Bagaimana Menyusun Daftar Maaf Tahun Ini?

Bagaimana Menyusun Daftar Maaf Tahun Ini?

Ilustrasi (vecteezy.com)

Meskipun tak serunyam perdebatan mengenai berapa jumlah rakaat salat tarawih yang benar, ritual meminta maaf juga sempat memunculkan polemik.

Sebagian orang meyakini bahwa sebelum berpuasalah waktu terbaik untuk saling memaafkan. Sementara sebagian yang lain berkeras menganggap Idul Fitri sebagai waktu yang paling pas, sebagaimana lazimnya.

Pada suatu waktu, kedua kubu ini pernah berdebat seru di beranda Facebook saya sedari awal hingga akhir Ramadan. Keduanya tampaknya lupa untuk saling memaafkan hingga berbulan-bulan kemudian.

Bila anda bertanya kepada saya mengenai waktu manakah yang lebih pas di antara keduanya, sudah pasti saya memilih yang pertama. Bagaimanapun, saya enggan diinterupsi dengan salam-salaman dan berbalas pesan ketika sedang menikmati opor ayam.

Karena itu, saat ini, saya sedang berusaha menyusun daftar yang berisi siapa saja yang harus saya maafkan dan mintai maaf. Sesuai jumlah baris pada kertas folio, ada 47 nomor yang saya siapkan untuk masing-masing kategori.

Nama pertama yang harus muncul pada dua kategori tersebut tentu saja nama saya sendiri. Itu kegiatan yang nyaris bersifat seremonial belaka. Meskipun saya telah meminta maaf atas kemalasan, kebebalan, dan sifat angin-anginan selama ini, nyatanya saya tetap akan mengulanginya pada tahun-tahun berikutnya.

Belasan nama berikutnya bermunculan tanpa perlu usaha keras. Sebagian besar berisi nama-nama anggota keluarga, yang berbagi hidup setiap hari dengan saya, sehingga otomatis sering saling menyakiti.

Sementara sisanya berisi nama-nama mantan, yang semuanya telah memutus kontak dengan saya, sehingga tak tahu harus dengan cara apa saya meminta dan menagih maaf.

Namun, daftar saya berhenti pada nomor 36. Persoalannya, saya tak tahu, di antara politisi dan orang-orang di dunia maya, siapakah yang pantas saya maafkan dan mintai maaf lebih dulu. Setahun belakangan, keduanya sama-sama menjengkelkan.

Bukan, tentu bukan anda netizen yang saya maksud. Anda, saya yakin sekali, adalah tipe orang yang berdebat dengan argumen dan bukannya dengan salakan. Anda tentu juga seorang yang membaca berita dengan kritis sebelum membagikannya.

Dan, anda pastilah menyadari bahwa menuding seseorang sebagai penghuni surga atau neraka secara serampangan adalah tindakan yang menggelikan sekaligus berbahaya.

Pokoknya, anda tak sama seperti mereka yang saya maksud, yang begitu degilnya hingga saya menduga bahwa mereka memiliki semua kelengkapan tubuh yang sehat dan utuh, kecuali otak.

Perihal politisi, hal terbaik yang bisa saya harapkan dari mereka adalah tidak membuat saya hipertensi, yang nyaris saja gagal bulan lalu. Keberadaan mereka seperti virus dengan daya sebar secepat kemampuannya memutasi diri, yang membuat vaksin apa pun menjadi sia-sia.

Mutasinya yang menjengkelkan terungkap oleh komisi anti-rasuah beberapa waktu lalu. Setelah bosan dengan nilai korupsi yang segitu-segitu saja sekian lama, mereka sukses mencatatkan sejarah baru dengan nilai korupsi hingga Rp 3 triliun pada proyek e-KTP. Tiga triliun!

Jika angka nol pada jumlah tiga triliun itu berdiameter sebesar satu meter, maka dibutuhkan bidang sepanjang lapangan voli untuk menuliskannya.

Dan, jika uang sejumlah itu dijajarkan satu per satu, dengan ukuran panjang uang 151 milimeter, maka hasil korupsi tersebut bisa mengelilingi bumi sebanyak 11.130 kali.

Dengan besarnya nilai yang digasak, kasus korupsi e-KTP itu barangkali patut dibuatkan monumen. Tak usah sebesar Monas, yang penting masyarakat bisa terus mengingat kekejian yang pernah dilakukan oleh politisi tamak, yang mereka pilih untuk menjadi wakil suara mereka di parlemen.

