‘Diary’ Pergolakan Batin Seorang Perempuan

‘Diary’ Pergolakan Batin Seorang Perempuan

Ilustrasi (majalah-holiday.com)

“Aku membenci apa yang membuat mereka menangis. Aku membenci apa yang membuat mereka mengeluh. Aku membenci hal yang membuat mereka tersungkur dan jatuh. Aku membenci hal yang membuat mereka lemah.”

Aku adalah perempuan yang berusaha merdeka. Berusaha ikut mendengungkan kebebasan untuk kaumku, saudaraku. Kegelisahan terbesarku adalah pada hati perempuan yang katanya begitu lembut, begitu sensitif. Tapi di balik kebesaran hati perempuan, justru banyak yang tersakiti, mengalami diskriminasi, dan diabaikan.

Menekuni organisasi membuatku memiliki banyak relasi dan sahabat-sahabat baru yang berasal dari luar pulau. Sesekali kami bertemu untuk sekadar menyeruput secangkir kopi atau teh sembari bercengkerama tentang banyak hal, termasuk soal cinta.

Semakin lama, tentu kami semakin dekat, sehingga semakin membuatku tahu apa yang mereka alami. Kesedihan mereka, pengabaian, keputusan sepihak, budaya kuno yang menempatkan perempuan di lapisan terbawah strata sosial, sampai keharusan mereka untuk selalu memenuhi permintaan laki-laki.

Aku tahu, karena tidak ada sepenggal kalimat yang kulewatkan dari percakapan tempo hari. Aku bisa melihat begitu jelas mata orang-orang yang menatapku. Kemuraman tampak menggelayuti diri mereka.

Mendengar keluhan-keluhan mereka membuatku kelu, kadang pilu. Keterbatasan dalam memahami mereka bahkan membuatku gila. Aku gila karena ketidakmampuanku menerjemahkan apa yang mereka inginkan.

Pernah suatu ketika, aku dan mereka tengah menikmati secangkir kopi kesukaan kami. Kemudian setelah sepersekian menit kami bersenda gurau, tiba-tiba seorang di antara mereka termenung dan kembali mencurahkan kegelisahan hatinya.

“Kenapa aku selalu dianggap gagal memahaminya? Kenapa aku tidak pernah benar di matanya? Bagaimana cara agar hubungan kami baik-baik saja?”

Lalu, seorang yang lain menimpali, “Apa yang dia minta? Berikan saja. Ya kamu harus berusaha lebih keras atau mungkin kamu perlu merubah sikapmu.”

“Dia memintaku menurutinya, tapi dia kasar. Mungkin aku memang yang harus berubah ya? Aku akan berubah demi dia, bantu aku lah…”

Sebegitu besar keyakinan untuk dapat mempertahankan suatu hubungan membuat ia harus menjadi orang lain. Dan itu dianggap hanya persoalan sepele.

“Hal pertama yang mesti kamu lakukan adalah manut. Jadilah perempuan yang manis untuknya. Seperti yang aku lakukan selama ini. Tidak muluk-muluk kok. Kamu hanya perlu memahami keinginannya dan jangan menaruh curiga pada pasanganmu,” sambung seseorang yang tadi.

Saat itu, aku seolah menjadi patung yang hanya bisa menatap mereka lekat-lekat tanpa ada sepatah kata pun yang mampu aku lontarkan. Di tengah ketidakberdayaan yang entah mengapa semakin terasa begitu nyata, aku kepingin keluar saja dari percakapan itu.

Aku seolah menjadi pemegang kunci mati atau daun jati yang mampu membungkus segala hal yang dimasukkan ke telinga dan ingatanku.

“Kau tahu, begitu menyesakkan. Dia telah mendapatkan semuanya, semuanya! Tapi tidak benar-benar mau bertahan denganku dan aku tidak bisa melepaskannya. Aku harus bagaimana?” rengek salah seorang.

