Diinterogasi “Inspektur Vijay” di India

Diinterogasi “Inspektur Vijay” di India

Ilustrasi karakter Inspektur Vijay di film (urbanasian.com)

Salah satu negara plesiran yang masuk ke dalam bucket list saya adalah India. Makanya, pas bisa menginjakkan kaki di negeri Hindustan tersebut, langsung deh lari muter-muterin pilar bandara sambil joget-joget biar berasa seperti di film produksi Bollywood.

India bisa dibilang salah satu negeri yang memberikan seribu pengalaman dalam sekali kunjungan. Mengutip slogan pariwisatanya ‘Incredible India’, pengalaman-pengalaman saya pun sangat incredible. Saking menakjubkannya, terkadang masih terkikik jika mengenang peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu.

Salah satu cerita yang akan saya bagikan sekarang adalah ketika harus berurusan dengan polisi di negara bagian Kerala, India.​

Sebenarnya setiap melakukan perjalanan ke negeri orang, saya selalu berbuat baik. Pokoknya nggak mau cari masalah sama orang lokal, amit-amit kalau sampai berurusan dengan polisi.

Duh, ternyata malah saat di India saya harus berkenalan dengan petugas polisi. Sebut saja namanya Inspektur Vijay (bukan nama sebenarnya). Dia menganggap saya melakukan kegiatan terlarang.

Semua bermula ketika pemilik rumah, tempat saya dan seorang teman menginap, harus lapor ke kepolisian setempat. Sebab, kami sudah menginap lebih dari satu minggu di tempatnya. Sang tuan rumah baru mendapat informasi, kalau setiap warga asing harus membuat laporan tertulis. Selama ini, ia tidak mengerti aturan tersebut.

Seharusnya saya lebih paham soal ini. Mengapa? Karena sebelumnya, setiap saya menginap di penginapan di India, wajib menunjukkan identitas seperti paspor atau tanda pengenal lain.

Itu enggak bisa diganggu-gugat, bahkan resepsionis kadang minta paspor sebagai jaminan. Namun, saya pikir hal tersebut cuma berlaku jika menginap di akomodasi berbayar, sementara untuk tinggal dengan warga setempat tidak perlu.

Yah, daripada kena masalah pada kemudian hari, akhirnya kami mengisi Formulir C3, formulir untuk lapor diri warga asing. Sebenarnya agak risih dengan aturan tersebut, tetapi si tuan rumah bilang kalau itu hanya formalitas. Berangkatlah kami melapor ke kantor polisi tingkat distrik (kecamatan) dengan menumpang bus, yang menghabiskan waktu perjalanan hingga tiga setengah jam!

Selain menyerahkan formulir ke kepolisian tingkat distrik, kami juga memberikan salinan formulir di kantor polisi dekat tempat tinggal. Sepuluh hari setelah menyerahkan Formulir C3, rumah kami didatangi polisi. Bukan satu, tapi dua tim polisi datang dalam waktu yang berbeda.

Tim pertama berasal dari kepolisian kota sebelah. Mereka datang karena kami tidak melapor ke kepolisian wilayah mereka. Mereka datang hanya gara-gara kami sering menggunakan jalan umum yang rupanya masuk wilayah mereka. Kebetulan tempat tinggal tuan rumah kami memang berada di perbatasan. Tim pertama pulang setelah selesai mendata.

Tak lama kemudian, tim kedua datang. Saat itu, saya sedang berada di dapur yang terletak di belakang rumah. Saya dapat mendengar suara mobil mendekat, saya kira tuan rumah kami datang. Tak lama kemudian terdengar suara pintu digedor, dan saya pun langsung membukakan pintu.

Ada empat polisi berseragam di luar. Saya menyapa mereka, “Hallo!” Salah satu dari mereka langsung menjawab, “Police!”

Seharusnya mereka tidak perlu susah payah memberi tahu identitasnya, toh seragam dan mobil mereka sudah jelas. Sebelum polisi kembali berkata, pikiran saya langsung teringat karakter polisi India di film yang tersohor itu, Inspektur Vijay. 🙂

Sikap saya kalau berurusan dengan aparat adalah nggak mau banyak omong. Karena itu, selama beberapa menit terjadi kesunyian yang aneh di antara kami. Mereka tidak saya persilakan masuk rumah, sebab mereka tidak menjelaskan alasan kedatangannya.

Tim tersebut beranggotakan satu polwan dan tiga petugas laki-laki. Salah satu dari mereka akhirnya bilang kalau inspektur mereka ingin bertemu saya dan teman saya. Mereka meminta kami untuk datang ke kantor polisi untuk bertemu… “Inspektur Vijay”.

Saya tidak ada perasaan aneh apa-apa. Sementara teman saya hanya diam, yang kalau dilihat dari raut mukanya, saya yakin dia sedang menerka apa yang terjadi. Dengan santai, saya bilang mau mandi dulu sebelum bertemu si inspektur (siapa tahu keren). Saya dikasih waktu 20 menit, sebelum mereka membawa kami ke kantornya.

Ketika sudah rapih, satu anggota dari tim itu bilang kalau rencana berubah. “Inspektur Vijay” justru yang akan datang ke tempat kami. Tidak berapa lama, si inspektur datang bersama dua anggota yang lain. Jadi total ada tujuh polisi di rumah kami. Mereka tidak berseragam dan mengaku berasal dari kantor distrik.

“Inspektur Vijay” masuk ke dalam rumah tanpa saya persilakan. Dia serasa memiliki rumah itu, bahkan tanpa diminta dia sudah duduk duluan. Saya bingung, siapa tuan rumahnya? Kebetulan tuan rumah kami ada urusan di luar, jadi kan saya bertanggung jawab atas isi rumah.

