Dia Adalah Dilanku Tahun 2017, Bukan 1990

Dia Adalah Dilanku Tahun 2017, Bukan 1990

(instagram/film_dilan)

Film Dilan 1990 yang katanya bakal bikin baper itu akan tayang di layar lebar pada 25 Januari 2018. Trailer film yang diadaptasi dari novel Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 karya Pidi Baiq tersebut sudah dirilis.

Novel Dilan sendiri semacam novel romansa berlatar SMA dengan setting Kota Bandung, yang menceritakan kisah cinta dua insan, Dilan dan Milea. Membaca kisah mereka membangkitkan kerinduan terhadap cinta pertama, bisa jadi dengan orang yang sekarang jadi mantanmu!

Meski berlatar tahun 1990, novel atau mungkin filmnya nanti tetaplah menarik. Tapi, saya membayangkan, apa jadinya kalau Dilan dan Milea hidup pada tahun 2017? Mungkin begini ceritanya…

***

Ayahnya yang pindah dinas ke Bandung membuat Milea juga harus pindah ke Bandung. Sialnya, itu tahun 2017. Bandung tak sedingin tahun 1990. Sudah macet pula.

Milea mungkin sudah terbiasa dengan itu di Jakarta, tapi tetap saja dia harus bisa beradaptasi terutama dengan pergaulan anak SMA di Bandung.

Betul saja, sejak hari pertama, ia sudah bertemu dengan orang yang ‘aneh’. Saat Milea turun dari angkot dan berjalan kaki ke sekolah, ada laki-laki dengan baju SMA, dengan motor metik dan senyum yang tengil. Laki-laki dengan kombinasi itu adalah Dilan.

“Aku ramal, nanti kita bertemu di kantin,” ujar Dilan. “Kamu ingin makan seblak kan?”

Sebelum Milea menjawab, Dilan pun pergi.

Apa yang dikatakan Dilan kemudian mengganggu Milea. “Bagaimana dia tahu bahwa aku ingin makan seblak? Padahal, akun Instagram-ku sudah di-protect agar tidak di-stalking orang?” guman Milea dalam hati. Milea pun menduga pria itu menyamar sebagai akun peninggi badan, lalu mem­-follow-nya.

Milea kemudian masuk ke kelas, bertemu dengan teman-teman barunya. Untungnya, apa yang dicemaskan Milea tak terjadi. Ia dan teman-temannya mudah akrab. Dan, usai istirahat, Milea jadi lupa soal ucapan Dilan tadi.

Lagi enak bercakap-cakap dengan teman baru, Piyan datang. Ia meminta alamat email Milea. Tapi bukan Piyan yang ingin mengirim email, melainkan Dilan, yang memang sohibnya Piyan.

“Milea, ramalanku, kita akan bertemu di kantin. Ternyata salah. Maaf, tapi ingin meramal lagi, besok kita akan bertemu.” Begitu isi email-nya.

Tapi sialnya, Dilan lupa bahwa besok adalah hari Minggu. Jadi Milea teh bingung harus kumaha? Jadi yah, dia diamkan saja.

***

Betul saja, Dilan pada akhirnya bertemu lagi dengan Milea. Bukan, bukan di kantin. Tapi di angkot yang nekat beroperasi, padahal rekan-rekannya sesama sopir sedang demo angkutan online.

Milea memang biasa pulang sekolah naik angkot, meski kadang sewot karena kelamaan ngetem. Sementara Dilan? Ya kali ini dia sengaja meninggalkan motornya demi bisa bersama Milea.

Dalam hati, Milea sudah baca-baca ayat kursi dan menyiapkan pepper spray seperti kebiasaannya di Jakarta, bila bertemu dengan lelaki begajulan di angkot. Sebab, ia belum tahu Dilan, sehingga wajar saja jika ia curiga.

Dilan kemudian mencoba memecah rasa kikuk itu.

“Hai Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu,” ujar Dilan.

“Kalau misalnya aku tidak cantik, kamu takkan mencintaiku, gitu?” tanya Milea.

“Hmm… Sabar dulu Milea, Sabar…”

Kamu tuh ya, udah nggak jaman lagi menilai orang dari fisik. Dan juga…”

Belum selesai Milea berbicara, Dilan kemudian bilang ke sopir angkot, “Kiri, Bang!” Maka, berhentilah angkot itu. Ia memberi uang. Namun sebelum pergi, Dilan berkata, “Iya, aku belum mencintaimu siang ini. Tapi sore nanti, aku belum tahu. Bye Milea!”

Dilan pun berlari dan tertawa, sementara Milea hanya geleng-geleng saja menghadapi tingkah Dilan.

***

Hari Minggu akhirnya telah tiba, dan Milea memutuskan untuk menghabiskan harinya yang berharga itu dengan menonton drama Korea.