Namun, itu akan terlihat remeh bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh teman sejawat mereka pada Pilkada DKI Jakarta tempo hari. Jika biasanya politisi memainkan wacana untuk membentuk opini publik yang menguntungkan mereka, pada pilkada lalu politisi melakukan sesuatu yang lebih canggih.

Mereka menciptakan wacana agar publik membentuk opininya sendiri, sehingga publik tidak menyadari kalau sedang diperalat.

Analoginya kira-kira begini. Bila dulu politisi memantik api di pinggir hutan dan menyiramkan bensin di titik tertentu sembari membujuk orang-orang agar sudi melanjutkan pembakaran, maka yang dilakukan oleh politisi sekarang hanya menggelar seminar mengenai manfaat membakar hutan.

Dengan begitu, orang-orang itu sendirilah yang memantik api dan menyiramkan bensin, dan merasa bangga karena telah melakukan perbuatan yang mereka anggap benar seperti yang diseminarkan.

Tidak, saya tidak bisa memaafkan tindakan semacam itu. Tak ada tempat untuk politisi pada daftar maaf tahun ini, dan tidak juga untuk 10 tahun ke depan.

Maka, biarlah urutan ke-36 dihuni oleh teman-teman dunia maya. Juga di urutan berikutnya dan berikutnya, karena jumlah mereka ternyata banyak sekali.

Urutan selanjutnya juga agak dilematis: menteri yang mana dulu yang harus saya tulis?

Tapi, ah, tunggu dulu. Saya ingat kalau ada seorang menteri yang saya pergunjingkan lebih sering ketimbang jadwal salat. Seorang menteri yang berkali-kali menjadi sasaran kritik saya di pelbagai tulisan.

Seorang menteri yang tampaknya pantas untuk saya mintai maaf dengan cara bersimpuh. Dan menteri itu, siapa lagi kalau bukan menteri pendidikan.

Namun, menteri pendidikan memang pejabat yang menyebalkan sedari dulu. Ia, misalnya, tetap saja tak bisa memenuhi harapan minimum saya atas mutu pendidikan, meski harapan tersebut terus saya minimalisir setiap tahun.

Misalnya, saya menyadari kalau saya tak bisa lagi mengharapkan pembenahan sistem pembelajaran yang lebih bermutu dibandingkan bongkar-pasang kurikulum.

Saya juga tak boleh lagi mengharapkan siswa-siswi sekolah menjadi generasi yang melek baca, bukan sekadar melek huruf. Dan, saya pun sudah kehabisan energi untuk mengharapkan menteri pendidikan memahami apa tugas utamanya sebagai menteri pendidikan.

Kini, saya cuma berharap agar di seluruh negeri tidak ada lagi sekolah yang bangunan fisiknya menyerupai lokasi uji nyali. Tak masalah seremuk apa mutu pendidikannya, yang penting siswa bisa duduk di kursi yang layak, di belakang meja yang layak, dan di dalam kelas yang layak.

Di urutan selanjutnya, di bawah baris yang dihuni oleh nama-nama menteri dan petinggi daerah, tercatatlah presiden dan wakil presiden.

Biasanya, presiden dan wakilnya akan memohon maaf di layar kaca, entah pada iklan atau acara resmi kenegaraan. Tetapi, jauh-jauh hari saya sudah memaafkan mereka, bahkan jauh sebelum mereka dilantik.

Itu karena sedari dulu saya memahami bahwa tugas terbaik yang bisa dijalankan secara maksimal oleh pemimpin negara adalah memberi ujian kepada rakyatnya. Mencabut pelbagai subsidi, contohnya, atau membangun infrastruktur besar-besaran dengan mengorbankan penghidupan rakyat.

Dan, urutan terakhir menjadi milik anda. Sepenuh hati saya memohon maaf atas kekeliruan data, kesesatan pikir, dan kekurangcakapan lainnya yang muncul pada tulisan-tulisan saya selama setahun ini.

Barangkali itu membuat anda jengkel karena merasa telah membuang waktu secara sia-sia. Saya pun telah memaafkan kesalahan anda, apa pun itu. Semoga ibadah puasa tahun ini mampu mengubah anda menjadi pribadi yang lebih baik untuk seterusnya.

Tetaplah sehat, tetaplah waras…