Di Balik Gambar Soeharto ‘Mesem’

Di Balik Gambar Soeharto ‘Mesem’

Uang tentu akrab sekali dengan kehidupan. Uang selalu dicari orang, bela-belain kerja dari pagi sampai larut malam. Nyari jodoh aja nggak gitu-gitu amat. Ya iyalah, kalau kata orang, cari uang dulu yang banyak, jodoh datang sendiri. Masa sih? Beruang nggak gitu.

Tapi ngomong-ngomong, kalian pernah perhatikan nggak gambar wajah tokoh terutama di uang kertas? Nggak ya? Lebih penting berapa nominalnya? Baiklah… Biasanya yang dipajang itu pahlawan nasional. Eh tapi dulu sempat ada gambar Soeharto lagi mesem pada pecahan Rp 50 ribu. Pak Harto itu pahlawan nasional? #SayaBertanya

Terlepas dari itu semua, ada sisi lain yang menarik dari gambar di uang kertas, termasuk pecahan Rp 50 ribu yang dulu ada Pak Harto-nya. Ada yang tahu siapa yang membuat itu? Apa profesinya?

Profesi orang itu disebut engraver atau pengukir gambar. Engrave adalah proses pengamanan paling tinggi dalam pembuatan uang kertas. Selain sebagai nilai keindahan, gambar karya engraver juga berguna agar uang tak mudah dipalsukan. Profesi ini bukan profesi remeh-temeh. Butuh keahlian khusus untuk menguasainya.

Adalah Mujirun, seorang engraver yang karyanya menghiasi uang kertas periode 1986 hingga 2009. Hasil buah tangan beliau, antara lain gambar wajah Teuku Umar pada pecahan Rp 5.000 (1986), Sisingamangaraja XII pada pecahan Rp 1.000 (1987), Ki Hajar Dewantara pada pecahan Rp 20 ribu (1998), dan Kapitan Pattimura pada pecahan Rp 1.000 (2001).

Selain itu, gambar Tuanku Imam Bonjol pada pecahan Rp 5.000 (2001), Oto Iskandar Dinata pada pecahan Rp 20 ribu (2004), I Gusti Ngurah Rai pada pecahan Rp 50 ribu (2009), dan yang paling legend adalah gambar Soeharto pada pecahan Rp 50 ribu (1995).

Tapi ternyata tak cuma tokoh-tokoh yang dipajang, ada juga gambar rusa cervus timorensis pada pecahan Rp 500 (1988), anak Gunung Krakatau pada pecahan Rp 100 (1991), Danau Kelimutu pada pecahan Rp 5.000 (1991), hingga gambar Paskibraka pada pecahan Rp 50 ribu (1999).

Semua itu hasil karya Mujirun, orang yang pernah bekerja di Perusahaan Umum Percetakan Uang RI (Peruri). Sejak pensiun, pria kelahiran 26 November 1958 ini berprofesi sebagai pelukis engraver untuk koleksi kliennya yang kebanyakan pengusaha dan pejabat. Ia membanderol karyanya seharga Rp 500 ribu hingga Rp 25 juta per wajah dalam ukuran A4.

Nah, berikut ini wawancara saya dengan Pak Mujirun soal sepak terjangnya dalam mengarungi profesi engraver.

Mujirun
Mujirun

Bagaimana kisah awal menjadi engraver?

Jadi, mulai ada engraver itu Pak Sajirun. Ia lalu disekolahkan ke Austria. Satu lagi Pak Muhammad Gozali, disekolahkan ke Belanda. Mereka kan usianya sudah senior, makanya harus melahirkan engraver-engraver muda. Saya itu generasi (engraver) kelima kayaknya. Jadi, Pak Sajirun itu mengambil (saya) dari Yogyakarta. Tahun 1979 itu saya diambil (Peruri).

Kebetulan saya dulu di Yogyakarta pemegang beasiswa. Padahal, waktu itu saya ditawari di tiga tempat. Belum lulus (dari Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia/STSI sekarang ISI) sudah tiga tempat, di Percetakan Negara, Desain Iwan Tirta, terus Peruri.

Apakah sudah muncul bakat mengukir gambar sejak kecil?

Saya dari SD itu sudah jualan karya (wayang). Waktu masih SD kelas 4 hingga 6 itu sudah jualan kalau ada pertunjukan wayang di daerah saya, di Yogyakarta. Dulu belum ada TV (masih sangat jarang), hiburannya itu. Wayang dari kardus awalnya. Akhirnya ada seorang bapak yang punya kios wayang di Bantul, datang ke rumah. Dia bilang, “Sudah kamu bikin wayang berapapun kasih ke saya, saya bayar.”

