Maestro Peradaban Ini Seorang Gay

Maestro Peradaban Ini Seorang Gay

Istilah LGBT semakin populer di dunia. LGBT merupakan akronim dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Istilah LGBT sebenarnya sudah muncul sejak 1990-an.

Belakangan, tepatnya 26 Juni 2015, LGBT kembali bergairah, setelah Amerika Serikat resmi melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 atau seluruh negara bagian.

Setelah peristiwa itu, para LGBT dan simpatisannya di dunia termasuk di Indonesia larut dalam sebuah euforia. Maklum, Amerika punya gaya. Presiden Barack Obama pun ikut larut dalam drama tersebut.

Lalu munculah simbol-simbol LGBT dan dukungan pernikahan sejenis seperti warna pelangi, #LoveWins, #LoveIsLove, dan #EqualityForAll. Bahkan Facebook, Google, Apple, dan White House pun demam pelangi.

Di media sosial terutama Facebook, banyak orang yang memamerkan foto profil bernuansa pelangi sebagai sebuah dukungan. Selama ini, para LGBT memang kerap menjadikan warna pelangi sebagai simbol.

Namun, belakangan, euforia LGBT dan pernikahan sejenis mulai menimbulkan kecemasan. Beberapa kalangan yang kontra secara terbuka mengutuk keras fenomena tersebut, mulai membawa dalil agama sampai ancaman kekerasan.

Presiden Gambia Yahya Jammeh bahkan mengancam akan menggorok leher para homoseksual yang berada di negaranya. Masyarakat di beberapa negara maju dan negara berkembang juga banyak menolak pernikahan sejenis. Begitu juga di Indonesia.

Kondisi itu seakan menjadi bom waktu yang bisa menimbulkan konflik. Ancaman kekerasan jelas tidak terpuji dan tidak manusiawi. LGBT juga manusia. Mereka memiliki hak yang sama di hadapan hukum maupun kehidupan sosial.

LGBT sudah sepatutnya dihormati dan hidup berdampingan, karena LGBT dan pernikahan sejenis bukanlah sebuah kejahatan. LGBT hanyalah permainan rumit antara gen, fisiologi, gaya hidup, dan lingkungan.

Namun, para LGBT maupun pendukungnya perlu menahan diri untuk tidak memaksakan bahwa apa yang terjadi di Amerika dan beberapa negara lainnya adalah sebuah tren baru peradaban global.

Terkesan arogan, jika para LGBT dan negara-negara yang melegalkan pernikahan sejenis mengklaim bahwa dirinya lebih maju dan beradab. Sedangkan kalangan yang menentang dianggap kuno dan terbelakang.

Amerika memang mengklaim sebagai negara yang demokratis dan maju, tapi bukan berarti apa yang ada di sana menjadi standar peradaban dunia. Sebab, masih banyak negara di Eropa dan Asia, yang juga mengklaim sebagai negara maju, yang menolak pernikahan sejenis.

Pada intinya, LGBT dan pernikahan sejenis tidak ada hubungannya dengan peradaban. Masalahnya bukan terletak apakah LGBT atau bukan, tapi siapa yang mampu berkontribusi untuk kebaikan umat manusia.

Publik bisa berkaca pada kehidupan Alan Mathison Turing. Dia adalah seorang homoseksual, tapi ia mampu menciptakan mesin yang menjadi cikal bakal komputer. Turing diakui berkontribusi besar dalam membangun peradaban modern umat manusia saat ini.

Pria asal Inggris itu tercatat sebagai peneliti komputer modern digital pertama. Dia juga orang pertama yang berpikir menggunakan komputer untuk berbagai keperluan.

Selama hidupnya, pada 1912-1954, Turing yang ahli matematika berhasil memecahkan kode Enigma, mesin komunikasi yang digunakan pasukan Nazi Jerman selama Perang Dunia II.

Turing bersama rekan-rekannya berhasil membuat Perang Dunia II berakhir lebih cepat dua tahun dan menyelamatkan nyawa lebih dari 14 juta jiwa. Meski berjasa, dia justru diperlakukan seperti penjahat, karena dia seorang homoseksual.

Pada 1952, Turing ditangkap dan diadili atas tindak pidana homoseksualitas. Ketika itu, dia diberi dua pilihan, penjara 18 bulan atau pengebirian libido. Dia memilih pengebirian dengan cara disuntik estrogen selama setahun.

Turing merasa tersiksa dan akhirnya bunuh diri pada 7 Juni 1954. Akhir hidup yang tragis bagi seorang maestro peradaban, hanya karena masalah dia homo. Namun, setelah 59 tahun berlalu, tepatnya pada 2013, Pemerintah Inggris meminta maaf atas perlakuan terhadap Turing.

Cukup sudah seorang Alan Turing menjadi korban atas konflik yang berpangkal pada orientasi seks. Jangan sampai dia bangkit dari kubur, karena euforia dan konflik soal LGBT. Mari bangun peradaban dunia dengan cinta, Love Wins!