Dayang-dayang Pengantin dan Arzetti Bilbina

Dayang-dayang Pengantin dan Arzetti Bilbina

Menikah selalu menjadi bagian besar dalam hidup seseorang. Di benak manusia, kata menikah bisa diakhiri tanda titik, tapi bisa juga tanda tanya besar. Motifnya beragam, mulai dari ingin punya keturunan, dianggap normal, tuntutan status, atau fase ‘memang sudah waktunya’.

Janji sakral ikatan dua insan itu cukup diucap sekali. Tapi kalau ada yang dua sampai tiga kali ya nggak apa-apalah, nggak bikin pusing pala Barbie. Yang penting ada surat dan urat.

Tapi begitu berbicara kata resepsi, ruwetnya bisa jadi melampaui acara perkawinan kerajaan atau ‘Royal Wedding’. Bagi masyarakat kelas menengah, kadang hal-hal kecil dibuat menjadi besar. Yang ada drama nggak penting.

Di era digital dimana nikah saja bisa online, berbagai perintilan dari resepsi perkawinan juga punya wajah baru. Undangan bisa lewat internet. Cukup tag 100 teman di Facebook dan Voila, anda langsung mendapatkan ucapan selamat sekaligus bulian penuh canda.

Tapi nyatanya masih ada pernak-pernik nggak penting yang bikin ribet resepsi perkawinan. Sebut saja, bridesmaids atau dayang-dayang pengantin. Ngurus dayang-dayang ini kadang lebih rempong. Baper alias bawa perasaan. Nggak penting kan?

Seorang kawan yang baru menikah protes kalau bridesmaids itu bukan bentuk lain dari pagar ayu. Katanya, pagar ayu identik dengan perempuan di depan pintu yang bertindak sebagai penerima tamu.

Ada juga pagar ayu yang berdiri dekat sajian makanan dan menyapa tamu yang ingin menyantap hidangan. Kalau bisa pagar ayu juga bantu-bantu cuci piring.

Tapi bridesmaids bisa dibilang segerombolan teman-teman dekat pengantin perempuan. Mengenakan gaun yang seragam dan berdiri di samping pengantin perempuan. Dayang-dayang ini harus tetap eksis selama resepsi, paling tidak ketika difoto.

Apakah sesederhana itu? Tentu tidak. Seperti yang saya bilang tadi, resepsi pernikahan bisa jadi lebih ribet dari ‘Royal Wedding’ bahkan kenegaraan. Pemilihan bridesmaids bak kontes Puteri Indonesia.

Ilustrasi bridesmaids dan pengantin perempuan
Ilustrasi bridesmaids dan pengantin perempuan

Karena itu, saya coba kasih saran, tentunya saran ecek-ecek soal memilih bridesmaids. Pertama, calon pengantin perempuan perlu melihat buku tahunan ketika SMA atau kuliah. Bagi yang punya geng SMA akan menjadi lebih mudah.

Undang teman-teman SMA tersebut secara khusus. Jika di antara mereka ada yang tinggal di luar kota, kirimkan paket lengkap bahan untuk seragam bridesmaids dan tulis sebuah pesan dalam kartu, “Saya butuh kalian, di hari penting dalam hidup saya. Kecup manis selalu, nggak sabar untuk foto bareng lagi.”

Kedua, bagi yang sudah cukup umur dan hampir dipastikan putus hubungan dengan teman-teman SMA, pengantin perempuan bisa memilih teman-teman kerja sebagai bridesmaids.

Tapi di kota metropolitan yang kompetitif, menemukan sahabat yang mampu berada saat senang dan susah sama sulitnya dengan mencari jodoh.

Mungkin, sebagian calon pengantin perempuan punya teman gila yang sering diajak gila-gilaan. Tapi teman semacam ini tidak cocok untuk berada di tengah ketenangan pesta pernikahan.

Maka, pilihlah teman kantor yang baik-baik, bersikap manis, dan setidaknya punya wajah fotogenik. Sulit? Daripada pergi ke HRD yang dipenuhi mbak-mbak judes nan manipulatif?

Anda juga bisa pergi ke bagian anak magang, karena di sana bertebar gadis muda dengan penampilan unyu-unyu. Anak magang sudah pasti sulit menolak perintah senior.

Ingat, yang diperlukan itu adalah bridesmaids dengan senyum Puteri Indonesia. Mereka berkontribusi membuat foto pernikahan lebih berwarna dan bisa dapat banyak like saat di-posting di Facebook dan Instagram. Kalau perlu bikin kontes bridesmaids. Panggil Ahmad Dhani sebagai juri. Dia pasti suka.

Tapi ketika anda sudah tidak punya waktu mencari bridesmaids yang sempurna, keluarkanlah lebih banyak uang untuk orang yang memang bekerja sebagai bridesmaids. Jangan terlalu panik. Sudah banyak wedding organizer menyediakan jasa bridesmaids.

Urusan memilih bridesmaids kelar. Bagaimana sarannya? Makin ribet? Ya betul!

Lupakanlah dayang-dayang pengantin yang nggak penting itu. Apakah resepsi pernikahan yang sempura menjamin tidak ada perselingkuhan?

Pernikahan adem ayem seorang Arzetti Bilbina pun kena gosip perselingkuhan. Hampir setiap hari berita itu hadir di layar kaca. Jadi viral di media sosial. Bantah sana bantah sini.

Arzetti hanyalah satu dari ribuan berita perselingkuhan artis yang selalu jadi pergunjingan. Ah, tapi saya tidak akan membahasnya lebih lanjut soal berita ecek-ecek itu. Penting banget?

Foto: easyweddings.com.au