Bagaimana dengan orang tua?

Orang tua saya membiarkan. Bapak saya dulu seorang yang suka ngendang. Dia senang budaya. Jadi gamel, pradonggo, yang nabuh (kendang atau gamelan) untuk wayang orang atau ketoprak. Nah, anaknya (Mujirun) ini (suka) seni rupa.

Suatu hari, ada istri seorang seniman ketemu ibu saya yang pedagang. Ibu saya bilang, kalau saya juga suka menggambar. Akhirnya saya diajak ke sanggar suaminya. Mulai belajar serius soal seni. Itu tahun 1974. Lalu saya masuk (jurusan) seni rupa.

Setelah itu, saya masuk Peruri. Belum lulus (sekolah), Peruri datang. Diambil tiga orang (dari Yogyakarta) sebagai calon engraver, satu orang sebagai desainer. Setelah itu, tahun 1979, saya masuk Peruri. Tahun 1981 hingga 1982, saya dikirim ke Swiss dan Italia.

Belajar apa saja di luar negeri?

Di Swiss belajar soal percetakan. Sebelum (berangkat), di Peruri diajari cara ngasah pisau, cara bikin garis, bagaimana nyukil di pelat. Waktu itu ke Swiss dikenalkan sama tokoh-tokoh pembuat uang. Di Italia dikhususkan (belajar engraver) dengan pembuat uang Italia yang masih dinas di bank nasional Italia. Dia bikin studio, saya (belajar) di situ. Kalau sore dia datang ngajarin.

Tahun 1982, saya pulang dari Italia. Terus tahun 1990, Malaysia itu (saya) menangani security printing (keamanan percetakan uang). Ini tugas kerja sama dengan Peruri. Saya sempat dirayu Malaysia (untuk menjadi engraver mereka). Tahun 1992, saya ikut studi banding tentang uang di Inggris. Terus, tahun 2004, saya belajar ke Hungaria tentang software engraver.

Kenapa nggak tertarik ke Malaysia?

Karena waktu itu masih dinas di Peruri, pengkhianat bangsa dong namanya. Kecuali sudah pensiun ya. Kalau sudah pensiun siapapun itu, ya boleh. Kemarin Timor Leste juga pernah (menawari saya). Kemarin juga ada liputan dari Aljazera, (saya diajak) ke Timur Tengah.

Terus kemarin ada juga dari Nigeria. Ada tawaran (dari Nigeria). “Pak Mujirun ngajar di sini lah.” Kira-kira begitu kata mereka. Ya baru talking saja. Memang di Indonesia sekolah (engrave) ini belum punya. Belum ada. Adanya di Jerman, Belanda, Austria.

Di Italia
Di Italia

Teknik khusus apa yang harus dikuasai engraver?

Ya itu teknik engrave. Mencukil. Sama mencukil carving (ukiran) beda lho. Carving itu biasanya untuk kayu atau jendela. Saya dulu di Peruri dites bagaimana cara mengukir kayu. Kalau ngukir kayu kan kayu kita ratakan, kita serut halus, terus bikin motif, dikalkir. Terus ditempelin, baru dipahat.

Nah, kalau ini, ukuran sekecil ini (menunjuk uang kertas) mau ditempel pakai kalkir? Ini ngukirnya satu kali satu. Makanya tingkat-tingkat (keahlian) ini menurut saya tingkat tinggi. Mengukirnya di atas baja atau tembaga. Nggak boleh salah untuk membuat gambar utama pada uang kertas.

Bagaimana prosesnya?

Kalau arsir itu kan dengan pensil. Terus kalau teknis yang gaya uang, itu membuat suatu garis, tidak bersentuhan, tapi membentuk suatu dimensi. Kalau kuas kan dengan kuas. Terus arah kuasnya bebas. Kalau ke uang ini dengan pisau, namanya pisau gurin atau stiken (ke pelat baja). Dicukil satu-satu. Ini latihannya lima tahun belum tentu jadi (bisa). Kuncinya sabar, tekun, ulet, tidak putus asa, dan jangan punya pikiran yang lain. Dalam arti, di situ ada unsur pengabdian.

Pertama kali (saya buat) ini (uang pecahan Rp 5.000, tahun 1986, gambar Teuku Umar). Ini tiga bulanan. Bayangin ini digambar (garis-garis yang membentuk wajah dan pakaian Teuku Umar) satu-satu di atas baja, nggak boleh keliru. Ini yang pertama kali di-ACC (disetujui).

