Dear Anak Bola, Jangan Main-main dengan Ultras Sinetron Anak Jalanan

Dear Anak Bola, Jangan Main-main dengan Ultras Sinetron Anak Jalanan

motorexpertz.com

Tak ada yang lebih gila daripada pencinta sinetron di negeri ini. Kalangan ultras sepak bola bahkan tak mampu mengalahkannya. Kesimpulan ini saya dapatkan setelah mas Jauhari Mahardika membagikan tautan soal rating tayangan Piala Eropa 2016 di RCTI, yang masih kalah dibanding sinetron Anak Jalanan.

Iya, sinetron Anak Jalanan yang kalian hina-dina karena mengajarkan kebut-kebutan di jalan raya atau kisah cinta yang terlalu klise dan alur cerita yang sangat mudah ditebak itu. Atau, cerita Reva dan Boy yang terus terjebak dalam kehidupan remaja mereka, meski sudah beratus-ratus episode. Dan, suka atau tidak suka, penggemarnya luar biasa banyak.

Pada awal-awal penayangan fase penyisihan sejak 10 Juni, rating Piala Eropa memang nggak langsung ngangkat. Padahal, sebagian besar pertandingan menghabiskan jatah prime time. Bahkan, beberapa sinetron harian seperti Tukang Bubur Naik Haji The Series dan Catatan Hati Seorang Istri 2 terpaksa diliburkan. Bisa mudik dan lebaran lebih cepat di kampung.

Piala Eropa sendiri baru saja melewati fase penyisihan. Fase selanjutnya adalah pertarungan hidup dan mati. Yang kalah pulang kampung, yang menang masih bisa berlama-lama di Prancis yang katanya negara sekuler nan romantis itu. Lantas, bagaimana rating-nya? Melejit? Wah, anak-anak bola pasti terperangah. Informasi terakhir per 20 Juni, sinetron Anak Jalanan masih berada di posisi puncak!

Apakah setelah itu Piala Eropa? Nyatanya masih kalah sama Bimoli Coorma, Upin & Ipin Ngabuburit, Mermaid In Love, Kultum, Senandung, Uttaran, Upin & Ipin, Tukang Ojek Pengkolan, serta Adit & Sopo Jarwo. Ke mana Piala Eropa, wahai anak-anak bola? Bahkan Adzan Maghrib di TV yang katanya bakal meraih rating tertinggi selama Ramadhan hanyalah hoax belaka.

Selamat datang di basis ultras sinetron Anak Jalanan! Silakan saja narasi-narasi anti-sinetron disebar secara masif. Mulai dari mengkritik televisi Indonesia yang menjadi budak rating, sensor yang aneh, kualitas konten yang kian memprihatinkan, dan sebagainya.

Atau bahkan sindiran yang nyinyir kalau sinetron pun dimanfaatkan oleh kepentingan politik, sebagaimana dulu ada Hary Tanoe yang tiba-tiba muncul di Tukang Bubur Naik Haji. Dan, tentunya tak luput juga sindiran dari generasi 90-an yang masih terjebak masa lalu, yang bangga bahwa mereka lebih baik karena tiap pagi terutama wiken selalu disuguhi film kartun.

Lalu, fenomena ini melebar menjadi persoalan moral, setelah bicara konten yang buruk dan sangat mudah ditebak. Secara senewen, setiap ada dua anak kecil yang pacaran hingga foto-foto tanpa busana, sinetron lah yang dianggap menjadi biang keladi. Begitu juga kalau ada kehidupan manusia yang kelewat drama. Lagi-lagi sinetron disalahkan. Pokoknya semua kebodohan adalah salah sinetron. Setidaknya itu kata moralis anti-sinetron.

Dan, kebetulan saja, saat ini adalah giliran Anak Jalanan yang menanggung dosa itu. Anak Jalanan dianggap sebagai pemicu abegeh minta ke orang tuanya untuk dibelikan motor sport. Biar bisa kebut-kebutan di jalan. Lalu menafikkan pesan persahabatan dan pesan-pesan moral lainnya dalam sinetron tersebut. Ini tentu banal sekali.

Untuk urusan tayangan Piala Eropa kali ini, biasanya sindiran-sindiran tak berhati itu datang dari para penggila bola yang sudah sangat horny ingin menyaksikan acara yang diimpor dari Eropa tersebut. Bagi mereka, siaran sinetron sudah sewajarnya diganti dengan tayangan sepak bola dan harus dirayakan dengan pesta pora. Dari situ lah, Civil War ala tim Captain America v Iron Man bermula. Perang argumen paling hakiki, perang ultras sepak bola dan ultras Anak Jalanan!