Tanpa banyak buang waktu, “Inspektur Vijay” langsung memulai interogasi. Pertanyaannya macam-macam, seperti: alasan tinggal bersama tuan rumah kami, sudah berapa lama tinggal, mau berapa lama tinggal, apa pekerjaan, di mana keberadaan orang tua dan keluarga, sampai menanyakan pekerjaan orang tua.

Selain bertanya, “Inspektur Vijay” juga melakukan inspeksi keliling rumah dan berhenti sesaat melihat-lihat buku koleksi tuan rumah. Sesekali inspektur mengatakan kalau turis itu tidak boleh kerja di India. Kalau tujuan saya adalah bekerja tentunya India bukan negara pilihan, jawab saya. “Inspektur Vijay” kembali berkata kalau turis tidak diperkenankan terlibat dalam aksi politik di India.

“Pak, larangan tersebut jelas-jelas saya pahami karena tertera di stiker visa,” jelas saya sambil menunjukkan visa yang tertempel di paspor.

Setelah puas bertanya-tanya, inspektur meminta untuk menggeledah tas bawaan kami. Saat itulah, saya bersikap defensif dan bertanya apa maksud kedatangan para polisi tersebut? Sudah panjang lebar bertanya tapi mereka tidak sekalipun mengutarakan tujuan kedatangannya.

Sang inspektur bilang kalau pemeriksaan yang dilakukan adalah pekerjaan rutin. Pengecekan dilakukan, karena dalam Formulir C3 yang saya serahkan ke kantor polisi tertulis akan tinggal selama satu bulan. Mereka curiga kalau kami akan melakukan hal-hal yang tidak sesuai aturan visa.

Setelah mendengar penjelasaan tersebut, kami pun mengizinkan mereka untuk memeriksa tas. Pada akhirnya, semua lancar jaya, tidak ada masalah. Kemudian inspektur pamit. Tak berapa lama setelah kepergian si inspektur, tuan rumah datang dan menenangkan kami untuk tidak khawatir. Ia pun menjamin kami akan baik-baik saja selama berada di India.

Tuan rumah pun bercerita mengenai alasan si inspektur sampai rela datang ke tempat tinggal kami. Jadi sebelumnya, inspektur menelpon dulu tuan rumah kami dan mengutarakan maksudnya. Tuan rumah bilang, “Kalau kalian menjemput mereka, artinya kalian juga yang harus membawa mereka balik lagi ke rumah saya!” Mungkin karena inspektur tidak mau dianggap seperti sopir taksi, maka dia sendiri yang memutuskan untuk datang ke tempat kami.

Selama ini, polisi di India memang memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Kalau sering nonton film Bollywood, pasti banyak sekali cerita yang berkaitan dengan polisi. Makanya tidak heran banyak orang India yang tidak kaget saat tahu kalau saya diinterogasi. Bagi mereka, kejadian tersebut merupakan hal yang biasa. Semua dilakukan demi keamanan bersama.

Sama halnya dengan Indonesia, India juga memiliki masalah terorisme. Banyak isu yang menyebar kalau teroris asal Pakistan masuk ke India dan merekrut orang menjadi anggota. Setiap pintu masuk ke India selalu dijaga ketat. Saya jadi kepikiran, jangan-jangan mereka mengira saya adalah teroris juga, sampai harus dilakukan pengecekan.

Cerita soal kedatangan polisi dengan segala teknik interogasi ternyata masih berlanjut. Sehari setelah interogasi, ternyata ada berita tentang penyelidikan polisi terhadap dua warga asing di koran lokal.

Hal itu saya ketahui saat sedang jalan-jalan ke kota terdekat. Kami menyempatkan mampir ke toko tuan rumah kami. Sambil senyum, tuan rumah kami menunjukkan selembar koran berbahasa Malayalam, bahasa resmi negara bagian Kerala, India.

“Tau nggak kalau kalian masuk koran. Ada berita soal polisi yang datang kemarin,” ujarnya.

Saya kaget. Tuan rumah kami membacakan isi beritanya. Garis besar dari berita tersebut adalah ada turis yang mendatangi sebuah desa di India. Polisi menyambanginya dan mengecek kelengkapan dokumen si turis. Karena semua lengkap, maka tidak ada yang perlu dicurigai dari turis.

Sungguh perasaan campur aduk. Lucu dan aneh. Wartawan Koran tersebut bahkan merunutkan kronologis bahwa peristiwa berdasarkan penuturan “Inspektur Vijay”. Yang bikin saya tidak mengerti adalah apa pentingnya memberitakan hal tersebut? Apalagi jelas-jelas saya tidak bersalah.

Teman saya berusaha bersikap objektif. Menurut dia, tidak masalah dengan kejadian kemarin diberitakan. Malah memang seharusnya informasi tersebut disebarluaskan agar kami terhindar dari prasangka buruk.

Maksudnya adalah dengan adanya pernyataan tegas dari “Inspektur Vijay” bahwa kami tidak memiliki intensi buruk untuk keamanan warga setempat. Bisa dibayangkan kalau tidak ada klarifikasi resmi dari pihak berwenang, bisa jadi masyarakat bergosip buruk tentang kami. Sudah pasti keamanan bakal terancam.

Perjalanan memang tidak selalu memberikan pengalaman yang melulu menyenangkan. Namun, kalau tidak berani melakukan perjalanan, maka bisa jadi saya tidak akan memiliki pengalaman menakjubkan, incredible di India.

Sampai sekarang saya masih takjub dengan kejadian itu. Kalau lihat nama sendiri tercantum di koran, mah, sudah biasa. Ya karena dulu saya adalah penulis berita. Lah, kalau jadi bahan berita di negeri orang, ya, tentu beda sekali sensasinya…