Di Bawah Panji-panji ‘Al Muttahidah’ Agnez Mo

Di Bawah Panji-panji ‘Al Muttahidah’ Agnez Mo

Saya sengaja menahan artikel ini beberapa hari setelah aksi teror bom dan bersenjata di kawasan Sarinah, Jakarta. Tujuannya supaya bisa berpikir lebih jernih, bukan sekadar komentar yang hanya nyampah di media sosial.

Jujur, sepanjang umur dewasa saya, rasanya baru kali ini merasakan besarnya gerakan bersatu atas nama kebangsaan. Tentunya, saya tidak mau berterima kasih kepada para teroris, meski memberi kesempatan untuk itu. Nyatanya kita bisa saling bergandengan tangan, merangkul bahu, dan berteriak, “Kami tidak takut!”

Harus diakui, awalnya ketar-ketir juga. Apalagi, banyak hoax yang berseliweran, yang menambah suasana menjadi mencekam. Tapi ketakutan cepat berubah menjadi ‘kelegaan’, karena jejaring sosial juga menyebarkan cerita yang jauh dari kesan mencekam.

Tanpa mengurangi rasa duka yang mendalam untuk korban dan keluarganya, tetapi jika memang target teroris ingin membuat warga Jakarta panik, jelas-jelas mereka kecele. Tak banyak warga Jakarta yang menunda kegiatannya di luar rumah, termasuk saya.

Seruan dengan hashtag #KamiTidakTakut, #PrayForJakarta, dan #JakartaBerani bisa dibilang berhasil memulihkan keadaan dengan cepat. Itu poin pertama.

Poin kedua adalah sejumlah orang yang menganggap peristiwa ini merupakan bagian dari pengalihan isu. Misalnya isu perpanjangan kontrak dan penjualan saham Freeport, penangkapan politisi cantik dari partai penguasa oleh KPK, atau kesaksian wapres di sidang kasus dugaan penyalahgunaan dana operasional menteri.

Jika kita mempelajari teori konspirasi, tentunya itu bisa saja terjadi. Beropini bahwa kawasan Sarinah itu adalah panggung sandiwara, lalu hestek #KamiTidakTakut, cerita tukang sate, tukang ojek, dan polisi ganteng idaman mama muda adalah bumbu-bumbu dari drama tersebut.

Saya sadar, korupsi memang persoalan besar. Begitu juga dengan terorisme, narkoba, dan lainnya. Siapa yang rela koruptor dan pemburu rente Freeport mengangkangi negeri ini? Siapa yang setuju para teroris seenaknya membantai sodara-sodara kita? Ada? Tidak ada kan.

Kini, saya akan bicara poin ketiga, yang kalau tidak lancang bisa dibilang kesimpulan. Begini, bukankah itu semua adalah aura positif yang bisa bikin kita bergandengan tangan, berteriak, dan bergerak, “Kami tidak takut lawan teroris!”, “Kami tidak takut lawan koruptor!”, “Kami tidak takut lawan semua bentuk pembodohan!”, dan lain-lainnya.

Jadi kalau semuanya bisa bersatu, kenapa harus nyinyir satu sama lain? Kita tidak perlu buang waktu hanya untuk bikin status di medsos yang sok kritis atau sok heroik. Apa yang kita hadapi sekarang ini sebenarnya sama dan nyata. Terorisme, korupsi, narkoba, dan ancaman lainnya.

Oalahh… Pasti ada yang nyinyir lagi mendengar kata persatuan. Bahasanya formal banget sih? Kayak tulisan-tulisan di spanduk seminar aja. Nggak kekinian ya? Baiklah, kalau begitu. Bagaimana kalau seruan persatuan dikampanyekan oleh Agnez Mo dengan busana yang seksi? Melongo kan lo?

Kostum seksi Agnez Mo bertuliskan ' ‘Al Muttahidah’ di konser yang ditayangkan TV swasta (kapanlagi.com)
Kostum seksi Agnez Mo bertuliskan ‘ ‘Al Muttahidah’ di konser yang ditayangkan TV swasta (kapanlagi.com)

Bo’ong aja kalau netizen nggak melongo. Ada yang sekadar intip-intip, ada juga yang shock karena melihat huruf Arab bertuliskan ‘Al Muttahidah’ di kostum Agnez yang transparan itu. Awalnya banyak orang yang protes. Kok huruf Arab jadi aksesoris baju seksi yang dipakai di sebuah konser? Ini penistaan! Apalagi kostum Agnez dianggap nggak mencerminkan budaya ketimuran. Vulgar!

Ah, kalian bilang vulgar-vulgar, tapi ngeklik juga gambarnya yo.. Nonton videonya pula di Youtube. Pada akhirnya, semua orang tersadar bahwa tulisan ‘Al Muttahidah’ di kostum Agnez bukan penistaan, karena tidak semua aksara Arab memiliki derajat yang sama seperti di Al Quran. Lagipula ‘Al Muttahidah’ itu artinya persatuan. Nah!

Saya justru berterima kasih kepada Agnez Mo, karena sudah mengkampanyekan ‘Al Muttahidah’ atau persatuan di Indonesia dengan cara yang katanya tidak mencerminkan budaya ketimuran itu. Lah, mengkampanyekan persatuan pakai budaya ketimuran nanti dibilangnya bahasa seminar. Pakai budaya kebarat-baratan, nanti kaget.

Terima kasih Agnez sudah bikin kita semua terkaget-kaget, terbata-bata, lalu tersadar bahwa ternyata persatuan masih penting di negeri yang semakin terkotak-kotak ini. Mungkin Agnez tak menyadari, kalau kampanye persatuan itu ternyata dilakukan tiga hari sebelum kejadian bom Sarinah.

Hari ini, orang bersatu melawan teroris. Sungguh saya terharu. Mari kita kibarkan terus panji-panji ‘Al Muttahidah’. Tak hanya melawan teroris, tapi juga para koruptor, mafia narkoba, dan pihak-pihak yang ingin membuat kita sengsara. Al Muttahidah!