Aku begitu polosnya menjadi pendengar yang baik. Begitu bijaknya aku menatap mata para penggelisah itu dengan tatapan iba dan penuh rasa, berharap mereka tak jenuh meluapkan segala kekesalan mereka di depanku.

“Kamu seringnya seperti itu, tidakkah ada hasrat untuk mengakhiri atau setidaknya berdialog dengannya? Bukankah komunikasi yang baik adalah cara satu-satunya mempertahankan hubungan? Dia mengerti dan memahami inginmu, begitu pun sebaliknya. Tidak harus ada yang ditutup-tutupi,” jawabku.

Kadang mereka mendengarkanku, tapi hanya sebatas itu dan tidak ada yang berubah dari sikap mereka kepada pasangan masing-masing. Aku bisa saja pergi atau enyah atau bahkan meninggalkan mereka dengan berbagai macam alasan. Namun, siapa aku, bisa membuat mereka kecewa? Mampu membuat hati mereka semakin terkoyak tak berdaya?

Bagaimana kalau mereka sampai berkata, “Aku ingin mati saja! Aku malu, aku tidak tahu harus apa!” Kalau begitu, mana mungkin aku mengabaikan mereka? Orang macam apa aku berani menidurkan angan-angan yang ingin mereka aksarakan padaku? Dan, pada akhirnya, aku memilih untuk mendengar semuanya.

Aku melihat tatapan demi tatapan kosong itu, yang kadang terjebak oleh air mata yang berusaha muntah. Namun seolah tertahan oleh kelopak-kelopak yang merona dan sedikit membengkak.

Yaa… Sekarang aku kembali melihat keadaan yang menjengkelkan. Keadaan yang memaksa setiap wanita meneteskan air mata mereka yang berharga hanya untuk sesuatu yang sangat tak berharga sama sekali. Dan, aku sangat membenci hal itu.

Aku membenci hati mereka yang terlalu lemah, terlalu mengagungkan cinta, mengatasnamakan cinta sebagai hal yang justru membuat mereka bebas terinjak-injak. Aku membenci itu semua.

Aku membenci mereka yang tak mampu menempatkan cinta pada porsi yang sesungguhnya. Aku menyayangkan mereka yang tak bisa menjadikan cinta sebagai elan pembebasan manusia.

Bukan karena aku tidak melihat lebih jauh, bukan karena aku tidak sudi melihat dari sisi yang berbeda, bukan karena aku membenci tali cinta yang terjalin, bukan karena aku iri, bukan karena aku tidak menghargai perasaan orang lain. Aku justru sangat menghargai mereka yang memiliki kepekaan rasa yang tinggi.

Tapi aku pernah menjadi orang terbodoh yang tak mampu memaknai cinta secara benar. Pada titik itulah, aku tidak ingin melihat ada ‘aku kedua’ dalam kehidupan yang saat ini tengah berusaha kujalani dengan lebih baik. Aku tidak ingin ada yang terbelenggu sama sepertiku.

Aku pun tak ingin turut merasakan lagi kegilaan mereka tentang kegagalan yang mereka alami dalam mencintai. Aku ingin mereka lebih baik, setidaknya tidak sepertiku saat itu. Perempuan tercipta bukan untuk menanggung seluruh beban penyiksaan, pendiskriminasian, dan pengekangan yang dilakukan oleh sistem sosial yang patriarkis.

Perempuan dan laki-laki adalah sama, tidak ada bidang penyekat yang membedakan status sosial keduanya. Jika kemudian cinta hadir di antara keduanya, hal itu bukan untuk membelenggu satu pihak.

Aku dan perempuan lain seharusnya tahu bahwa cinta adalah kebijaksanaan, kearifan, yang di dalamnya terdapat dua insan yang berdaulat, memiliki kesempatan, peran, dan ruang yang sama.

Lantas, apakah aku harus terus menggurui perempuan lain setelah diary ini kutulis?