Den Bagus, dari Racun Pandawa hingga Mirna

Den Bagus, dari Racun Pandawa hingga Mirna

wayang.wordpress.com

Jadi sudah sampai mana sidang kasus kematian Mirna?

Saya kok merasa kurang kekinian, karena nggak update kasus besar tersebut. Belakangan, saat persidangan dengan terdakwa Jessica itu disiarkan secara langsung, umum, bebas, dan tak rahasia oleh stasiun TV, saya selalu berkunjung ke rumah sohib saya. Namanya Den Bagus.

Suatu sore, kebetulan Den Bagus sedang berada di rumah. Alhamdulillah… Bukan apa-apa, saya pernah menunggu beliau begitu lama, lebih lama daripada menanti jodoh selama beratus-ratus purnama. Tapi, kali ini, rupanya semesta mendukung perjumpaan saya dengan Den Bagus.

“Walah, mas Imam kok tumbenan? Kebetulan saya baru pulang. Ada apa gerangan sore-sore sudah mampir ke sini?” ujar Den Bagus menyapa saya sambil tersenyum.

“Iya nih Den, lagi suntuk di rumah juga. Nonton TV isinya sidang Mirna lagi. Hari ini sudah masuk sidang ke-20, tapi masih belum ada titik terang,” curhat saya ke beliau.

“Mas Imam, sahabat saya yang baik hatinya…”

Belum habis kata-kata itu, sontak saya merasa terbuai. Mendengar untaian kata yang bernada itu seperti sedang bersama motivator tersohor. Hanya saja, Den Bagus tidak memakai “Salam Super” sebagai penutup.

“Mas Imam, sampeyan harus tahu, kalau racun-meracuni itu sudah klasik. Jangankan Mirna, Pandawa yang sakti mandraguna saja pernah mati diracun,” tuturnya.

Saya pun terkaget-kaget. Setahu saya, Pandawa tidak mati diracun. Tapi melihat saya kebingungan, Den Bagus langsung menceritakannya.

Dahulu kala, jauh sebelum Mirna diracun – yang katanya lewat kopi bersianida – para Pandawa juga pernah terkena racun dan mati. Kejadiannya di hutan saat masa pengasingan. “Sampeyan tahu Kyai Semar tho, mas ?” tanya Den Bagus ke saya. Saya menggeleng, karena memang tidak begitu mengenal tokoh wayang.

“Semar adalah ayah angkat Punokawan yang terkenal arif dan bijaksana. Hal ini wajar, karena memang Kyai Semar adalah titisan Batara Ismaya, anak kedua Sang Hyang Wenang atau Sang Hyang Tunggal,” seru Den Bagus.

Ia kemudian melanjutkan, “Ya, walaupun dalam memberi nasehat Kyai Semar tidak memakai “Salam Super”, tapi toh tetap saja manusia sekelas Pandawa sekali pun patuh kalau mendengar wejangannya, mas Imam,” tuturnya.

Selain menjadi abdi Pandawa, Semar juga mempunyai anak angkat yaitu, Petruk dan Gareng. Walaupun keduanya anak angkat dan fisiknya tak sempurna, Semar tetap menyayangi mereka dan menganggapnya anak sendiri.

Maka, agak mengejutkan, kalau tiba-tiba tersiar kabar di negeri antah berantah ada seorang ‘Yang Bijak Bertari’ mencampakkan anaknya sendiri. Alangkah malang sang anak, saat sedang memerlukan bantuan, ayahnya itu malah dibilang, “Tak usah cari papa. Kita tak usah ketemu dulu.”

Saya yang masih penasaran soal racun Pandawa lantas nyeletuk, “Lalu bagaimana bisa Pandawa mati akibat racun?” Den Bagus kemudian melanjutkan ceritanya.

Pada suatu siang, saat Pandawa sedang makan bersama sang ibunda, Dewi Kunti, mereka kehausan dan ingin minum. Kebetulan, Bratasena mengatakan bahwa di dekat situ ada telaga.

Mereka yang kehausan langsung menuju telaga bersamaan. Hanya Kyai Semar yang berjalan terakhir, karena memang tubuhnya yang ginukginuk.

Tak ada angin, hujan, dan badai, kelima Pandawa serta Dewi Kunti terjatuh seketika setelah minum air dari telaga. Semar yang penasaran akhirnya menyambangi mereka. Kaget hati Semar dibuatnya, saat mendapati Pandawa beserta Dewi Kunti sudah tidak bernyawa.

Semar akhirnya tahu, bahwa sebab kematian mereka akibat racun yang berada di air telaga. Semar jengkel, dan akhirnya menguras habis air telaga itu. Di dasar telaga, tampak Batara Brahma. Semar membanting dan memarahi Batara Brahma yang sembrono, sampai mematikan Pandawa beserta sang ibu.

“Sampeyan ndak tahu kan, kalau julukan Yang Mulia Batara juga bisa salah? Padahal, kelak akan ada kejadian besar yang melibatkan Pandawa, lha kok malah dimatikan begitu saja,” ucap Den Bagus tampak seru.

Kyai Semar lalu menyuruh Batara Brahma menghidupkan mereka kembali. Sebab, jika mereka mati di sini, pengasingannya akan sia-sia dan Dewa akan dianggap tidak adil untuk selama-lamanya.

“Walah enak jadi Kyai Semar ya, Den. Bisa nyuruh Dewa semau-maunya.”

“Ya, Semar itu masih anaknya Sang Hyang Wenang, kok mas. Sodara tuanya Batara Guru, penguasa Saloka Raya. Jadi tidak main-main.”

“Kalau kasus Mirna ini kok enggak selesai-selesai sebabnya apa, Den Bagus?”

“Ya bagaimana mau selesai, bukti-buktinya minim, kasusnya kompleks, tapi publik sudah kepalang tanggung terframing Mirna mati kena sianida.”

Den Bagus tampak terdiam sejenak. Raut mukanya mulai tampak serius. Ia lalu melanjutkan perkataannya. “Harus diotopsi sampai tuntas, seperti Semar menguras air telaga yang mengandung racun, sehingga bisa menemukan Batara Brahma,” tegasnya.

Saya langsung menimpali, “Ya kalau begitu, Den, mbok si Mirna dibangunkan lagi saja, biar bisa otopsi ulang.” Dengan begitu, kata saya dalam hati, urusannya bisa cepat selesai. Tidak berlarut-larut. “Ya sana sampeyan minta saja ke Kyai Semar, mas,” ujar Den Bagus malah tertawa.

Den Bagus kembali melanjutkan, “Kalau cepat beres, mas, nggak ada pengalihan isu yang bagus. Orang-orang jadi ingat lagi sama Arcandra, eh apa Archandra? Sampeyan ndak tahu kan kalau beliau mau diangkat lagi jadi menteri setelah resmi jadi WNI?”

Tak hanya itu, kata dia, orang-orang juga akan teringat kembali kasus reklamasi. Lalu ingat lagi panasnya Ibukota menjelang Pilkada tahun depan. Syukur-syukur kalau bikin analisis dan wacana bermutu di Voxpop, kalau yang muncul pidato ala-ala mahasiswa yang viral itu?

“Lagian Sampeyan kok gusar sekali sepertinya, mas?” kata Den Bagus. “Kasus Mirna belum juga berjalan selama 12 tahun, seperti  masa pengasingan Pandawa di hutan saat diracun. Berbaik sangka saja, semoga Munir yang sama-sama meninggal diracun 12 tahun lalu bisa diusut tuntas.”