minimal jadi banyak bunga di jalan, walau cuma tempelan,” kata Juleha.

Saya pun cuma bisa membayangkan. Membayangkan bunga? Bukan. Juleha? Salah. Saya membayangkan Syahrini. “Banyak bunga-bunga, dan aku mau bobo. Bobo seperti ini. Ooohhh, I’m feel free…”

***

Kalau di sana bunga-bunga, di sini pohon mangga. Pohon yang melindungi saya dari sengatan sinar matahari. Suhu udara mencapai 33 derajat. Saya kemudian mengikat tali Hammock di batang pohon mangga depan rumah. Teduh dan sedikit melegakan.

Di dalam rumah terasa panas, padahal jendela dan pintu sudah dibuka semua, tapi angin seperti enggan untuk mampir. Kipas angin tak bisa dinyalakan, sebab listrik masih saja mati sejak pagi. Bila sudah begitu, biasanya berlanjut hingga sore. Dan, ini sudah hampir sepekan. Kejadian yang terus berulang.

Cobaan bagi kami yang hidup di daerah, apalagi di luar Pulau Jawa, bukan cuma sampai di situ. Bila listrik mati, biasanya air yang mengalir dari Perusahaan Daerah Air Minum setempat juga mati. Duka mana lagi yang sanggup engkau dustakan?

Pemilihan kepala daerah sudah selesai sejak Februari. Cuma sekali putaran. Beda dengan Jakarta, tempat tinggal Juleha. Kabarnya sih kubu petahana yang menang. Saya sendiri tak begitu mengikuti. Pada hari pemilihan, saya lebih memilih masuk hutan dan menikmati durian jatuh ketimbang masuk bilik suara. Tapi sial, malah bertemu dengan burung pengganggu.

Kabarnya, pilkada dilakukan serentak di 101 daerah.  Tapi yang bikin heran, meski nggak heran-heran amat, hanya satu daerah yang ramai dipergunjingkan: Jekardah.

Ketika saya dan beberapa kawan pergi ke Pulau Malenge di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah – salah satu tempat yang sulit mendapat akses jaringan telepon – warga di sana malah sempat-sempatnya bertanya pada kami, “Eh, gimana kabar pilkada ibukota? Kabarnya Ahok didemo terus, ya. Sampai berjilid-jilid gitu.”

Bahkan di pelabuhan tempat kami singgah, warga setempat sampai taruhan siapa yang akan menang di Pilkada Jakarta. Gila, tapi asik juga.

Sementara televisi di rumah kadung menjadi barang jajahan keponakan. Siaran berita yang disajikan oleh media lokal berskala nasional kalah dengan tayangan Masha and the Bear. Memantau linimasa di media sosial menjadi alternatif terbaik. Saya jadi sedikit bisa memantau sudah sampai mana kegaduhan yang diciptakan ibukota.

Dari jarak jauh, kekasih saya, Juleha, mengabarkan kondisi terkini usai pemilihan. Katanya, sebagian orang merayakan dengan suka cita. Ada yang bilang ini kemenangan ‘rakyat’. Ada pula yang bilang ini kemenangan ormas. Yang lain menceritakan kalau ini adalah pertarungan para elit politik menjelang Pilpres 2019.

“Yah, pokoknya macam-macam. Kamu bisa rasain juga kan, Burhan sayang. Minumnya di Jakarta, mabuknya sampai di daerah-daerah,” ujar Juleha kepada saya, sambil tertawa.

***

Dari Indonesia, kita ke Amerika. Di sana sudah seperti neraka. Sehari dalam setiap tahunnya, Pemerintah Amerika melegalkan segala bentuk aksi kriminalitas. Dalam kurun waktu 12 jam, sejak pukul 7 malam hingga 7 pagi, warga Amerika bebas meluapkan dendam, kekesalan, atau apapun itu dengan cara membunuh. Mereka menyebutnya sebagai ‘Hari Pelampiasan’.

Pada hari itu, tidak ada layanan medis yang beroperasi, pemerintah pun tidak menjamin keamanan. Tiap-tiap warga dituntut untuk melakukan pengamanan terhadap dirinya sendiri.