Sebagai ultras Anak Jalanan, tentu saya akan membela Anak Jalanan, meski saya juga suka bola. Tadinya, saya ingin berusaha adil. Tapi hasrat ini bicara lain. Dan, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan filosofis dan mendasar, “Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa sepak bola menjadi populer?”

Joao Borges pernah berkata begini. “Soccer is popular, because stupidity is popular.” Hal ini mengacu pada kecintaan penggemar sepak bola yang sesungguhnya sudah di luar nalar. Apa sebab dan menariknya dua orang yang mengejar-ngejar sebuah bola untuk dimasukkan ke gawang lawannya? Apa hal sesungguhnya dikatakan bahwa sepak bola melebihi urusan hidup dan mati sebagaimana gambaran Bill Shankly?

Bagi orang-orang yang tak mengerti sepak bola, tentu hal ini adalah misteri. Orang Amerika, dan mungkin sebagian dari kita, masih sulit mengerti mengapa orang-orang tak mampu duduk manis dan harus berteriak-teriak menyaksikan sepak bola dari layar kaca. Mengapa seolah mereka merayakan hal ini seakan-akan memang terjadi adanya?

Dalam karyanya, Joao Borges setidaknya mengkritik sepak bola yang sesungguhnya tak lebih dari sinetron. “Esse est Percipi (to be is to be perceived)” adalah cerpen yang ia buat untuk mengkritik bagaimana fans layar kaca seolah menganggap sepak bola adalah nyata.

Joao Borges menuturkan tentang sebuah pertandingan yang disiarkan melalui radio di Argentina, yang dinarasikan dengan gembar-gembor luar biasa dan berhasil meyakinkan orang seolah itu nyata. Pada akhir kisah, ia temui fakta bahwa pertandingan itu tak pernah terjadi. Ia bercerita tentang simulasi dan hiperrealitas.

Simulasi dan hiperrealitas, yang saya pelajari dari pertemuan saya dengan Zen RS, adalah sebab mengapa yang tampak menjadi nyata terasa kian nyata. Simulasi sebagai proses dan hiperrealitas sebagai dampak. Simulasi, pembangun bayangan imaji di benak kita, dalam sepak bola ditampakkan dalam adegan ulang yang detail.

Pada konteks itu, emosi pemain digambarkan dalam tayangan ulang beserta urat-urat leher mereka yang sengaja di-syuting atau emosi penonton di stadion atau barisan WAGs dan suporter perempuan seksi berbusana minim. Tentu saja termasuk cuitan kita di media sosial.

Kemudian hal ini menjadi dampak yang luar biasa. Kita sulit membedakan mana yang sebenarnya maya dan mana yang nyata. Di situlah terjadi apa yang namanya hiperrealitas. Upaya membangun realitas ini yang membuat kita sulit membedakan antara realita dan dusta di layar kaca.

Maka, para penggila sepak bola, sebagaimana ultras Anak Jalanan yang mampu menceritakan secara detail tentang hubungan Reva dan Boy, akan mampu menceritakan drama pertandingan secara rinci pula. Sepak bola adalah drama dan tak lebih dari bagian industri hiburan di era modern.

Dengan hak siar yang sangat mahal dan dirayakan secara komunal, siapa yang 100% yakin bahwa dibaliknya tak ada penulis skenario, yang memang lebih pintar dibanding mengatur alur sinetron Anak Jalanan yang mudah ditebak itu? Tak ada yang tahu. Yang jelas, bagi sepak bola, mengejar bola itu sama kerennya seperti mereka yang balapan di jalan ala geng motor.

Perihal moralitas yang memprihatinkan itu sendiri, sinetron tak sendiri. Sumber yang lebih luas semisal akses informasi tanpa batas juga mempengaruhi.  Maka dari itu, dari sini kita pahami, sepak bola dan sinetron adalah perkara hiburan. Anak bola tak lebih baik daripada ultras Anak Jalanan. Lagipula, kalau hiburan semua mendidik, malah jadi ribet kan? Kalian juga sulit mencari bahan nyinyiran saat lagi bete karena tim kalian kalah.

Makanya jangan main-main dengan sinetron Anak Jalanan. Kenapa? Berbeda dengan penggemar sepak bola yang suka mengkotak-kotakkan diri, mereka adalah satu kesatuan yang luar biasa dan terus berlipat ganda. Menguasai trending topic adalah wujud kecil. Mungkin kelak, kalau sudah waktunya, kalian akan dipaksa untuk mencintai Anak Jalanan, sebagaimana kalian memaksakan ultras Anak Jalanan mencintai sepak bola.