Di kasurnya, sudah ada laptop, kacang kulit, serta tisu untuk jaga-jaga kalau nanti berurai air mata. Dan, tentu saja, ada ponsel untuk mengambil Instastory adegan-adegan sedih biar dikomentari netizen.

Lalu, saat asik-asiknya menonton, seseorang kemudian mengetuk pintu rumahnya. Milea terpaksa menekan tombol pause di film tersebut. Ia membuka pintu, dan saat dibuka, voila! Itulah Dilan.

Milea mengucek matanya. Tak percaya bahwa Dilan sudah ada di depan pintu. Ia ingin marah. Tapi sebelum ia marah, Dilan menunjukkan sebuah rekaman vlog, yang isinya…

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.”

Kali ini, ia terkesan. Pertama, vlog itu. Isinya aneh, tapi lucu. Kedua, bagaimana ia tahu rumahnya? Ah, betulkah ia menggunakan akun anonim, lalu mem-follow Milea agar tahu informasi pribadinya?

Saking penasarannya, Milea bertanya, “Kok, kamu tahu semua tentang aku gini?” Dilan kaget. Tapi kemudian ia tertawa dan berkata, “Kan, aku peramal. Aku tahu segalanya tentangmu. Kamu suka seblak, aku tahu. Agamamu Islam, aku tahu…”

Lalu Milea membalas, “Kalau akun Instagram-ku, kamu tahu juga?”

Dilan diam.

Iya, dari sana Milea tahu bahwa Dilan ini rupanya diam-diam stalking. Tapi ya, kok Milea jadi makin penasaran dengan orang ini?

***

Suatu hari, tepatnya sepulang sekolah, kelas sedang ramai. Saat itu adalah hari ulang tahun Milea. Teman-teman satu kelasnya sudah siap dengan kue, dan tentu saja ponselnya masing-masing.

Mereka akan merekam hari bahagia Milea ke Instastory. Tentu saja, tak luput adalah meminta foto yang Instagramable, ya apalagi tujuannya untuk diunggah dan mendulang banyak love dan likes dari netizen.

Lalu, ada seorang laki-laki yang memberanikan diri memberikan Milea boneka. Tapi teman-temannya bukannya ciye-ciye gitu biar Milea salting, mereka semua tampak biasa saja. Teman yang lain menepuk pundaknya dan bilang, “Ini 2017 bosquh, masa iya ngasih boneka? Menstrim abis maneh.

Teman-teman Milea langsung bubar jalan.

Lalu sebelum ia beranjak pulang, Dilan kembali hadir. Ia memberikan sebuah kotak kado. Milea tak lagi bertanya apakah ulang tahunnya itu diketahui Dilan berkat stalkingan atau bukan. Sebab, momen itu memang sudah direkam di Instastory.

Namun, yang membuat Milea penasaran kali ini adalah isi kadonya. Milea ingin buka di tempat, namun Dilan melarangnya. Ia ingin kado itu dibuka nanti saja di rumah.

Sesampainya di rumah, Milea kemudian membuka isi kado tersebut. Alangkah kagetnya bahwa isinya ternyata iPhone X, lengkap dengan struk belanja dan kartu garansi, meski garansi dari toko.

Milea kemudian menghidupkan ponsel tersebut. Ia kembali kaget, karena hanya ada satu aplikasi. Bukan, bukan aplikasi Instagram, WhatsApp, Line, dan sejenisnya. Semua aplikasi itu tak penting, Dilan sengaja meng-uninstallnya.

Satu-satunya aplikasi yang ada di ponsel itu hanyalah game “Teka-Teki Silang Cak Lontong”. Saat game tersebut dibuka, ia menyadari bahwa game itu sudah ditamatkan oleh Dilan.

Karena butuh penjelasan atas semua ini, Milea kemudian membaca isi surat yang ada dalam kado tersebut. Isinya berbunyi:

SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.

INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS CAK LONTONG.

TAPI SUDAH KUISI SEMUA.

AKU SAYANG KAMU

AKU TIDAK MAU KAMU PUSING

KARENA HARUS MENGISINYA

DILAN!

Maka dari sanalah, Milea kemudian memaafkan kejadian-kejadian yang menyebalkan bersama Dilan. Iya, apalagi yang bikin luluh selain pengorbanan?

Asal kalian tahu, menjawab satu teka-teki silang ala Cak Lontong saja sudah bikin mumet. Dan Milea, yang juga pernah main game tersebut, sudah tahu itu. Ini, sampai menamatkannya.

  • TTS Cak Lontong 😂.

  • Aisha Fazal

    HAHAHAHAHAHA Berhasil membuatqu menuliskan h dan a berulang dan capslock!