‘Hari Pelampiasan’ disebut-sebut sebagai wujud kebebasan untuk menemukan bentuk baru dari Amerika. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan hari itu untuk membantai orang-orang yang tak disukai, sekaligus sebagai upaya untuk memangkas angka populasi.

“Ah, kamu mah stres. Itu kan cuma di film ‘The Purge: Anarchy. Jangan disamakan dong, nggak nyambung. Kalau seperti itu, sinetron di sini jadinya horor melulu. Udah bener menye-menye. Semua orang sukakkk.. Ya kan?” tukas Juleha.

“Hehe… Iya, iya, bercanda. Aku mah bisa apa atuh, yang penting jangan sampai kehilangan kekasih pujaan hati, yang selalu dinanti-nanti,” jawab saya. Gimana tuh udah kayak sinetron anak gorong-gorong, belum?

“Hhuu! Basiiii!”

“Nggak boleh ngambek, ih. Nanti nggak bisa naik ojek terbang.”

“Eh, iya, kamu datang sini dong, jemput aku pakai ojek terbang.”

“Ah, gak mau. Kalau aku sampai di sana, Alexis keburu ditutup.”

“Yee.. dasar! Iya, tutup siang, malem buka lagi sampai pagi.”

Juleha lalu bercerita tentang pandangan politiknya soal segala bentuk kegaduhan ini. Ia yang telah lulus dari jurusan komunikasi di salah satu kampus di daerah Jatinangor ini bercerita seperti seorang reporter yang sedang siaran langsung. Sementara saya, seperti mahasiswa tua, yang hanya bisa mengangguk-anggukan kepala layaknya dikeramas sama dosen pembimbing skripsi.

Ini yang saya suka dari Juleha. Selain pandai menulis, ia selalu bisa menawarkan cerita secara asik dengan isu yang menurutku berat-berat, termasuk soal politik.

“Plkadut ibukota akhirnya selesai. Aku sih berharap banyak orang-orang yang balikan. Maksudnya, balikan temenan lagi. Nggak saling block lagi, nggak posting ujaran kebencian atau apalah-apalah itu,” tutur Juleha.

“Iya, aku setuju denganmu, my dear. Semoga juga mereka yang terpilih nggak hilang ingatan soal janji menghentikan penggusuran dan reklamasi.”

Sebenarnya saya tak ingin membahas Pilkada Jakarta, sebab persoalan di daerah masih buanyak yang lebih penting. Ya itu tadi, ketika Jakarta gaduh urusan karangan bunga, warga di daerah masih saja sibuk urusan air dan listrik. Life…

“Burhan sayang, ayolah sini, ke ibukota. Konon, bisa beli rumah dengan mudah, tanpa DP. Kita bisa cari rumah masa depan.”

Ini kesekian kalinya Juleha menggoda saya untuk kembali ke ibukota. Iya, ibukota dengan segala kesemrawutannya memang selalu menggoda. Juleha juga. Tapi saya juga tergoda untuk bisa mencari suaka di daerah lain. #sikap

“Iya sabar, Juleha. Aku kepengin pindah ibukota, kalau sudah bisa buka sawah di daerah Menteng,” jawab saya polos.

“Sawah dari semen maksudmu?!”

***

Suhu udara belum juga terasa lebih baik. Saya yang masih menggantung di dalam Hammock, di bawah pohon mangga, mencoba melihat ke dalam rumah. Sial, listrik belum juga menyala.

“Kekasihku, baterai gawaiku sekarat. Listrik belum juga menyala dari tadi pagi, padahal di sini sudah ada pembangkit listrik 100 MW. Nanti aku hubungi lagi dirimu, ya?” keluh saya kepada Juleha.

“Oh iya, aku juga sudah mau pulang nih. Eh tapi, tunggu dulu, aku mau tanya sesuatu sama kamu.”

“Tanya apa?”

“Rencana akhir tahun kita jadi, kan?”

“Tenang Juleha, Indonesia bukan cuma Jakarta. Kalau kata Adhitia Sofyan, forget Jakarta! Lupakan semua kegaduhan. Daerah sudah bosan dicekoki drama di ibukota. Kita jalan-jalan berkeliling Indonesia saja, sekaligus mampir ke Pulau Dodola. Sambil tak lupa berharap, negara bisa melegalkan pernikahan beda agama, Ok?”

“Ok Oce…”