Bagaimana dengan engraver lain?

Saya bersaing dengan senior. Yang bikin (uang bergambar Teuku Umar) ada empat pengukir. Yang di-ACC ini (karya Mujirun), yang lainnya dihapus. Supaya tidak ada uang dobel yang berbeda. Semua sama-sama buat gambar Teuku Umar.

“Ternyata junior sudah lahir,” kata senior engraver di Peruri. Padahal, itu saya bersaing sama yang (mengabdi) 30 tahun lebih di Peruri. Tapi kan kalau kita balik ke belakang, saya dari kecil sudah latihan seni rupa. Ini masalah jam terbang. Menurut saya, suatu karya yang bagus itu kalau diikuti dengan proses. Mungkin saya dari kecil sampai sekarang itu proses. Saya anggap proses itu kematangan terhadap diri saya.

Apakah imbalannya sesuai harapan?

Saya mau berproses. Kalau saya hanya kejar duit, mungkin karya saya yang penting laku. Karya seni bukan yang penting laku, yang penting maksimal. Di dalam karya saya, ada jiwa saya. Orang kan punya karakter, setiap seniman punya karakter. Mungkin dalam pembuatan, style Mujirun ya gayanya ini. Akan ketahuan. Karena orang itu nggak bisa sama.

Gambar karya Mujirun
Gambar karya Mujirun

Kenapa tidak ada nama Mujirun di uang kertas?

Kebetulan, di Indonesia belum dicantumkan. Yang dicantumkan hanya desainernya. Contohnya Sudirno dell (singkatan dari delinavit atau desainer uang). Kalau di Italia atau negara lain, nama pengukirnya dicantumkan. Kalau di Indonesia nggak.

Gambar apa yang paling berkesan?

Ya terutama ini (uang bergambar Teuku Umar, 1986). Karena ini yang pertama saya buat dan ini yang terakhir (uang Rp 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai tahun emisi 2005 dan 2009).

Berapa lama untuk membuat satu gambar?

Kalau saya memberikan jadwal untuk satu model itu tiga sampai empat bulan.

Bagaimana ceritanya gambar Pak Harto mesem?

Jadi desainer bikin wajah Pak Harto (untuk uang Rp 50 ribu tahun 1995). Tapi, untuk menindaklanjuti gambar ini, ketika dicetak butuh engraver. Lalu, manggil juga pengukir dari Australia, barangkali takut tidak mirip nanti. Dari Peruri, saya delegasinya. Ternyata, gambar (karya) saya yang di-ACC. Berarti, kita nggak kalah juga (sama asing).

Perasaan Anda?

Pak Harto paraf di (gambar) punya saya. Saya bangga sebagai anak bangsa, ternyata kita tidak kalah dengan luar negeri. Saya akui engraver asal Australia – Mr Bruce kalau nggak salah – gentleman menyalami lalu bilang, “You good.” Apresiasi buat beliau. Dia engraver senior Australia. Pembuat uang Australia. Otomatis yang dikirim ke sini jagoannya.

Saya merasakan perjuangan dari SD sampai ter-ACC. Waktu itu lebih baik tidak dianggap ada, tapi ada karya. Bila kita berjuang maksimal, tenyata ada nilai tersendiri di mata orang lain. Apalagi dalam karya seni.

Apakah ada generasi baru engraver?

Sekarang yang buat uang (cetakan baru) adalah generasi berikutnya.

Apa upaya untuk memperbanyak generasi engraver di Indonesia?

Solusinya diadakan sekolah yang kaitannya dengan gaya (engrave) itu. Sebetulnya bisa dibuka jurusan di ITB (Institut Teknologi Bandung), ISI (Institut Seni Indonesia), atau IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Permasalahannya, dosennya mana?

Padahal, kalau sudah banyak tenaga, banyak ahli, otomatis berkualitas. Coba kita lihat Amerika. Dokumen negaranya memakai jasa engraver supaya nggak bisa dipalsukan. Jadi, di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia perlu dibuka jurusannya. Orang-orang yang berkualitas diambil. Bukan hanya untuk uang, bisa untuk perangko atau security printing lainnya. Mereka kurang tertarik atau bagaimana?

Yup, demikian hasil wawancara saya dengan Pak Mujirun di kediamannya, di Ciledug, Tangerang. Sampai jumpa di sesi berikutnya!