Menggugat Kejomplangan Dandanan Wisuda Laki-laki dan Perempuan

Menggugat Kejomplangan Dandanan Wisuda Laki-laki dan Perempuan

Ilustrasi (freecollegenow.org)

Dulu, saya hampir jadi guru. Saya sekolah di SMA calon guru yang mewajibkan siswanya kuliah di tempat yang sama agar bisa mengajar kelak. Tapi saya lebih memilih kuliah di kampus seni di Yogyakarta.

Untungnya, Mamak saya bukan tipe emak-emak yang kalau lampu sein ke kanan dia malah belok ke kiri, terus kalau ketabrak malah marah-marahin yang nabrak. Pendeknya, Mamak cukup demokratis.

Akhirnya, di sinilah saya, di sebuah kamar kos ukuran 3×4 meter di selatan Yogyakarta. Sibuk scroll-in layar Instagram hingga stalking akun teman seangkatan di SMA yang sudah wisuda dan siap menempuh karir sebagai guru.

Teman-teman saya itu, bahagia sekali ekspresinya dalam foto. Jauh-jauh hari saya sempat lihat foto seorang teman dengan beberapa kebaya di Facebook. Apa sebab? Ternyata jadi bakul kebaya buat wisuda.

Kejadian serupa juga terjadi di lingkungan kampus. Jauh-jauh hari sebelum momen sakral itu, obrolan-obrolan minta rekomendasi salon atau penyewaan kebaya mana yang bagus bertebaran di udara.

Belum lagi kegalauan antara booking studio foto atau pakai jasa mahasiswa fotografi untuk bukti praktis kelulusan – nanti hasil fotonya dicetak dan dipamerkan di ruang tamu rumah.

Sampai kemudian, saya menyadari satu hal.

Kenapa saat wisuda, laki-laki bebas pakai toga dengan wajah standar, sementara perempuan mati-matian mempermak diri secantik mungkin?

Ketika ada groufie teman-teman yang wisudaan itu, kelihatan banget jomplangnya antara perempuan dan laki-laki. Perempuan harus full make up from head to toe, sementara laki-laki kayak biasa saja.

Tidak tampak adanya polesan BB Cream atau setepuk dua tepuk bedak di wajah-wajah bahagia itu. Bercahaya ketika terkena sinar flash kamera alias ‘minyakan’.

Dosen saya pernah melontarkan apa yang disebut dengan male gaze, yakni sebuah keadaan atau kebiasaan tanpa sadar (habitus) dimana hampir semua visual di dunia ini dibuat untuk menyenangkan penglihatan lelaki heteroseksual.

Contohnya, iklan produk susu yang menampilkan model cewek seksi, padahal susu anti tulang keropos. Dan, hampir bisa dipastikan penyanyi perempuan memiliki paras rupawan, tapi tidak ada jaminan penyanyi laki-laki tjakep semua.

Artinya apa? Perempuan masih terhegemoni dengan standar kecantikan yang disukai laki-laki (mayoritas). Standar yang bagaimana?

Makanya, tulisan ini dibaca sampai selesai.

Lalu, hati kecil saya berteriak, “Ada kok perempuan yang make up untuk kepuasan dirinya sendiri!”

Oh, tentu ada. Mereka ini yang biasanya selfie terus diunggah ke Instagram, kepsyennya tidak jauh-jauh dari upaya penghargaan pada diri sendiri.

Perempuan-perempuan full make up itu mungkin juga tidak sadar, kalau dirinya sedang terhegemoni. Mau bagaimana lagi?

Setiap hari, televisi dan reklame-reklame iklan di jalan menampilkan berbagai citra kecantikan perempuan yang ideal: kulit putih, alis tebal, bibir merona, rambut hitam legam. Mulai dari iklan produk kecantikan sampai iklan kompor. Mulai dari iklan obat masuk angin sampai minyak pijat.

Belum lagi endorse-endorse selebgram tentang produk kecantikan dengan testimoni yang bikin penasaran ingin coba. Bahkan, beberapa kali saya temukan ukhti-ukhti di Instagram yang bercadar mengunggah foto hasil riasan di daerah matanya.

Karena terus disodori iklan-iklan seperti itu, menjadi perempuan sesuai standar kecantikan yang berlaku adalah konvensi bersama yang diterima dengan wajar.

Nah sekarang, coba ingat-ingat lagi, kapan pertama kali iklan sabun cuci muka pria mulai hadir di televisi? Terlambat beberapa tahun dari iklan untuk perempuan.

Saya ingat sekali waktu SD belum menemukan iklan seperti itu nongol di layar kaca. Sepupu laki-laki saya sampai menggunakan produk cuci muka perempuan untuk atasi wajahnya yang berjerawat.

Lalu, mungkin akan timbul kejadian seperti ini: perempuan yang pakai make up tipis atau nggak pakai make up sama sekali saat wisuda akan dinyinyirin. Soalnya dulu saya pernah mengalami. Begini kira-kira percakapannya:

Saya: “Aku besok kalau wisuda mau make up sendiri aja. Yang sederhana aja gitu.”

Teman cowok: “Ya ampun! Acara sekali seumur hidup juga.”

Saya (dalam hati): “Hah, so what kalau cuma sekali seumur hidup? Muka, muka gue.”

Lalu, kalau yang cowok pakai make up, meski sedikit saja – misal, cuma pakai lip balm biar nggak kering bibirnya – bisa jadi langsung diketawain dan diejek ‘banci’ sama teman-temannya.

Meski begitu, penggambaran saya bisa jadi bukan kasus umum dan bisa dibantah. Batasan-batasan ini mungkin yang menyebabkan betapa jauhnya perbedaan fisik – terutama dandanan – antara laki-laki dan perempuan saat wisuda.

Mungkin juga karena euforia kelulusan begitu terasa, perempuan-perempuan ingin melakukan hal yang fun untuk menyambutnya. Berburu penyewaan atau bakul kebaya bersama-sama, hingga mungkin saling merekomendasikan salon yang ciamik.

Lagipula, saya juga yakin, model-model pria dewasa berotot di kemasan celana dalam atau susu khusus pria itu bisa jadi bentuk upaya menciptakan woman gaze. Atau, sekadar membentuk citra tubuh ideal seorang laki-laki?

Ya gitu deh.

Saya cuma berharap besok bisa datang ke acara wisuda, dimana cowok-cowoknya cakep, wangi, dan charming aja kok. Biar nggak bosan aja gitu…

  • Bener banget…
    pengalaman sendiri kliatannya 😀

  • Maulvi DM

    perempuan memakai makeup memang hal lumrah. jomplangnya adalah ketika mereka habis-habisan me-makeup penampilannya saat wisuda, bahkan untuk hal2 yang ndak bakal keliatan. Saya juga sering bertanya2, mengapa mereka riweuh sekali memilih kebaya yang notabene takkan terlihat dibalik toga yang menutupi segalanya itu. atau menghabiskan berjam2 untuk tata rambut yang ndak akan terlihat dibalik topi wisuda itu. Apakah ini jgn2 karena bentuk interaksi antar perempuan itu sendiri? Bagaimana mereka saling bersaing dan tidak mau terlihat kalah/berbeda? Ataukah karena perempuan lebih komunal dan realistis dalam memandang hidup, sehingga mereka lebih patuh pada aturan main?