Bagimu Dilanmu, Bagiku Dilanku

Bagimu Dilanmu, Bagiku Dilanku

Iqbaal CJR, pemeran sosok Dilan (brilio.net)

Setelah tamat membaca buku “Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990” karya  Pidi Baiq, saya sempat berujar kepada seorang kawan, “Kira-kira kalau Dilan difilm-kan, siapa yang cocok buat meraninnya?”

Kawan saya berpikir sejenak, tak lama dengan tegas ia berkata, “Agus Ringgo!”

“Alasannya?”

“Ya selain karakternya tengil, Ringgo juga orang Bandung. Kayaknya nggak susah buat dia meranin Dilan.”

Obrolan iseng itu kemudian terhenti. Tak ada lagi pertanyaan, yang ada hanya bayangan Agus Ringgo yang melintas di dalam kepala, lalu hilang.

Sampai akhirnya bayangan tentang sosok Dilan itu muncul lagi. Ia adalah Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan atau yang dikenal dengan Iqbaal CJR. Dia terpilih menjadi pemeran Dilan, yang akhirnya diangkat juga ke layar lebar.

Pro dan kontra tentu saja berhamburan mengenai pantas tidaknya Iqbaal memerankan Dilan. Ada yang setuju, namun tidak sedikit juga yang kecewa. Beralasan memang. Sebab, bagi kamu yang sudah baca bukunya, sosok Dilan dan Milea sudah kadung kuat.

Karakter Dilan dan Milea nggak cuma membuat para ABG klepak-klepek, karena merasa rindu dengan cinta pertama mereka. Novel ini menjadi semacam panduan untuk meluluhkan hati, terutama perempuan. Orang dewasa pun dibikin ingin balik lagi ke masa SMA. Termasuk saya, halahh…

Jika ditanya mengapa saya atau mungkin anda ingin kembali ke era 90-an, itu bukan karena periode tersebut penuh dengan nostalgia dan hal-hal yang sentimental. Alasannya karena ingin bertemu Dilan, juga Milea tentu saja, untuk kemudian melihat bagaimana cara mereka kenalan, PDKT, sampai akhirnya resmi jadian.

Entah kenapa, saya yakin jika pada masa itu kita meniru ‘gaya’ Dilan dalam meluluhkan hati seorang perempuan, mungkin saja tidak akan ada tempat bernama Taman Jomblo di Bandung saat ini. Atau secara luas, bisa jadi negara ini tak lagi menjadi negara yang darurat jomblo.

Novel Dilan sendiri adalah novel romansa berlatar SMA dengan setting Kota Bandung yang menceritakan kisah cinta dua insan muda-mudi. Terlihat standar, memang. Tapi, menurut saya, karena penuturan Pidi Baiq yang sangat bagus, membuat novel ini sukses menjadi best seller.

Sebelum menjadi sebuah buku, beberapa cerita Dilan sudah dibagi secara gratis di blog Surayah – panggilan untuk Pidi Baiq – secara bersambung. Quote-quote nyeleneh khas Pidi Baiq banyak sekali dikutip oleh muda-mudi yang telah membaca bukunya. Mereka berlomba-lomba agar menjadi Dilan atau Milea.

Membandingkan cerita antara di buku dan film tentu tak akan ada habisnya. Seperti yang dibilang Monty Tiwa bahwa adaptasi novel – terutama yang best seller – ke medium layar lebar merupakan salah satu buruan para pembuat film di Tanah Air.

Namun, bukan berarti itu hal yang mudah dikerjakan. Terlebih, novel bersangkutan sudah punya banyak penggemar, yang tentunya punya ekspektasi tersendiri ketika cerita tersebut diadaptasi menjadi film.

Tak hanya itu, sutradara sekaligus penulis skenario di beberapa film semacam ini juga menyebutkan kalau tugas utama yang paling berat adalah bagaimana mengubah gaya bertutur novel ke film.

Kemudian, bagaimana memastikan bahwa pembaca novel nggak kecewa. Tapi, di satu sisi, harus bikin film yang mau nggak mau pasti beda sama novel.

Meski awam dengan dunia perfilman, saya sendiri menyadari tekanan dan kesulitan seorang sutradara dalam ‘menyalin’ sebuah cerita novel ke film. Balik lagi, ada yang suka setelah difilmkan, tapi beberapa juga tidak setuju kalau difilmkan.

Untuk film layar lebar yang diangkat dari novel seperti Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, 5 cm, Perahu Kertas, Sabtu Bersama Bapak, sampai Critical Eleven, saya bisa mentolerir dalam arti tak keberatan difilmkan. Tapi untuk film Dilan ini kok saya tidak setuju ya?

Tapi apa boleh buat, yang bisa saya buat hanya membuat tulisan di Voxpop ini. Sosok Dilan sudah terlalu melekat dalam imajinasi. Dilan dalam versi saya bukan Agus Ringgo, Adipati Dolken, Iqbaal CJR, atau Reza Rahardian sekalipun. Dilan itu nggak sok keren, tapi keren beneran.

Saya tak bisa membayangkan mereka – aktor-aktor itu – membonceng Milea menggunakan CB 100 di sepanjang Jalan Buah Batu, lalu dikejar-kejar geng motor sampai ke gang-gang sempit.

Bagi saya, siapapun pemeran Dilan, dia telah merusak imajinasi saya, pun begitu pemeran Milea dan pemeran-pemeran lainnya. Tak hanya saya seorang, gadis cantik berakun Twitter @Viny_JKT48 yang jatuh cinta sama Dilan itu juga bisa saja imajinasinya ‘dirusak’. Mungkin…

Tapi, jika ada alasan lain yang mengharuskan Dilan difilmkan, ada yang harus diingat. Kalau Pidi Baiq pernah menulis, “Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan.” Maka, saya pun boleh-boleh saja menulis, “Dilan itu keren, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pemeran.”

Bagimu Dilanmu, bagiku Dilanku…

  • Angga Putra Ramadian

    wah keren gan artikelnya…

  • Wawan Agusti

    Nice cerpennya gan

  • Dedi Kurniawan94

    Mantap gan cerita nya, saya suka..

  • Kazuto Kirigaya

    Jadi penarasan deh sama novelnya, soalnya suka baca novel remaja sih..

  • mantap bung akay surakay…. 😀 😀